Kamerad Vujovic, Abadilah dalam Ingatan Bobotoh!

Cerita

by Sigit Pramudya

Sigit Pramudya

Fisioterapis profesional. Anda bisa berkonsultasi dengan Sigit, terkait aspek kebugaran dan hal-hal terkait fisioterapi lainnya, melalui akun twitter: @sigitpramudya1.

Kamerad Vujovic, Abadilah dalam Ingatan Bobotoh!

“Goooool! Vladimir Vujovic menyamakan kedudukan menjadi satu-satu, Bung!“

Suara komentator laga semifinal ISL 2014 antara Arema vs Persib terdengar lantang melaporkan gol yang baru saja dicetak Vladimir Vujovic. Gol itu lahir dari situasi kemelut di depan gawang Arema yang dijaga Ahmad Kurniawan. Gol bermula dari sepak pojok Firman Utina yang sempat disundul Konate dan kemudian jatuh di depan Vujovic yang dengan sigap menendangnya dengan gerakan setengah menggunting.

Luapan emosi Sang Penjegal dari Balkan (begitu @simamaung menyebutnya) saat merayakan gol itu begitu berapi-api, layaknya tentara rakyat yang hendak merebut kembali kota Bandung dari penjajah. Foto perayaan gol Vujovic, dengan ekspresi berteriak sekencang-kencangnya, dengan urat di wajah yang semuanya seperti hendak meledak, yang berhasil diabadikan oleh fotografer simamaung, akan selalu dikenang oleh para bobotoh.

Setelah gol itu semuanya menjadi lebih mudah bagi Persib. Atep mencetak gol di menit pertama babak perpanjangan waktu. Konate menyempurnakan semuanya dengan gol di babak kedua perpanjangan waktu. 3-1 untuk Persib.

Itulah sepenggal kisah tentang Vladimir Vujivic di semifinal  ISL 2014. Itulah juga, setidaknya foto perayaan gol Vujovic itu, yang bisa menggambarkan keseluruhan ingatan bobotoh tentang Vujovic: berani, emosional, ekspresif, menggebu-gebu dan punya determinasi tak kenal habis untuk menang dan tak sudi dikalahkan.

Bobotoh tak akan pernah lupa bagaimana Vujovic sering naik ke pertahanan lawan. Determinasinya yang tak pernah sudi jadi pecundang, seringkali membimbingnya untuk – kadang – agak ceroboh naik ke daerah lawan. Kadang penonton berucap betapa Vujovic tidak percaya dengan rekan-rekannya di lini serang, terutama saat lini serang terlihat mandul mencetak gol.

Fans kesebelasan rival sudah pasti akan melihatnya sebagai sosok yang banyak omong, sok-sokan menggelar psy war, dan berani meledek lawan. Kadang itu dilakukannya melalui akun media sosial.

Tapi begitulah memang Vujovic yang justru akan selalu dikenang oleh para bobotoh.

Ia datang ke Bandung di bulan Desember 2013 dengan kesan pertama yang biasa-biasa saja. Bahkan teman saya, seorang bobotoh sejati, meragukan kemampuannya yang akan diberi tugas untuk menggantikan Abanda Herman. Karena sejatinya Vladimir terbiasa bermain diposisi gelandang bertahan di klub-klub sebelumnya.

Tes pertama terjadi ketika Vladimir ikut dalam pertandingan Persib melawan DC United. Meski Persib menang dengan skor 2-1, tapi performanya masih agak diragukan oleh teman saya dan mungkin oleh beberapa bobotoh lainnya.

Namun ternyata Dajdjang Nurdjaman mampu mebuktikan bahwa dia tidak asal merekrut pemain asing. Vladimir-lah salah satu dari tiga pemain asing yang membawa persib membuka puasa gelar selama 19 tahun dengan gol-gol krusialnya. Bukan Cabanas, Bekamenga, Radovic atau Cristian Gonzales, tapi Valdimir Vujovic (dan Konate Makan tentu saja)!

Otto Sya’ban/simamaung.com
Otto Sya’ban/simamaung.com

Selama berteman dengannya, saya anggap dia pemain asing yang tidak sombong. Saya dan pemain lainnya sering diminta bertandang ke rumahnya untuk menikmati pancake buatan istrinya,terkadang kita dibawakan pancake untuk hidangan makan malam di mess. Saya tak akan juga melupakan beberapa kali ajakannya untuk menyantap pizza. Juga keramahannya, serta canda-candanya.

Ketika  ISL 2014 selesai, dan Persib menjadi juara, saya bertanya pada Vladimir: ”Apa kamu mau bertahan di PERSIB?”. Dengan jawaban yang tegas dia bilang: “Ya!”.

Vladimir pun bercerita pada saya kalau dirinya ditawari bermain di dua klub Malaysia yaitu Trengganu FC dan Kelantan FA, tentunya dengan nilai kontrak yang lebih besar dari Persib Bandung. Saya bahkan membaca email penawaran kontrak dari kedua kesebelasan tersebut. Vujovic memperlihatkannya langsung kepada saya.

Tapi dia bilang saya lebih memilih Persib seandainya saya dipertahankan. Di saat pemain asing indonesia berbondong-bondong hijrah ke malaysia, dengan tegas dia tidak ingin mengikutinya.  Ternyata dia lebih memilih rasa nyaman dalam mencari nafkah (bermain bola). Dia merasa mempunyai banyak teman dan keakraban di tubuh Persib dan dia ingin dalam karirnya dapat dikenang oleh orang banyak dan kenangan manis dan baik dari bobotoh-lah yang dia harapkan.

Dia juga pernah berkata, sendainya saya lebih mementingkan materi maka saya akan menerima salah satu tawaran dari Malaysia. “Buat apa saya loyal terhadap Persib demi sebuah prestasi, toh saya sudah tidak mungkin lagi dipanggil timnas (Montenegro). Wajar saja sebenarnya pemain seperti saya lebih memilih materi daripada karir,” kata Vujovic lagi.

Tapi dia lebih memilih Persib Bandung.

Lalu sekarang pertanyaannya, salahkah keputusan Vladimir untuk bertahan di PERSIB di 2015? saya rasa tidak. Semua ini sudah ditakdirkan Sang Maha Kuasa. Ini memang jalan hidup yang sudah dipilih Vujovic. Justru dengan jalan seperti inilah seorang Valdimir Vujovic akan dikenang oleh banyak orang di Bandung dan Jawa Barat, terutama bobotoh di manapun berada. Meski belum tentu vladimir akan dikenang oleh banyak orang di negaranya.

Sehingga ketika pemain bola dapat dikenang sepanjang masa oleh suporternya, dan bahkan menjadi seorang legenda, maka bagi saya pemain itu telah berhasil mencapai puncak karirnya. Mungkin apa yang ada di pikiran Francesco Totti, Steven Gerrad, Del Pierro pula yang ada dalam pikiran Vladimir Vujovic.

Namun Vlado juga seoarang manusia biasa, seorang laki-laki yang harus menafkahi keluarganya. Sehingga di situasi sepakbola seperti sekarang, sangat wajar dia memilih bermain di klub selain Indonesia demi kelangsungan hidup dia dan keluarga.

Dan pada akhirnya saya sampaikan terima kasih Vlado atas beberapa coca-cola mu (yang sebenarnya saya tidak begitu suka dengan minuman itu). Terima kasih sudah menganggap saya sebagai teman baikmu. Terima kasih atas candamu, terima kasih atas gol-gol penting itu.

Kamu memang pemain asing di sini, tapi kamu bukan orang asing bagi kami dan kota Bandung.

Jika kelak kau pensiun sebagai pemain sepakbola, jangan khawatir dengan sejarah dan masa lalu. Percayalah, akan ada ribuan orang bobotoh yang akan mengenangmu. Sampai entah kelak di kemudian hari.

foto: persib.co.id

Komentar