Dramaturgi yang Melibatkan 4 Klub di Liga Adelante Spanyol

Cerita

by Randy Prasatya

Randy Prasatya

Everything you can imagine is real.

Dramaturgi yang Melibatkan 4 Klub di Liga Adelante Spanyol

Pengertian sederhana dramaturgi adalah alur emosi dalam sebuah cerita. Ada yang mengistilahkan dengan naik-turunnya plot, atau naik-turunnya alur cerita, atau sesuai dengan kata dasarnya “drama – dramatik” dapat diartikan dramaturgi adalah naik turunnya sensasi dramatik dalam sebuah cerita.

Jika kita sering menonton film, kita akan dapat menangkap apa itu dramaturgi dengan cukup mudah. Para sineas bisanya membuat adegan-adegan dalam alur cerita yang memancing emosi penonton dalam sebuah alur yang naik turun.

Dan sepakbola tak ubahnya seperti sebuah pertunjukan. Di atas lapangan kita akan banyak melihat adegan-adegan kontak fisik, saling menjatuhkan, berpura-pura kesakitan, dan masih banyak lagi. Hal tersebut dilakukan untuk mencapai satu tujuan. Yaitu kemenangan.

Namun setelah banyaknya adegan dalam sebuah “drama” di atas lapangan, hal itu bisa dikatakan selesai ketika peluit panjang berakhir. Segala kontak fisik bisa berubah menjadi sebuah jabat tangan dan pelukan mesra.  Atau bisa juga menjadi sebuah drama berbeda di lain tempat.

Seperti di pertandingan Liga Adelante (Segunda Division) yang terjadi di hari minggu (7/6). Saat itu liga yang berada satu tingkat di bawah La Liga sedang menggelar pertandingan terakhirnya. Pertandingan yang menghadirkan sebuah drama di masa injury time itu melibatkan Osasuna dengan Racing Santander, dua kesebelasan yang sedang berjuang menyelamatkan diri dari jurang degradasi. Sementara Girona ingin memastikan mendapatkan tiket promosi langsung ke La Liga musim depan.

Untuk Racing Santander, sebelum pertandingan di mulai, mereka berada di peringkat 19 dengan 41 poin. Sedangkan Osasuna berada satu tingkat di atas Santander dengan poin 44. Sedikit berat memang beban Santander untuk dapat lolos dari jurang degradasi. Selain meraih kemenangan, Santander juga harus berharap Osasuna takluk di kandang Sabadell.

Sebagai catatan, Liga Adelante menganut sistem head to head jika ada kesebelasan yang meraih poin sama di akhir kompetisi. Dan jika Santander dan Osasuna memilik poin sama, maka Osasuna yang harus terdegradasi ke Segunda B. Sebab, Santander unggul head to head dari Osasuna dengan dua kali menang saat keduanya saling berhadapan pada musim ini.

Klasemen pekan 41
Klasemen sebelum pertandingan dimulai

Namun harapan itu tetap ada. Dalam sepakbola sebagian orang masih memandang tidak ada hal yang tidak mungkin. Dan benar saja. Ketika pertandingan baru berjalan enam menit, Osasuna sudah tertinggal 1-0 dari tuan rumah melalui gol Juan Jose Collantes.

Sontak official Santander pun mengabarkan hasil sementara tersebut ke sang pelatih. Sejak saat itu pun Santander semakin menggila untuk dapat membobol gawang tuan rumah Albacete. Namun berbagai serangan yang dilakukan Santander tidak kunjung menghasilkan gol, dan justru mereka malah kembali mendengar kabar gembira ketika Osasuna tertinggal 2-0 melalui gol Anibal Zurdo Rodriguez di menit 17. Tentu saja itu semakin menambah gairah para pemain Santander di dalam lapangan dan mempercepat laju degup jantuk kubu Osasuna sembari melirik hasil pertandingan Santander.

Sadar telah tertinggal 2-0. Pelatih Osasuna, Enrique Martin, pun langsung melakukan perubahan cepat dengan menarik Vujadinovic selaku pemain belakang dan memasukan Cedrick selaku pemain tipikal playmaker.

Dengan perubahan tersebut, Osasuna berbalik memegang kendali permainan. Cedrick mampu memberikan nuansa baru dalam variasi serangan. Namun selama mengambil alih kendali permainan, Osasuna harus mengalami tekanan yang teramat berat. Mereka harus tertarik ke dalam zona degradasi untuk sementara waktu. Sebab di tempat lain Santander justru mampu memecah kebuntuan melalui gol Alvaro Garcia yang dicetak pada menit 32.

Posisi klasemen pun untuk sementara waktu berubah. Santander keluar dari zona degradasi dan pendukung Osasuna dibuat cemas untuk saat itu.

Seme tara di tempat lain terjadi pertarungan yang berbeda yaitu perebutan tiket promosi langsung ke La Liga, Girona yang sebelum pertandingan dimulai berada di posisi kedua klasemen dengan poin 81, harus meraih kemenangan untuk memupuskan harapan Sporting Gijon meraih tiket promosi langsung ke La Liga. Gijon sendiri sebelum pertandingan dimulai dituntut main habis-habisan sebab mereka hanya mengoleksi 79 poin dan mereka mengharapkan Girona gagal meraih kemenangan di kandang Lugo. Gijon harus mengalahkan Real Betis.

Dan saat pertandingan memasuki menit ke 24, Gijon mampu membuat seluruh orang yang terkait dengan Girona merasa was-was ketika pemain mereka Guerrero membobol gawang Real Betis. Seluruh pendukung Gijon bersorak dan melompat merayakan gol tersebut.

Namun, kegembiraan mereka hanya bertahan 20 menit. Sebeb, di tempat lain, Girona juga mampu mencetak gol ke gawang Lugo melalui usaha Francisco Sandaza. Kedudukan 1-0 untuk Girona pun cukup membuat pendukung Gijon merasa gelisah meskipun mereka telah unggul 3-0 hingga menit 68 melalui dua gol tambahan yang dicetak Jony dan Isma Lopez. Akan tetapi, skor 3-0 yang sedang diraih Gijon setidaknya membuat Girona bermain lebih tertekan. Sebab ada satu kemungkinan jika mereka menganggap sang rival sudah pasti menang dengan kedudukan 3-0.

Sedangkan untuk Girona sudah sangat jelas. Skor 1-0 bukanlah skor yang aman. Sedangkan lawan mereka di atas lapangan, Lugo, seperti tidak ingin mempermudah jalan Girona menuju La Liga. Setidaknya itu terlihat ketika mereka mengganti 3 pemain di waktu yang berdekatan serta menarik satu pemain bertahan dengan menambah pemain tengah. Hingga pertandingan mendekati menit 90, suasanan hati pendukung Girona dibuat naik turun oleh para pemain Lugo. Bahkan tak jarang ada pendukung Girona yang menguncupkan tangan dengan meletakan di antara ujung hidung dan ujung bibir seperti hendak memohon kemenangan.

Begitupun dengan pendukung Osasuna. Tertinggal 2-0 bukanlah hal yang sepele untuk menyelamatkan diri dari zona degradasi. Pergantian demi pergantian sudah dilakukan Osasuna. Tapi tak satu pun dari hasil tiga pergantian pemain membuahkan hasil. Justru di lain tempat Santander masih mampu mengamankan keunggulan 1-0.

Tapi sedikit harapan mulai muncul setelah Osasuna mampu memperkecil ketertinggalan menjadi 2-1 melalui gol David Garcia di menit 78. Mereka pun masih berharap di sisa 12 menit pertandingan. Namun di lain tempat Santander justru menambah pemain bertahannya dengan menarik pemain tengah. Mereka seperti ingin bertahan dengan hasil 1-0 dengan berharap Osasuna tetap takluk di kandang Sabadell.

Detik-detik Drama Itu Terjadi

Di tempat Gijon, Girona, Santander, dan Osasuna bermain, pertandingan telah memasuki menit-menit akhir. Keempat suasana tempat pun semakin mencekam untuk keempat kesebelasan tersebut. Namun hanya di Gijon yang suasananya begitu mencekam, seperti berpasrah diri untuk mengikuti fase play-off demi meraih tiket promosi. Dan perjuangan untuk mencetak gol hanya terjadi di Osasuna, sedangkan Girona dan Santander terus berjuang mempertahankan skor 1-0 mereka.

Pertandingan Albacete vs Santander pun berakhir 1-0 untuk kemenangan Santander. Namun mereka belum menerima hasil akhir Osasuna yang bertandang ke Sabadell. Para pemain masih menunggu dengan penuh harapan skor 2-1 untuk Sabadell tidak berubah.

Namun selang satu menit setelah kemudian, para pemain dan pendukung Santander harus tertunduk lesu. Pasalnya ditempat lain Osasuna mampu menyamakan kedudukan menjadi 2-2 setelah Javier Flano mencetak gol di akhir pertandingan. Mereka yang di kubu Santander pun tertunduk lesu sembari memegang kepala mereka seakan tak percaya jika Osasuna mencetak gol di akhir pertandingan.

Dan untuk Gijon, Mereka telah mengakhiri pertandingan terlebih dahul. Sebagaian pemain ada yang yang telah merapat ke arah tribun penonton untuk mengucapkan terimakasih. Harapan berjuang ke La Liga melalui babak play off tentu masih ada. Sebab mereka semua menyadari jika Girona telah unggul 1-0 dan seperti akan mengakhiri pertandingan dengan kemenangan.

Tapi keajaiban datang. Speaker stadion mengumumkan jika hasil Girona berubah menjadi 1-1 melalui gol Pablo Nicolas Caballero di menit 91. Seluruh pemain dan pendukung Gijon pun bersorak, melompat dan berlari ke arah pemain yang berada di pinggir lapangan. Mereka semua saling berpelukan saling membagi kebahagiaan.

CG-p3iUUIAARvJW
Reaksi pemain Girona ketika kebobolan di menit akhir

Di lain tempat, seluruh pemain dan pendukung Girona pun seolah tak percaya. Sebelumnya mereka telah bersiap untuk berpesta ketika papan yang diangkat oleh wasit menunjukan waktu tambahan 4 menit. Tapi Girona terus mencoba kembali mencetak gol di sisa waktu. Dan ketika pertandingan menyisakan 40 detik, Florian Lejeune berhasil mencetak gol dan membawa Girona memimpin. Akan tetapi gol itu dianulir karena hakim garis mengangkat bendera tanda terjadi offside. Kejadian ini lantas membuat sang wasit terkena lemparan dari tribun pendukung Girona yang kesal.

Namun setiap lemparan yang dilayangkan pendukung Girona tak mampu mengubah hasi pertandingan. Para pemain dan pendukung pun tertunduk lesu ketika hakim garis meniupkan peluit panjang. Untuk pendukung yang tak puas dengan keputusan wasit, mereka mengejar sang pengadil sampai ke lorong ruang ganti. Tensi semakin menegang di sela-sela kesedihan.

Drama pun terjadi di Minggu sore. Tensi 90 menit dibuat campur aduk, kemenangan dan kepasarahan pun saling berubah di minggu sore itu. Air mata juga menghiasi kekecewaan dan kesenangan di Minggu sore untuk keempat kesebelasan tersebut.

Empat laga yang dahsyat untuk sebuah akhir musim di suatu akhir pekan.

klasemen akhir
Klasemen akhir Segunda Divison



Komentar