Seburuk Itukah Benitez untuk Madrid?

Cerita

by Abimanyu Bimantoro

Abimanyu Bimantoro

Football Analyst | Promising Sports Brand Strategist | Liverpool #YNWA

Seburuk Itukah Benitez untuk Madrid?

Rafael Benitez akhirnya ditunjuk menjadi manajer Real Madrid untuk musim depan pada Rabu (3/6) kemarin. Sebelumnya, Presiden Real Madrid, Florentino Perez, telah lebih dulu memecat Carlo Ancelotti yang sudah menjabat sebagai manajer Real Madrid sejak 2013.

Perez sebenarnya sudah sejak lama ingin mendatangkan Benitez ke Real Madrid. Semasa masih melatih Liverpool pun, Perez sudah membujuk Benitez. Kali ini, keinginan Perez benar-benar terwujud.

Bagi Benitez, melatih Real Madrid merupakan mimpi yang terwujud. Madrid adalah kota kelahirannya dan Real Madrid adalah tempatnya belajar sepakbola saat masih kecil. Ia bergabung dengan Real Madrid Castilla sejak 1974 hingga 1981. Kemudian, karirnya sebagai pemain tidak begitu cemerlang hingga ia gagal masuk ke tim utama Real Madrid. Cedera membuat karirnya sebagai pemain semakin memburuk hingga akhirnya ia pensiun pada usia 26.

Pro dan kontra pun bermunculan soal penunjukan Rafael Benitez sebagai manajer Real Madrid ini. Meski memiliki sejumlah prestasi di Eripa, Benitez dinilai tidak layak menangani Madrid untuk saat ini. Dalam beberapa tahun terakhir, Benitez dinilai tidak menunjukkan prestasi yang membanggakan. Bersama Napoli, ia hanya berhasil memenangkan Coppa Italia pada 2014. Ditambah lagi, Benitez juga memiliki catatan yang buruk saat menangani Inter Milan pada 2010. Ketika itu, Inter Milan terpuruk di bawah arahan Benitez padahal setahun sebelumnya Inter adalah juara Liga Champions.

Hal inilah yang kemudian membuat beberapa pendukung Real Madrid kecewa atas penunjukan Benitez ini. Namun apakah benar Benitez seburuk itu bagi Real Madrid? Benarkah pelatih yang sudah diincar Florentino Perez sejak 7 tahun lalu sama sekali tidak layak di Real Madrid? Tidak adakah satu kelebihan yang bisa ditawarkan Benitez bagi Real Madrid?

Pada dasarnya Benitez bukan pelatih yang terlalu buruk. Mungkin pendukung Liverpool bisa menceritakan bagaimana Benitez membuat mereka bersorak dulu. Meski memang, prestasi Benitez seringkali tidak konsisten. Terkadang ia membuat satu keputusan taktikal yang jenius, terkadang ia membuat blunder besar yang membuat klubnya terpuruk.

Tidak konsistennya Benitez sebenarnya disebabkan oleh kegemarannya dalam merotasi para pemain. Benitez memang dikenal sebagai pelatih yang sering melakukan rotasi pemain, terlebih saat jadwal pertandingan sedang padat. Tidak peduli apakah kualitas pemain cadangannya lebih jelek, tapi ketika ia merasa pemain utamanya sedang tidak dalam kondisi 100%, ia cenderung untuk memilih menurunkan pemain cadangan.

Saat menangani Napoli musim lalu, Benitez benar-benar memanfaatkan seluruh pemain yang dimilikinya. Jika kita lihat jumlah bermain 25 pemain Napoli yang ada, hampir semua pemain setidanya merasakan 7 kali pertandingan. Hanya Michu, dan pemain muda, Sebastiano Luperto, yang hanya bermain dalam 2 pertandingan.

Kebiasaan Benitez ini memang memberikan dampak buruk ketika kualitas pemain inti dengan pemain cadangan terlampau jauh berbeda. Permainan tim sedikit banyak akan terpengaruh ketika Benitez memutuskan untuk memainkan pemain-pemain cadangan yang sedang dirotasi. Hal inilah yang kemudian membuat Benitez seringkali tidak stabil.

Namun, dampak buruk tersebut mungkin tidak akan berlakuk bagi Real Madrid. Seperti yang kita ketahui, kualitas pemain inti dengan pemain cadangan Real Madrid sangat luar biasa. Kualitas pemain cadangan Madrid pun tetap tidak bisa dianggap remeh. Tidak sedikit pemain yang hanya menjadi cadangan di Real Madrid kemudian menjadi pemain andalan saat pindah ke klub lain.

Maka kegemaran Benitez merotasi pemain mungkin justru akan membuat Madrid bisa memaksimalkan potensi keseluruhan skuat yang ada di Madrid. Hal ini juga akan bisa menjadi solusi Real Madrid yang sering menyianyiakan talent berbakatnya. Permasalahan soal pemain Real Madrid yang kecewa karena kekurangan waktu bermain mungkin bisa diselesaikan oleh Benitez.

Selain itu Benitez juga merupakan pelatih yang bisa menyesuaikan strategi dalam berbagai kondisi. Ia tidak memegang filosofi tertentu yang dipakai kapanpun dan saat melawan siapapun. Ia cenderung lebih senang mengubah-ubah strategi untuk menyesuaikan dengan kondisi pemain yang ada dan kondisi lawan yang dihadapi.

Karena itulah sebenarnya Benitez tidak buruk-buruk amat bagi Real Madrid. Meski namanya memang tidak sebesar nama-nama lain yang pernah menangani Real Madrid sebelumnya. Namun tetap ada nilai tambah yang bisa diberikan Benitez kepada Real Madrid.

Namun, kita tidak pernah tahu  apa yang akan dilakukan dan dirasakan Cristiano Ronaldo saat dirinya dirotasi.

Komentar