Cerita

by Dex Glenniza

Dex Glenniza

Your personal football analyst. Contributor of Pandit Football Indonesia, manager of Box2Box Media Network, podcaster of Footballieur, creative writer of Tirto.ID, MSc sport science, BSc architecture, licensed football coach... Who cares anyway! @dexglenniza

Bagi saya yang merupakan #Generasi90an, tahun 1990-an itu rasanya seperti baru kemarin... yah tidak sampai 10 tahun, lah, kira-kira. Meskipun pada kenyataannya tahun 1990 itu adalah dua setengah dekade yang lalu, tapi waktu rasanya berjalan (terlalu) cepat.

Begitupun di dunia sepakbola. Rasanya baru kemarin David Beckham melakukan debut di Manchester United, kemudian mencetak gol legendaris dari tengah lapangan ke gawang Wimbledon, tapi sekarang ia bahkan sudah tidak bermain lagi.

Jika kita menengok kembali ke tahun 2004, lagi-lagi bagi saya pribadi itu rasanya seperti baru tahun lalu, padahal sudah 11 tahun yang lalu; sepakbola berlalu begitu cepat. Kejayaan seolah sirna, pun kekalahan menyublim dan dengan cepat terlupakan.

Mari cukupkan flashback manja di atas untuk membicarakan sebuah kesebelasan asal Jerman, Fußball-Club Ingolstadt 04 e.V. Siapa, sih, mereka?

Bagi sepakbola, FC Ingolstadt 04 bak anak kemarin sore. Angka 04 di nama kesebelasan mereka bukan lah menandakan tahun kelahiran 1904 (seperti angka 04 pada FC Schalke 04). Pada kenyataannya, kesebelasan ini baru berdiri sejak 2004.

Satu hal yang mengejutkan menjelang akhir musim ini, “si anak kemarin sore” itu baru saja promosi ke Bundesliga Jerman, kompetisi liga tertinggi di negara juara Piala Dunia 2014 tersebut, dan bukan kepalang: mereka baru pertama kalinya promosi ke Bundesliga!

Sepanjang sejarahnya, ini adalah pertama kalinya untuk Ingolstadt. Tak heran, karena sejarah mereka memang tidak terlalu panjang. Sejarah mereka baru mereka bangun hanya sedikit lebih lama dari 16 tahun yang lalu, atau tepatnya pada 5 Februari 2004.

Sekilas mengenai Kota Ingolstadt

Sama seperti kesebelasannya, Kota Ingolstadt adalah yang paling bungsu dari semua kota besar di Jerman. Jumlah penduduk mereka pada 1989 hanya berjumlah 100.000 penduduk, tapi populasi kota ini telah tumbuh sekitar 27.000 sejak saat itu.

Kota yang terletak di bentangan Sungai Danube ini berjarak sekitar 80 kilometer ke arah utara dari ibukota Bavaria, Munich. Kota ini masih merupakan bagian dari Bavaria sehingga kita bisa menjumpai derby Bavaria di musim depan melawan FC Bayern Munich.

Produsen mobil Audi, yang merupakan sponsor utama kesebelasan ini, memiliki markas di Kota Ingolstadt. Kota ini juga menjadi latar dari novel Mary Shelley yang terkenal, Frankenstein.

Sejarah singkat FC Ingolsadt

Sub-judul “sejarah singkat” terasa sangat tepat karena kesebelasan ini baru didirikan pada tahun 2004 dari penggabungan atau merjer dari dua kesebelasan ESV Ingolstadt dan MTV Ingolstadt.

ESV berdiri pada 1919, sementara MTV (bukan merujuk kepada stasiun televisi musik yang satu itu) berdiri pada 1881. Keduanya mengalami kebangkrutan pada 2004 untuk ber-fusion menjadi kesebelasan yang kita akan bahas: FC Ingolstadt 04.

Pada musim 2004-05, FC Ingolstadt (selanjutnya akan kami sebut Ingolstadt saja) mulai bermain di Oberliga Bayern (IV) dan secara luar biasa mampu meraih peringkat ke dua di musim pertama mereka.

Keberhasilan mereka berlanjut pada 2005-06 ketika mereka dengan mudah merebut gelar divisi dan memenangkan promosi. Mereka menyelesaikan debut mereka di Regionalliga Süd (III) 2006-07 dengan hasil tempat ke lima.

Restrukturisasi liga direncanakan untuk musim 2008-09 dengan pemberlakuan divisi 3 nasional dan Ingolstadt harus menyelesaikan Regionaliga 2007-08 mereka di atas posisi 10 untuk memenuhi syarat. Mereka melampaui tujuan tersebut dengan menyelesaikan musim pada peringkat ke dua dan melaju ke 2. Fußball-Bundesliga.

Perjalanan turun-naik sampai akhirnya ke Bundesliga

Ingolstadt memenangkan laga debut divisi ke dua, tapi performa mereka terus menurun sehingga mereka menyelesaikan musim di tempat ke-17 dan kemudian harus turun ke 3. Liga (divisi di bawah 2. Bundesliga).

Kesebelasan berjuluk Die Schanzer ini bermain stabil dan mengakhiri musim berikutnya di tempat ke tiga. Sebuah format promosi-degradasi yang baru diperkenalkan juga kepada 3. Liga dan mereka harus melakukan play-off melawan FC Hansa Rostock yang menduduki peringkat 16 (ke tiga dari bawah) di 2. Bundesliga.

Ingolstadt memenangkan pertandingan di kedua leg dan kembali ke divisi dua bersama dua tim teratas di 3. Liga yang promosi secara otomatis.

Pada 17 Mei 2015, atau akhir pekan yang lalu, mereka menang 2-1 atas Red Bull Leipzig sehingga berhasil merebut gelar juara 2. Bundesliga musim 2014-15 dan memenangkan promosi untuk pertama kalinya dalam sejarah mereka ke Bundesliga.

Benteng, “Schanzer”, naga, dan suporter Ingolstadt

Julukan Die Schanzer berakar pada sejarah kota. Ketika Ingolstadt menjadi benteng pada tahun 1806, kota ini mendapat istilah Schanz yang berarti “bercokol”, “tertanam”, atau “mengakar”. Kata ini berasal dari kata verschanzen dalam Bahasa Jerman yang berarti “membentengi”.

Penduduk asli Ingolstadt juga dikenal dengan istilah Schanzer, yang juga tertulis jelas pada lambang mereka.

Tak jauh dari kata di atas, Ingolstadt memiliki “Schanzi”, seeokor naga merah yang telah menjadi maskot resmi sejak 2012. Dia melambangkan masa bersejarah kota, dengan naga yang ditampilkan pada lambang kesebelasan mencerminkan kedigdayaan benteng Ingolstadt selama berabad-abad, terutama pada 1632 ketika mereka selamat dari pengepungan tentara Swedia.

Meskipun merupakan kesebelasan baru, basis penggemar Ingolstadt telah berkembang pesat. Tercatat, sekitar 4.000 penonton menyaksikan laga perdana mereka. Sekarang, lebih dari 15.000 suporter hadir di setiap pertandingan kandang di Audi Sportpark.

Stadion Audi Sportpark dibuka pada 24 Juli 2010 setelah 14 bulan masa konstruksi. Stadion ini memiliki kapasitas 15.700 penonton, dengan 6.000 di antaranya merupakan tribun berdiri yang marak di Jerman.

Sebelum membangun Audi Sportpark, mereka bermain di Stadion ESV yang merupakan markas dari kesebelasan nenek moyang mereka (ESV Ingolstadt) sampai awal Agustus 2010.

Saat ini Ingolstadt memiliki 39.000 penggemar di Facebook, tentunya masih kalah jauh dari Cristiano Ronaldo yang memiliki likes di atas seratus juta, dan memiliki sekitar 27.000 pengikut (follower) di Twitter.

Prediksi nasib mereka di Bundesliga musim depan

Kesebelasan ini pernah dilatih oleh Thorsten Fink, mantan pemain Bayern Munich. Namun pada musim ini, Ralph Hasenhüttl menjadi otak dibalik kecemerlangan Ingolstadt di 2. Bundesliga.

Ini kali kedua Hasenhüttl mencapai promosi dalam karir kepelatihannya. Manajer berusia 47 tahun ini menyelamatkan VfR Aalen dari degradasi ke tingkat ke empat pada 2011. Akhirnya ia berhasil membawa Aalen ke 2. Bundesliga setahun kemudian.

Dia memimpin Ingolstadt ke posisi ke sepuluh di musim pertamanya, sebelum meraih promosi pada musim ini.

Pemain bintang mereka pada musim ini, menurut situs resmi Bundesliga, adalah Pascal Groß. Mantan pemain binaan TSG 1899 Hoffenheim dan kesebelasan negara Jerman U-18 ini sudah bergabung dengan Ingolstadt sejak 2012.

Sementara itu, pemain mereka yang paling banyak memiliki jumlah pertandingan adalah gelandang Kamerun kelahiran Jerman, Marvin Matip, yang sudah memainkan 149 pertandingan.

Saudara dari Joel Matip (Schalke 04) dan juga sepupu Joseph-Désiré Job ini bergabung dengan Ingolstadt sejak 2010.

Die Schanzer memiliki Mathew Leckie yang merupakan pemain Piala Dunia bersama sangara Australia. Ini adalah musim pertamanya di Ingolstadt sejak ia pindah dari FSV Frankfurt pada musim panas yang lalu.

Selain dari nama-nama di atas, yang sayangnya agak asing, tidak ada pemain bintang di kesebelasan ini. Rekor mereka di 2. Bundesliga juga bisa dinilai tidak terlalu baik, dengan 115 kemenangan dan 154 kekalahan dari total 358 pertandingan.

Meskipun berstatus sebagai juara 2. Bundesliga, ini tak akan menjamin mereka untuk bisa menjadi “tim kejutan” yang benar-benar mengejutkan di musim depan di Bundesliga.

Persaingan promosi-degradasi di Jerman masih sengit

2. Bundesliga dan juga Bundesliga masih menyisakan satu pertandingan sisa pada akhir pekan ini. Ingolstadt memimpin dengan 63 poin, di bawah mereka masih ada SV Darmstadt 98 (56 poin), Karlsruher SC (55), dan 1. FC Kaiserslautern (55) yang memperebutkan satu jatah promosi otomatis dan satu jatah pertandingan play-off menghadapi peringkat 16 (atau ke tiga dari bawah) Bundesliga.

Darmstadt akan berhadapan dengan FC St. Pauli di kandang mereka sendiri. Karlsruher akan menjadi tuan rumah untuk lawan mereka, TSV 1860 München, yang malah terancam terdegradasi ke 3. Liga.

Sementara Kaiserslautern harus menghadapi sang juara, Ingolstadt, di kandang mereka sendiri.

Kemudian jika kita menengok sejenak ke atas ke Bundesliga, ada 6 kesebelasan yang masih bisa degradasi, play-off, maupun selamat dari degradasi. Peringkat 17 dan 18 akan langsung terdegradasi, sementara peringkat 16 menjalani play-off dengan kesebelasan pemenang berhak berlaga di Bundesliga musim depan.

SC Paderborn 07 berada di juru kunci dengan 31 poin, tapi masih bisa selamat dari degradasi. Satu kesebelasan yang mengejutkan adalah Hamburger SV yang berada di atas mereka dengan 32 poin.

Nasib Paderborn akan ditentukan dengan sangat sengit dengan lawan mereka yang bertamu di akhir pekan nanti, VfB Stuttgart, yang bercokol di peringkat ke-16 dengan 53 poin.

Tidak bisa ongkang-ongkang kaki, Hertha BSC (35 poin), SC Freiburg (34), dan Hannover 96 (34) juga was-was di pekan terakhir Bundeliga nanti.

Hertha Berlin harus bertamu ke Hoffenheim, pertandingan sengit juga akan mempertemukan tuan rumah Hannover menghadapi Freiburg, sementara Hamburg akan menjadi tuan rumah menghadapi Schalke yang butuh hasil positif untuk lolos langsung ke Liga Europa UEFA agar tidak terkejar oleh FC Augsburg.

Kita nantikan bagaimana hasil promosi-degradasi(-playoff) di pekan terakhir Bundesliga yang akan berlangsung Sabtu (23/05/2015) pukul 20:30 WIB. Dengan 8 paragraf di atas, rasanya kita sudah paham betul bahwa sepakbola merupakan sebuah drama.

Cerita tim promosi-degradasi terkait:

(Italia) Gempa Bumi, Kebangkrutan, dan Perjuangan Carpi dari Titik Nol

(Belanda) Promosi ke Eredivisie, NEC Andalkan Pemain Keturunan Maluku

(Belanda) Kedigdayaan NEC Nijmegen di Jupiler League

(Inggris) AFC Bournemouth: Dongeng, Kejutan, dan Kisah Lucu dari Pantai Selatan

(Inggris) Dari Pra-Musim yang Penuh Ironi, Blackpool Akhirnya Terdegradasi

(Inggris) Mimpi-mimpi Wigan yang Terbang Menjauh

(Global) Degradasi Karena Kecilnya Gaji


Sumber: Bundesliga, DW, Vavel

Komentar