Mewajarkan Kehebatan Messi

Cerita

by Frasetya Vady Aditya

Frasetya Vady Aditya

Penyunting. Jangan terkekang; sepakbola cuma cangkang. Kontak: vady.aditya@gmail.com

Mewajarkan Kehebatan Messi

Dalam hidup selalu ada ungkapan “siapa yang bekerja keras maka dia yang berhasil”. Maka, jangan tanya mengapa Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi begitu perkasa di sepakbola. Bahkan, tidak sedikit yang menganggap kalau keduanya adalah pesepakbola terbaik dalam satu dekade terakhir ini.

Dalam Messi: A Biography sang penulis, Leonardo Faccio, menggambarkan bagaimana antusiasme Messi terhadap sepakbola. Ia sepertinya sulit untuk melepaskan diri dari olahraga tersebut. Messi menganggap bahwa sepakbola bukanlah pekerjaan, melainkan kebutuhan yang sudah menjadi rutinitas.

Faccio bercerita kalau ia bertemu dengan Messi di pusat latihan Barcelona. Kala itu, lapangan latihan Barcelona sepi karena memang para penggawa El Barca masih dalam masa liburan. Messi sendiri baru pulang dari Rosario, kampung halamannya. Ia mengaku lelah karena tidak melakukan apa-apa di Rosario.

Beberapa hari sebelumnya, usai tur Amerika bersama Barcelona, Messi mengajak keluarga besarnya bermain di Disney World. Ia membawa serta orang tua, saudara, paman, keponakan, sepupu, dan kekasihnya.

“(Aku suka) wahana air, taman, dan wahana. Semuanya. Daripada itu, aku ke sini karena sepupu, keponakan, dan adik perempuanku. Namun, saat aku kecil, aku selalu ingin ke sini,” tutur Messi.

Usai dari Disney World, Messi pun pulang ke Rosario, tapi tidak lama. Ia sebenarnya bisa kembali berlibur di Karibia ataupun di Ibiza. Namun, Messi memesan tiket langsung ke Barcelona karena tujuan yang ada di pikirannya hanyalah Ciutat Esportiva, pusat pelatihan Barcelona. Dengan berlatih, Messi ingin segera kembali dalam kondisi terbaiknya.

“Saat aku kembali ke Rosario, aku mencintainya. Aku memiliki rumah, orang-orang yang aku cintai, semuanya. Namun, itu jadi melelahkan karena aku tidak melakukan apa-apa. Aku hanya duduk-duduk sepanjang waktu dan perlahan membuatku bosan,” kata Messi dalam Messi: A Biography.

Kesungguhan pemain bernomor puunggung 10 itu dalam berlatih tidak lepas dari kekurangan fisiknya yang di masa kecil. Dibandingkan dengan rekan-rekannya yang lain, Messi terlambat tumbuh karena masalah hormon. Beberapa bulan lalu, Messi pernah terkena penyakit Gastrosentis yakni penyakit flu perut. Salah satu kehebatannya adalah saat melakukan penalti panenka yang dipuji oleh si empunya penalti tersebut dan dianggap sebagai yang terbaik.

Faccio sendiri menggambarkan perbedaan Messi saat menjawab pertanyaan demi pertanyaan. Ketika Faccio mengajukan pertanyaan tentang sepakbola, Messi langsung menunjukkan mimik serius.

“Senyumnya menghilang dan dia menjadi serius seperti saat akan menendang tendangan penalti. Wajahnya terlihat waspada seperti yang biasa kita lihat di televisi. Messi jarang tersenyum saat bermain,” tulis Faccio.

Hal ini bukannya tanpa alasan. Faccio menganggap bahwa bisnis di sepakbola memang benar-benar serius. Sepakbola adalah olahraga paling populer di dunia, dan Messi adalah bintangnya. Berdasarkan penelitian, Messi adalah pemain termahal di dunia.

Tidak banyak yang dilakukan dalam kehidupan Messi setelah mengenal sepakbola dan Barcelona. Ia mendedikasikan hidupnya untuk berlatih demi mendapatkan kondisi terbaik. Ia jarang pergi ke klub malam untuk bersenang-senang. “Saat malam tiba, aku tak tahu... Aku (biasanya) pergi makan malam dengan kakakku,” kata Messi.

Ini wajar karena ia selalu mengisi harinya dengan ritual usai berlatih yang selalu dilakukan sedari kecil. Biasanya, usai berlatih, Messi pulang lalu makan. Setelah itu, tidur untuk dua hingga tiga jam. Faccio sendiri menyamakan kebiasaan Messi dengan pencetak rekor peraih medali olimpiade terbanyak cabang renang, Michael Phelps, yang selalu tidur dua hingga tiga jam usai berlatih. Menurutnya, ritual tersebut mampu meregenerasi sel-sel serta memulihkan kondisi fisik yang lelah usah berlatih.

Dulu, Messi tidur untuk membantunya tumbuh. Kini, ia tak perlu lagi hal itu. Pesepakbola 27 tahun ini tidur karena menganggap tidak ada hal penting lain untuk dilakukan.

“Mengambil waktu liburan adalah cara lain untuk mengganggunya, dan itu juga membuatnya bosan,” tulis Faccio, “The Siesta (tidur setelah berlatih) akan menjadi antidot-nya. Tidak ada yang bosan saat tertidur.”

Karena tidurnya itu, mantan pelatih Messi di Argentina, Diego Maradona, bahkan sempat mengeluh karena sering sulit menghubungi Messi lewat telefon. “Meminta Messi mengangkat telefon jauh lebih sulit ketimbang mewawancarai Tuhan,” tutur Maradona.

Apa yang dilakukan Messi merupakan buah dari apa yang telah ia lakukan sedari dulu. Bahkan ia “mengorbankan” masa kecilnya demi sepakbola; satu hal yang ia cintai, satu hal yang membuatnya dicintai. Kini, saking banyaknya gol yang ia cetak, ia bahkan tidak bisa mengingatnya satu persatu.

Saat ditanya soal siapa karakter favoritnya di Disney, Messi mengangkat bahu. “Saat kecil, aku tidak pernah benar-benar menonton kartun. Aku (pun) ke sini karena bermain sepakbola,” tutur pesepakbola yang pernah dididik di akademi Newell's Old Boys tersebut.

Sulit untuk tidak membandingkan Messi dengan Ronaldo. Namun, keduanya jelas punya persamaan: pekerja keras. Apapun itu, tidak perlu menaikkan alis tanda tak setuju kalau Messi memang benar-benar hebat.

Disadur dari Messi: A Biography karya Leonardo Faccio diterbitkan Anchor Books: New York, Amerika Serikat.

Komentar