Model Sepakbola dan Lethal Weapon yang Menyadarkan

Cerita

by Taufik Nur Shidiq

Taufik Nur Shidiq

Writer (Oct 2014 - Mar 2016); Editor (Nov 2017 - Nov 2018)

Model Sepakbola dan Lethal Weapon yang Menyadarkan

Para pemain sepakbola top Eropa memiliki hubungan dekat dengan dunia modeling. Mereka entah (a) memiliki pekerjaan sampingan sebagai model, (b) pasangan yang berprofesi sebagai model, atau (c) keduanya.

Melihat foto Cristiano Ronaldo tanpa seragam Real Madrid atau tim nasional Portugal (baca: tanpa busana) bukanlah hal yang asing. Jauh sebelum Ronaldo aktif berpose di depan kamera, David Beckham dan Freddie Ljungberg sudah terlebih dahulu menjalani profesi serupa.

Melihat hasil akhir dari foto-foto modeling para pemain sepakbola sama halnya dengan melihat sebuah gol tercipta. Kita hanya melihat hasil akhir dari sebuah proses yang sebagian besar darinya tidak nampak; hal-hal yang terjadi dalam latihan tak banyak mendapat perhatian. Kita melihat sebuah tujuan yang tercapai, namun kita belum tentu mengetahui kerja keras dan – dalam kasus Ljungberg yang hari ini berulang tahun – pergulatan batin yang mengiringinya.

Pria bernama lengkap Karl Fredrik Ljungberg tersebut mengaku menyukai tata busana dan arsitektur, sehingga mudah melihatnya sebagai sosok yang mencintai dan dengan senang hati melakukan segala hal yang berhubungan dengan keindahan. Termasuk, tentu saja, menjadi model.

Dari kecintaan Ljungberg terhadap tata busana pula muncul berita miring mengenai orientasi seksual pemain berkebangsaan Swedia tersebut. Ljungberg diisukan memiliki ketertarikan terhadap sesama pria. Ljungberg membantah kabar tersebut namun alih-alih marah, ia malah mengaku bangga dan menganggap hal tersebut sebagai pujian.

“Sempat cukup lama ada selentingan bahwa saya gay. Saya sama sekali tidak memiliki masalah terhadap hal tersebut. Saya bangga terhadapnya. Saya menyukai tata busana, dan saya rasa banyak orang gay yang memiliki gaya luar biasa. Jadi saya menganggapnya sebagai pujian,” ungkapnya kepada New York Times.

Selain ketertarikannya terhadap tata busana, fakta bahwa semasa muda dulu Ljungberg memainkan olahraga bola tangan – yang dianggap seksi dan manly – semakin memperkuat anggapan yang menyebutkan bahwa Ljungberg memang ditakdirkan untuk berkarir di dunia modeling.

LjungbergKleinFILER_468x645

Lain hal, modeling mengharuskan para pelakunya memiliki sifat percaya diri dan Ljungberg memilikinya. Hanya dalam situasi tertentu saja ia kehilangan sifat percaya diri, seperti ketika ia menjalani debutnya untuk Arsenal; melawan Manchester United di Highbury. Fakta bahwa ia mencetak gol di pertandingan tersebut, bagaimanapun, menunjukkan bahwa Ljungberg memiliki ketenangan yang dibutuhkan. Termasuk, bisa jadi, ketika ia harus berpose di depan kamera.

Semua anggapan tersebut, bagaimanapun, tidak benar. Sebagai permulaan, Ljungberg yang nampak menaruh perhatian besar terhadap bentuk tubuhnya ternyata tidak suka secara khusus berlatih di gym.

Berlatih di gym, menurut Ljungberg, cukup dilakukan di markas latihah sebagai bagian dari pekerjaan. Dan semua ketenangan yang ia miliki dalam pertandingan pertamanya untuk Arsenal rupanya tidak dapat menyelamatkan Ljungberg dari rasa takut setiap kali dirinya diharuskan berpose di depan kamera.

“Saya menjadi model Calvin Klein selama beberapa tahun. Pada awalnya saya tidak ingin melakukan ini. Saya tidak pernah menyesalinya, namun saya adalah sosok pemalu dan berdiri nyaris tanpa busana di depan kamera rasanya menakutkan,” ujarnya masih kepada New York Times.

rexfeatures_3363590a_1

Berbeda dengan Ljungberg, Beckham dan Ronaldo tidak “pensiun dini” dari dunia modeling. Namun rasa tidak nyaman berpose di depan kamera adalah sesuatu yang, cepat atau lambat, pasti menghampiri. Pada 2013, Beckham merasa bahwa dirinya sudah terlalu tua untuk pekerjaan ini. Tinggal menunggu waktu hingga Ronaldo menyerah dan (mungkin) meminjam kutipan terkenal Roger Murtaugh dalam film Lethal Weapon: “I’m too old for this shit”.

Komentar