Membangun Fondasi Sepakbola Sebuah Negara Ala Tom Byer

Cerita

by Abimanyu Bimantoro

Abimanyu Bimantoro

Football Analyst | Promising Sports Brand Strategist | Liverpool #YNWA

Membangun Fondasi Sepakbola Sebuah Negara Ala Tom Byer

Tom Byer adalah mantan pemain sepakbola asal Amerika kini lebih banyak bergerak sebagai pelatih pembinaan di usia muda. Karir sebagai pemainnya memang tidak banyak diketahui mengingat dia tidak bermain di klub profesional. Namun sebagai pelatih usia muda, pelatih berdarah Amerika yang berdomisili di Jepang ini sudah diakui oleh banyak negara.

Semua perjalanan Tom sebagai pelatih usia muda memang dimulai di Jepang. Pasca pensiun sebagai pemain di tahun 1989, Tom kemudian melanjutkan karirnya di perusahaan yang bergerak dalam pelatihan sepakbola Usia muda di Jepang yang bernama Kix Internasional. Dari sini, dimulailah karir Tom sebagai pelatih usia muda yang diakui banyak negara.

Tom kemudian melakukan banyak hal di Jepang yang berkaitan dengan pembinaan di usia muda. Dia memperkenalkan metode latihan Coerver yang memang sudah diakui oleh seluruh dunia. Hingga akhirnya dia membuka sekolah sepakbola yang berlandaskan dengan metode yang diyakininya tersebut. Tidak kurang dari 60 sekolah sepakbola di seluruh Jepang yang sudah berhasil dia dirikan hingga kini.

Tom pun mulai melebarkan sayapnya ke seluruh Asia, terutama Asia tenggara. Beberapa negara Asia Tenggara bahkan mengundangnya langsung untuk meminta jasanya memberikan pelatihan sepakbola terhadap anak-anak. Tidak terkecuali Indonesia, beberapa kali Tom Hadir untuk memberikan pelatihan dasar sepakbola kepada anak-anak Indonesia.

Kini, Tom lebih banyak menghabiskan waktunya untuk membangun fondasi sepakbola Tiongkok. Ambisi pemerintah Tiongkok untuk membangun sepakbola negara mereka, membuat Tom yang sudah berpengalaman di bidang ini diberikan tempat untuk membangun sistem pembinaan sepakbola Tiongkok.

Pemerintah Tiongkok benar-benar berambisi mengembangkan sepakbola negaranya. Mereka memulai dengan memberantas korupsi di dalam sepakbola. Kemudian memasukan sepakbola ke dalam kurikulum sekolah. Serta mencanangkan target dalam 30 tahun ke depan.

Pria yang akrab disapa dengan panggilan Tomsan ini, menjelaskan bahwa dia percaya bahwa seorang anak harus berada dalam lingkungan olahraga sedini mungkin. Dalam wawancara yang dilakukan oleh situs Beyond The Pitch, Tom mengatakan bahwa ia akan selalu berusaha membuat semua anak mendapatkan pelatihan sepakbola sedini mungkin. Tentu saja, latihan yang diterima anak saat usia dini berbeda dengan saat mereka mulai tumbuh dewasa.

Apa yang dilakukannya di Jepang pada tahun 90an adalah bentuk nyata dari kata-katanya ini. Ketika itu Tom mendapatkan kesempatan untuk mengisi sebuah acara di televisi untuk memberikan tips latihan sepakbola kepada anak-anak. Acara yang bernama Ohasuta ini, secara penuh fokus untuk membangun teknik mengolah bola bagi anak-anak.

Menurut Tom, seorang anak harus diberikan bekal kemampuan teknik sebaik-baiknya disaat usia dini. Karena itulah Tom tidak senang ketika seorang anak diperintahkan untuk berlatih tanding. Ia bahkan menceritakan bahwa ia pernah menghentikan satu latih tanding yang sedang dilakukan anak-anak.

Ketika itu sebuah stasiun televisi datang meliput kegiatan di salah satu sekolah sepakbola yang ditanganinya. Untuk kepentingan daya tarik para, pihak televisi meminta anak-anak dibagi ke dalam dua tim dan berlatih tanding. Menurut mereka, kegiatan tersebut akan terlihat lebih menarik ketimbang hanya menggambarkan latihan teknik yang terkesan membosankan.

Melihat hal ini Tom tentu tidak senang. Ia langsung menghampiri pihak televisi dan menjelaskan bahwa bukan itu pola latihan yang diajarkannya kepada anak-anak. Baginya, ada saatnya dimana anak-anak akan bermain dalam satu tim. Tapi pada usia dini, fokus utama adalah bagaimana sang anak mampu memiliki teknik bermain sepakbola dengan sempurna. Dan memang ini pula lah yang banyak diterapkan Jepang saat ini.

Tom juga menjelaskan, bahwa kunci utama kesuksesan pembinaan usia dini pada sebuah negara, bukanlah terletak pada pelatih sepakbola. Kunci utama kesuksesan sebuah negara terletak pada para orang tua.

Seperti yang dikatakan Tom sebelumnya, seorang anak harus menerima lingkungan sepakbola sedini mungkin. Maksud ‘sedini mungkin’ di sini tentu saja ketika mereka masih bersama orang tua mereka. Latihan bisa dimulai dari rumah mereka sendiri. Dan orang tua lah yang memberikan arahan kepada anak-anak mereka.

Bagaimana caranya? Bukankah tidak semua orang tua mengerti cara melatih sepakbola?

Membangun lingkungan sepakbola disini tidak melulu dengan membuat anak menendang bola setiap hari. Ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk membuat sang anak hidup dalam lingkungan sepakbola di keluarga mereka. Salah satunya adalah dengan memberikan gambaran yang baik soal sepakbola kepada anak-anak.

Jangan sampai membuat anak-anak mendapatkan kesan negatif terhadap sepakbola. Apalagi sampai sang orang tua secara langsung mengajarkan kecurangan di dalam sepakbola. Memanipulasi usia misalnya.

Ketika sang anak sudah memiliki pikiran yang positif terhadap sepakbola, maka selanjutnya anak-anak akan dengan sendirinya mengejar mimpi mereka. Tom mengatakan pada dasarnya setiap anak senang dengan tantangan dalam hidupnya. Seorang anak yang senang dengan sepakbola akan selalu ingin tertantang untuk berlatih lebih keras. Dari sini, Tom mengatakan bahwa orang tua tidak lagi perlu menyuruh anaknya untuk berlatih, mereka cukup mengatur bagaimana sang anak mendapatkan fasilitas yang cukup untuk berlatih.

Sisanya, orang tua cukup untuk membuat sang anak bisa berinteraksi dengan bola sebanyak mungkin. Dalam sebuah video yang diunggah di youtube, Tom menggambarkan bagaimana melatih teknik-teknik dasar kepada anak-anak, bisa dimulai dari rumah. Dan pelatihnya tentu saja orang tua sang anak itu sendiri.

Komentar