'Stairway to Heaven' Massimilliano Allegri

Cerita

by Ardy Nurhadi Shufi

Ardy Nurhadi Shufi

Pemimpin Redaksi | Pesepakbola Tarkam | Juru Taktik
ardynshufi@gmail.com

'Stairway to Heaven' Massimilliano Allegri

Dear [old] lady? Can you hear the wind blow? And did you know your stairway lies on the whispering wind?

Skuat asuhan Juventus tengah berada dalam kepercayaan diri tinggi jelang menghadapi Monaco pada babak perempat final Liga Champions. Melenggang ke babak final Coppa Italia setelah menaklukkan Fiorentina membuat kesebelasan berjuluk Old Lady ini memiliki kesempatan untuk meraih Treble pada musim ini.

Kekuatan Juve yang ditangani Massimilliano Allegri per awal musim 2014/2015 memang memperlihatkan performa yang meningkat. Fleksibilitas taktik Allegri membuat banyak pihak menyebutkan bahwa Juventus saat ini lebih baik dari Juventus asuhan Antonio Conte yang telah menghasilkan gelar juara Serie A tiga musim berturut-turut.

Juve asuhan Conte dinilai terlalu kaku pada formasi 3-5-2 dengan pressing tinggi. Ini yang membuat strategi Conte kerap ditemukan kelemahannya oleh lawan yang mereka hadapi di Liga Champions ataupun Europa League. Berbeda dengan Allegri yang bisa menggunakan 3-5-2, 4-4-2 berlian, ataupun beberapa variasi 4-3-3.

Hanya dalam tempo sembilan bulan, Allegri dengan gagah mampu membuat para pendukung Juventus sedikit melupakan sosok Antonio Conte. Meski ia sadar, skuat Juve saat ini memang bermain lebih atraktif dibanding Juve asuhan Conte, eks pelatih AC Milan ini tak mau besar kepala.

“Tetapi kami belum meraih apapun,” ujar Allegri pada The Guardian. “Kami masih membutuhkan sejumlah poin untuk memastikan trofi liga dan kami masih harus berlaga di babak final Coppa Italia. [Trofi] Liga Champions masih menjadi mimpi bagi kami sehingga hanya berusaha melakukan yang terbaik untuk mendapatkan hasil maksimal. Untuk saat ini, mencapai babak semi-final cukup realistis.”

Allegri benar, ia masih belum ada apa-apanya dibanding Conte. Di samping tiga scudetto secara beruntun, Conte pernah mengantarkan Juve tak terkalahkan dalam 49 pertandingan. Conte pun pernah membuat Juve menjadi kesebelasan pertama yang meraih scudetto dengan poin lebih dari 100.

Antonio Conte saat Juventus sukses meraih gelar scudetto tiga kali secara beruntun. (via: tuoitrenews.vn)
Antonio Conte saat Juventus sukses meraih gelar scudetto tiga kali secara beruntun. (via: tuoitrenews.vn)

Namun Allegri melatih Juventus bukan untuk membuktikan diri bahwa ia lebih baik dari Conte atau skuat Juve ditangannya lebih kuat dari Juve milik Conte. Allegri hanya melihat bahwa kemampuannya bisa memaksimalkan potensi yang dimiliki Juve.

“Saat Juve menghubungi saya pertama kali, saya tak pernah memikirkan hal tersebut (prestasi Conte),” papar Allegri. “Saya memiliki sejumlah ide yang jelas tentang seberapa potensial kesebelasan ini. Ini (Juventus) adalah kesebelasan yang masih memiliki ruang untuk ditingkatkan.”

Satu-satunya kekurangan Juve era Conte adalah penampilan buruk Juve di kompetisi Eropa. Selama tiga musim, prestasi terbaiknya hanya sekali mengantarkan Juventus ke babak perempat final, di mana kemudian terlempar ke Europa League pada Liga Champions 2013-2014 karena kalah bersaing dengan Real Madrid dan Galatasaray.

Conte berdalih bahwa skuat Juve tak cukup kuat untuk berprestasi di Liga Champions. Kebijakan transfer menjadi hal yang paling ia keluhkan. Menurutnya, Juve seperti sedang berada di sebuah restoran dengan menu seharga 100 dollar, namun Juve hanya memiliki 10 dollar di dompetnya.

Allegri pun tak memungkiri itu. Ia berkata,”Perbedaan potensi ekonomi di Italia dengan mereka kesebelasan Inggris atau dua raja Spanyol sangat timpang." Meskipun begitu, bukan berarti Juve tak bisa berbuat banyak hanya karena tak memiliki dana yang melimpah untuk melakukan transfer.

“Untuk mengurangi jarak seperti ini, kami perlu menggunakan kepintaran kami. Kami perlu keluar dan mencari pemain muda berbakat untuk memperkuat fondasi yang telah dimiliki Juventus dengan para pemain Italia dan pemain asing yang bisa meningkatkan kualitas tim,” tambahnya. “Juve telah memiliki kesempatan untuk melakukannya dengan berhasil mendatangkan [Carlos] Tevez, [Paul] Pogba, [Arturo] Vidal, dan musim ini berhasil mendatangkan [Roberto] Pereyra.“

Baca juga: Tevez yang Terlahir Kembali Bersama Juventus

Keberhasilan Allegri sejauh ini tentunya sedikit banyak telah membuktikan bahwa ia bisa memaksimalkan kemampuan yang dimiliki Juventus. Meski belum berhasil mendatangkan piala bagi Juventus, mentalitas Allegri dalam menangani kesebelasan sebesar Juventus, menggantikan Conte yang bergelimang prestasi, apalagi sempat dibenci oleh sejumlah pendukung Juventus karena pernah menjelekkan Juve saat masih menukangi AC Milan, patut diacungi jempol. Apa rahasia Allegri memiliki mentalitas baja?

Sepakbola adalah kebahagiaan dan kenikmatan. Prinsip tersebut pernah membuatnya terlena ketika ia menukangi Cagliari enam musim yang lalu. Hal tersebut ia katakan ketika membandingkan dirinya sendiri dengan Jose Mourinho yang disebut-sebut sebagai salah satu pelatih terbaik dunia. Namun kini ia memiliki pandangan berbeda.

“Mourinho adalah pribadi luar biasa yang telah mengalami banyak kemenangan. Dalam sepakbola, seorang pribadi dapat disukai dan dibenci. Saya bisa disukai. Mourinho pun begitu. Tapi mungkin orang lain ada yang dibenci. Pada akhirnya, yang menjadi persoalan adalah hasil yang telah kita dapatkan,” ujar Allegri.

Dengan pengalamannya yang terus bertambah, di mana kemudian ia melatih AC Milan dan kini melatih Juventus, prinsipnya tersebut semakin berkembang dan menjadi sumber kekuatan Allegri dalam menghadapi setiap tekanan yang datang padanya.

“Saya pikir sepakbola adalah tentang kebahagiaan dan kenikimatan semata. Tapi dalam sepakbola, anda perlu memikirkan tentang kemenangan karena hal itulah yang akan menjadi hitungan. Untuk mewujudkan hal tersebut, memenangi setiap pertandingan, kesebelasan saya harus memainkan permainan sepakbola yang cantik, intensitas tinggi, meningkatkan taktik dan teknik, dan masih banyak lagi.”

Lihat juga infografis rekam jejak karir Allegri sebelum menukangi Juventus di sini.

Dengan prinsip di atas, apa yang ditunjukkan Juve saat ini cukup menjadi bukti bahwa Allegri tak hanya mengatakan omong kosong belaka. Meski Juve kemudian dikalahkan Parma pada akhir pekan lalu, Juve masih unggul 12 poin atas Lazio yang kini berada di peringkat dua klasemen. Empat kemenangan dari delapan laga sisa akan membuat Juve meraih gelar keempatnya secara beruntun dalam empat tahun terakhir dan menjadi pembuktian nyata bahwa Allegri bisa meneruskan kejayaan Juventus warisan Conte.

Apalagi jika trofi Coppa Italia dan trofi Liga Champions berhasil Allegri persembahkan untuk Juve musim ini. Allegri akan memberikan standar yang cukup tinggi bagi pelatih Juventus berikutnya, tentu saja jika Allegri sudah tak menukangi Juventus di masa yang akan datang.

Petikan lirik lagu Led Zeppelin berjudul 'Stairway to Heaven' pada paragraf pembuka diibaratkan menjadi bisikkan Allegri pada Si Nyonya Tua, Juventus, untuk meraih kejayaan baru Juventus sepeninggal Antonio Conte.

foto: espnfc.com

Komentar