Uang dan Mimpi Para Perantau dari Brasil

Cerita

by Frasetya Vady Aditya

Frasetya Vady Aditya

Penyunting. Jangan terkekang; sepakbola cuma cangkang. Kontak: vady.aditya@gmail.com

Uang dan Mimpi Para Perantau dari Brasil

Berapa jumlah pesepakbola di Brasil? Jumlah yang terdaftar hingga saat ini “hanya” 2,1 juta pesepakbola dari 30 ribu kesebelasan. Sementara yang tidak terdaftar mencapai 11 juta pesepakbola. Baik terdaftar atau tidak, mereka masih memiliki hasrat yang sama: bermain di Eropa, kaya raya, sukses di dunia.

Setidaknya, terdapat 31 ribu pesepakbola aktif di Brasil. Namun, hanya dua persen dari mereka yang memiliki gaji di atas 6.380 USD atau 20 kali upah minimum di Brasil. Sementara sisanya atau sekitar 85% digaji kurang dari sembilan juta rupiah, atau setara dengan standar dua bulan gaji di Brasil.

Sebagai perbandingan, rata-rata pesepakbola yang mentas di kesebelasan top Indonesia digaji 600 juta setiap tahun atau 50 juta setiap bulan. Angka ini tidak terlampau jauh dengan “dua persen” pesepakbola yang memiliki gaji tinggi di Brasil. Maka, jangan heran kalau pesepakbola Brasil memiliki mental perantau. Mereka tahu kalau bakat mereka tidak dihargai dengan layak jika berlaga di negeri sendiri.

Pesepakbola Brasil tahu kalau Eropa menghadirkan mimpi yang luar biasa. Mereka pasti hapal di luar kepala bagaimana skuat Brasil yang menjuarai Piala Dunia 2002 dihargai di Eropa lewat gaji tinggi. Mereka pun tidak perlu belajar geografi untuk mengetahui bahwa Portugal, pintu masuk mereka menuju Eropa, amatlah dekat. Terbang non-stop dengan Lufthansa dari Rio De Janiero ke Lisbon bisa ditempuh dalam waktu sembilan jam saja.

Brasil adalah negara yang strategis. Mau ke Eropa atau Afrika, tinggal menyebrang Samudera Atlantik. Mau ke Asia, tinggal menyebrang Samudera Pasifik.

Baca: Alasan di balik krisis yang terjadi di Liga Brasil

Kepemilikan pemain oleh pihak ketiga yang bikin ruwet.

Bergantung pada kepemilikan pemain oleh pihak ketiga membuat klub tak kaya raya.


Pesepakbola Brasil Tak Lagi Berpengaruh

Setelah Piala Dunia 2014, praktis tidak ada pesepakbola Brasil yang namanya bersinar. Nama-nama seperti Neymar, Ramires, Daivd Luiz, Thiago Silva, ataupun Willian, perannya sudah terlihat jauh sebelum Piala Dunia 2014. Nama yang dipandang akan bersinar seperti Hulk dan Bernard, kini tak terdengar lagi. Bahkan, penyerang Brasil, Fred, memutuskan untuk gantung sepatu di usianya yang menginjak 30.

Di kesebelasan sekalipun—kecuali nama-nama yang sudah bersinar—pemain Brasil kini tidak tampak istimewa. Berdasarkan Euro Rivals, di Liga Inggris saat ini hanya ada 13 pesepakbola Brasil, atau yang paling sedikit ketimbang Liga Jerman (21), Spanyol (26), Italia (57) dan Portugal (107).

Sebagai tempat pengeraman, nyatanya sulit bagi pesepakbola Brasil saat ini untuk segera dipromosikan keluar dari Liga Portugal. Di Liga Inggris, nama yang tenar terksean “itu-itu lagi” seperti Oscar, Ramires, Willian, Philippe Coutinho, hingga Rafael. Pemain yang benar-benar baru hanyalah Andreas Pereira yang itu pun jarang diturunkan di tim utama Manchester United.

Memindahkan Mimpi

Tahu kalau mendapatkan tiket ke Eropa sulit didapat, kini sejumlah pesepakbola Brasil memindahkan impiannya dari Eropa ke Asia, atau tepatnya ke Tiongkok.

Tales Azzoni dalam tulisannya di Foxnews menyatakan bahwa Tiongkok adalah destinasi baru bagi pesepakbola terbaik Brasil. Salah satu alasannya adalah investasi besar yang tertanam di Liga Tiongkok, mulai dari infrastruktur hingga pembayaran kontrak dan gaji.

Tiongkok adalah negara dengan jumlah terbesar untuk transfer dari Brasil. Tahun ini saja, mereka sudah mengeluarkan 40 juta USD untuk sembilan pesepakbola dari Amerika Selatan, yang dua di antaranya berasal dari Brasil.

Tales mengutip ucapan konsultan olahraga Brasil, Fernando Ferreira, yang menyatakan bahwa Tiongkok telah mencoba untuk menjadi pemain global di olahraga. “Merekrut sejumlah pesepakbola terbaik Brasil, adalah bagian dari proses ini, ini adalah bagian dari strategi.”

Hingga 17 Maret 2015, kesebelasan Tiongkok telah menghabiskan lebih dari 85 juta USD. Berdasarkan FIFA’s Transfer Matching System, ini merupakan yang terbesar setelah Jerman (118 juta USD) dan Inggris (174 juta USD) untuk transfer internasional pada 2015.

Kini, mayoritas pesepakbola “kelas dua” yang belum punya nama hampir dipastikan lebih memilih singgah di Brasil. Mereka adalah pesepakbola yang dianggap memiliki kualitas setara dengan pemain macam Neymar atau Oscar, tapi bakatnya tidak begitu diperhatikan. Mereka lebih memilih berkompetisi di Brasil karena menganggap tidak ada tawaran yang sepadan untuk bakat yang mereka miliki.

“Pemain dengan nilai 3 sampai 4 juta euro untuk kesebelasan di Eropa, kini dihargai 10 juta di Tiongkok,” tutur Ferreira.


Ricardo Goulart, termahal di Tiongkok (Sumber: wantchinatimes)

Sementara itu, pelatih Brasil, Dunga, mengatakan bahwa kini sejumlah negara di Eropa tidak lagi leluasa untuk merekrut pemain sebanyak mungkin. Lalu, Tiongkok hadir sebagai pasar baru yang berinvestasi besar di sepakbola lalu mengambil sejumlah pemain dan pelatih terbaik dari Brasil.

Mereka yang bermain di Tiongkok bukannya tanpa prestasi. Salah satunya adalah Diego Tardelli yang merupakan pesepakbola yang berlaga di Tiongkok pertama yang dipanggil masuk kesebelasan negara Brasil. Tardelli sendiri mengaku kalau ia mengambil resiko dengan kehilangan tempat di kesebelasan negara Brasil dengan bermain di negara yang tidak memiliki tradisi sepakbola.

Pesepakbola lain yang mencuri perhatian adalah Ricardo Goulart yang dihargai 16,2 juta USD dari Cruzeiro ke Guangzhou Evergrande. Transfer tersebut merupakan yang terbesar bagi pesepakbola Brasil di Tiongkok. Goulart sendiri membantu Cruzeiro memenangkan dua gelar Liga Brasil, dan turut dipanggil ke kesebelasan negara Brasil.

Kini, sekitar 30 persen dari total pemain asing di Liga Tiongkok berasal dari Brasil. Ferreira optimis kalau Brasil akan menjadi pasar yang atraktif bagi pesepakbola di masa mendatang. “Kita hanya bisa berasumsi bahwa negara ini nantinya akan sukses dalam pencariannya menjadi kekuatan sepakbola di dunia,” kata Ferreira.

Carilah Uang Sampai Negeri Tiongkok

Sejak dulu, Tiongkok dianggap sebagai negara yang serba bisa. Menuntut ilmu pun disarankan hingga ke Tiongkok. Namun, satu hal yang tidak dipunya Tiongkok adalah industri sepakbola. Sebesar dan sehebat apapun mereka, Liga Sepakbola Tiongkok tidak pernah menarik. Popularitasnya kalah jauh dari Liga Korea dan Liga Jepang.

Namun, seiring dengan kesungguhan Pemerintah Tiongkok, yang instruksinya datang langsung dari presiden, mereka mulai memfokuskan diri pada sepakbola.

Di sini terjadi hubungan saling menguntungkan antara Brasil dengan Tiongkok. Brasil punya bakat, Tiongkok punya uang. Maka, semakin jelas pula lah alasan pesepakbola Brasil memindahkan impian mereka dari Eropa, ke Asia.

Sumber gambar: https://pyrzowice.pl/

Komentar