Memahami Tiket Musiman

Cerita

by Frasetya Vady Aditya

Frasetya Vady Aditya

Penyunting. Jangan terkekang; sepakbola cuma cangkang. Kontak: vady.aditya@gmail.com

Memahami Tiket Musiman

Sebelum industri sepakbola maju seperti sekarang ini, penjualan tiket merupakan komponen utama pemasukan kesebelasan. Salah satu bentuk kesuksesan finansial dari kesebelasan direpresentasikan dalam bentuk penuhnya kursi stadion.

Kini, kesebelasan mampu meraup untung dari sektor lain seperti merchandise dan—tentu saja—hak siar televisi. Namun, sumber pemasukan dari tiket tidak begitu saja dilepaskan. Bahkan, kesebelasan di Liga Inggris hampir selalu menaikkan harga tiket musiman setiap tahunnya. Beragam cara pun dilakukan kesebelasan untuk mempromosikan tiket musimannya.

Bagi kesebelasan, tiket musiman tak ubahnya seperti dana segar sebelum mereka mengikuti kompetisi. Dengan 20 kesebelasan yang mengikuti liga, berarti setiap kesebelasan menggelar 19 pertandingan kandang.

Kesebelasan biasanya mematok harga yang lebih murah bagi penggemar untuk membeli tiket musiman, ketimbang membeli langsung 19 tiket pertandingan. Ambil contoh Arsenal yang membanderol harga tiket musimannya 1014 pounds. Sementara tiket termurah untuk kategori A dibanderol 65 pounds atau 1235 pounds untuk 19 pertandingan kandang.


Kursi yang bisa di-personalisasi (Sumber gambar: arsenal.com)

Selain itu, pemegang tiket musiman biasanya mendapatkan “bonus” untuk pertandingan “cup” macam Piala FA maupun Piala Liga. Namun, itu semua tergantung pada kebijakan kesebelasan masing-masing.

Musim ini, Manchester United berhasil menjual 55 ribu tiket musiman atau penjualan tertinggi sepanjang sejarah. Artinya, sebelum kompetisi digelar, United minimal telah mengantongi hampir 30 juta pounds dari tiket musiman termurah seharga 532 pounds.

Tiket musiman merupakan hubungan yang saling menguntungkan bagi kesebelasan dan penggemar setia. Kesebelasan mendapat uang, sedangkan penggemar mendapatkan kepastian tempat duduk mereka di stadion selama satu musim.

Harap-Harap Cemas


Boks tiket musiman yang dijual terpisah.

Seiring waktu berjalan, dengan semakin mudahnya transportasi dari satu tempat ke tempat lain, nyatanya tiket musiman merupakan komoditas yang diburu. Utamanya kesebelasan besar seperti Manchester United maupun Arsenal. Berdasarkan Untold-Arsenal, saat ini ada sekitar 45 pemesan tiket musiman yang memenuhi daftar tunggu.

Penggemar yang membeli tiket musiman, tentu bukan cuma warga London yang mencintai Arsenal. Bisa saja ia warga Mojokerto yang baru hijrah ke Inggris dan ingin menonton Arsenal setiap pekan. Dengan harga tiket yang menanjak setiap tahunnya, bukan tidak mungkin penggemar “paling fanatik” tidak kebagian tiket karena harga yang terlalu mahal. Namun, tiket musiman akan selalu habis karena akan selalu ada penggemar baru berkantung tebal.

Musim depan, penggemar Liverpool tak lagi cemas. Pasalnya, manajemen menyatakan tidak akan menaikkan harga tiket yang berkisar 710 pounds sampai 869 pounds, setelah berkonsultasi dengan kelompok suporter.

Salah satu alasannya adalah prestasi Liverpool musim ini yang jauh di luar harapan. Padahal, mereka sudah merintis asa pada musim lalu dengan menduduki peringkat kedua dan masuk Liga Champions. Kenaikan harga tiket musiman sendiri dipandang sebagai kebijakan yang tidak populer.

Kepala Eksekutif Liverpool, Ian Ayre, berkelit bahwa keputusan tersebut adalah kesempatan untuk memberi penghargaan kepada penggemar. “Pemegang tiket musiman kami sangatlah loyal kepada kesebelasan ini dan kami senang untuk mengumumkan penurunan tiket bagi young fans dan mempertahankan harga tiket musiman dewasa untuk musim mendatang,” tutur Ayre seperti dikutip Dailymail.

Hal serupa juga dilakukan Manchester United yang tidak akan menaikkan harga tiket pada musim depan. Harga tiket masih akan dipatok antara 532 sampai 950 pounds. Ini merupakan kali keempat dalam empat musim berturut-turut di mana United tidak menaikkan harga tiket. Padahal, dari hitung-hitungan untuk musim ini, United mesti kehilangan sekitar 12 juta euro dari yang seharusnya didapatkan dari Liga Champions.

Manajemen United beralasan adanya kenaikan pendapatan komersial dari sponsor yang membuat tiket musiman tak dinaikan. Pada November tahun lalu, United kehilangan 10 persen pendapatan karena kegagalan masuk Liga Champions. Namun, hal tersebut kelak tertutupi karena kerjasama dengan Adidas yang meningkatkan pendapatan hingga 49%.

Sebagai Bentuk Kebanggaan

Untuk mendapatkan tiket musiman tidak semudah membeli tiket nonton di bioskop. Penggemar sebelumnya harus menjadi anggota resmi yang membayar biaya tahunan. Ini yang membuat pemegang tiket tahunan mendapatkan “derajat yang lebih tinggi” baik dalam hal finansial maupun fanatisme. Ini karena dari 10 kesebelasan di Inggris masuk dalam 10 kesebelasan yang menerapkan tiket musiman termahal. Banyak dari penggemar yang meminta kebijakan kepemilikan kesebelasan Inggris ditinjau.

Bentuk kebanggaan tersebut biasanya dicantumkan kala sang season ticket holder menulis di media massa. Tanpa malu, biasanya ia menambahkan embel-embel “pemegang tiket musiman...”.

Namun, sistem tiket musiman agaknya sulit diterapkan di Liga Indonesia yang serba tidak pasti. Di Inggris, dengan penjadwalan yang hampir mustahil untuk diubah-ubah, membuat pemegang tiket bisa memastikan kapan ia datang ke stadion. Ini penting terutama bagi penggemar yang tinggal di luar kota maupun di luar negeri. Selain itu, di Liga Indonesia amat rawan pertandingan digelar tanpa penonton. Bayangkan jika ini terjadi pada Manchester United. Bagaimana mereka harus menanggapi amarah 55 ribu pemegang tiket musiman?



*Penulis adalah pemegang tiket musiman Persikab Kabupaten Bandung musim 2007-2008.

Sumber gambar: dailymail.co.uk

Komentar