FA Dilanda Badai Harry Kane

Cerita

by Dex Glenniza

Dex Glenniza

Your personal football analyst. Contributor of Pandit Football Indonesia, manager of Box2Box Media Network, podcaster of Footballieur, creative writer of Tirto.ID, MSc sport science, BSc architecture, licensed football coach... Who cares anyway! @dexglenniza

FA Dilanda Badai Harry Kane

Efek Harry Kane bagaikan sebuah angin topan. Ya, Harry Kane memang sering diplesetkan namanya menjadi hurricane (keduanya hampir sama cara membacanya). Setelah performanya sangat bersinar, atau dalam konteks ini: sangat "membadai", ia akhirnya dipanggil oleh Roy Hodgson ke tim nasional Inggris.

Tidak sampai di situ, "kesuksesan" Kane dalam menembus tim inti Tottenham Hotspur dan (kemungkinan besar) Inggris sudah menjadi acuan dan tamparan tersendiri bagi asosiasi sepakbol Inggris (FA).

Ketua FA, Greg Dyke, telah mengumumkan rencana untuk membatasi pemain non-Uni Eropa di Liga Inggris. Apa hubungannya dengan Kane? Ternyata ini adalah salah satu upaya nyata untuk meningkatkan jumlah pemain bakat asli Inggris yang berkualitas.

Jadi jelas, tujuannya untuk mengakomodasi beberapa Harry Kane berikutnya.

Berbicara kepada BBC, Dyke menjelaskan alasan di balik usulan baru FA yang memang sambil menyoroti dampak dari Kane. Striker berusia 21 tahun yang baru membuat start Liga Primer pertamanya untuk Spurs pada bulan April 2014, merupakan pencetak gol terbanyak musim ini dengan 19 gol.

"Kita harus melakukan negosiasi dengan liga dan dengan kesebelasan, kita harus meyakinkan mereka bahwa ini masuk akal bagi sepakbola Inggris," kata Dyke.

"Dan kita dibantu oleh Harry Kane sebenarnya, kita dibantu dengan melihat seorang anak muda datang ke tim Spurs dan menjadi pencetak gol terbanyak di sepakbola Inggris."

Berangkat dari pernyataanya tersebut, Dyke menguraikan beberapa proposal baru yang menargetkan #PeakEnglishness, antara lain:


  • Seorang pemain harus didaftarkan kesebelasannya dari usia 15 tahun (peraturan sebelumnya adalah 18 tahun) untuk memenuhi syarat sebagai pemain "home-grown".

  • Jumlah minimal pemain "home-grown" dalam skuat 25 pemain tim pertama kesebelasan adalah 12 pemain (peraturan sebelumnya 8 saja), bertahap selama empat tahun dari tahun 2016.

  • Setidaknya dua pemain dalam negeri juga harus merupakan pemain "club-trained" yang didefinisikan sebagai setiap pemain, terlepas dari kewarganegaraan manapun, yang telah terdaftar selama tiga tahun di kesebelasan mereka dari usia 15 tahun.

  • Hanya pemain asing non-Uni Eropa (non-UE) yang terbaik yang akan diberikan izin untuk bermain di Inggris. (Tidak jelas bagaimana mendefinisikan kata "terbaik.")


Masih dalam ide yang sama, FA mengidentifikasi empat bidang utama yang berkontribusi terhadap kurangnya pemain Inggris yang berkualitas yang berhasil menerobos ke tim inti kesebelasan sepakbola.

Menurut FA, bebrapa di antaranya adalah kurangnya pelatihan yang berkualitas, tidak adanya fasilitas yang berkualitas di tingkat akar rumput (grassroots) atau pembinaan pemain muda, kurangnya kesempatan pemain antara usia 18 sampai 21 tahun untuk tumbuh dan bermain secara kompetitif, serta peraturan untuk melestarikan keseimbangan yang diinginkan dari distribusi pemain Inggris, Uni Eropa, dan non-Uni Eropa.

Proposal ini memang diarahkan langsung pada efek Kane. Mengingat sekarang ini kesepakatan siaran Liga Primer mencapai angka 5,136 milyar poundsterling dengan Sky dan BT yang dimuali pada bulan Februari lalu.

Chief Executive Premier League, Richard Scudamore, saat itu mengklaim: "Tujuan nomor satu kami dan kesebelasan adalah untuk menempatkan kompetisi sepakbola terbaik. Menawarkan sepakbola berkualitas tinggi di stadion kelas dunia yang dipenuhi oleh fans yang bergairah, yang menghasilkan keuntungan lokal dan juga global. Hal ini memungkinkan kita untuk menghasilkan pendapatan bagi kesebelasan dan permainan yang lebih luas."

Tujuan Scudamore tersebut memang cukup masuk akal. Tetapi menjadi kurang dapat dipertahankan ketika Anda mencoba gagasan "kompetisi sepakbola terbaik" dengan lebih banyak paksaan untuk memainkan pemain dalam negeri yang mungkin tidak cukup baik untuk berkembang di pasar global.

Batas-batas pada pemain non-Uni Eropa dapat mengakibatkan lebih banyak pemain Inggris mendapatkan kesempatan, tapi tidak berarti bahwa salah satu dari mereka akan bersinar atau "membadai". Memang lebih banyak tidak selalu lebih baik.

Usulan Dyke di atas sebenarnya tidak mengatakan alasan yang jelas tentang mengapa lebih banyak pembatasan pada pemain "home-grown" akan menghasilkan lebih banyak Harry Kane.

Tapi, dia seolah menemukan sedikit kisi-kisi kunci jawaban: "Berapa banyak Harry Kane lainnya di sekitar tim muda kesebelasan Liga Primer? Hampir kebetulan bahwa Tim Sherwood menjadi manajer Tottenham pada saat ia memberikan kesempatan (bermain kepada Kane). Kalau tidak, ia mungkin masih akan dipinjamkan ke Millwall atau ke tempat lain."

Eureka! Kuci jawaban telah ditemukan! Ternyata, tim muda Premier League mungkin penuh dengan pemain ajaib. Mereka hanya perlu diasuh oleh Tim Sherwood, atau dibebaskan oleh birokrat melalui sistem kuota pemain Inggris, uni Eropa, dan non-uni Eropa.

Sayangnya, Tim Sherwood tidak bisa berada di mana-mana secara sekaligus. Tapi setidaknya, kan, nantinya Inggris akan memiliki kuota untuk membantu anak-anak Inggris berkembang.

Namun, kuota, dalam hal ini, bisa menimbulkan masalah. Salah satu masalah dengan menggunakan kuota yang mengandaikan kelangkaan bakat adalah masalah yang serius.

Ini klise, tapi mungkin ada sesuatu di luar "mendapatkan kesempatan" yang menghambat bakat muda Inggris untuk "membadai", sesuatu yang tak ada hubungannya dengan beberapa pemain ekstra dari non-Uni Eropa di tim utama.

Pencarian Greg Dyke untuk "the next Harry Kane(s)" benar-benar bakal berakhir dengan ketegangan antara liga dan tekanan nasional. Pembatasan ini umumnya selalu akan menjadi hal yang mudah untuk dilakukan, tetapi jarang bisa memecahkan masalah.

Tengok kembali Danny Ings, Charlie Austin, Connor Wickham, Saido Berahino, Dwight Gayle, James Wilson, Adam Armstrong, Mason Bennett, Patrick Bamford, dan nama-nama lainnya yang sulit kami sebutkan satu per satu.

Terimakasih, Football Manager. Terimakasih, EA Sports FIFA. Terimakasih, Pro Evolution Soccer. Setidaknya kita semua tahu Inggris memiliki banyak penyerang potensial. Itu baru penyerang saja, belum posisi yang lain yang berpotensial. Hanya saja, sebesar apa "potensi" tersebut?

Jadi, perdebatan abadi antara "bakat vs kerja keras" bisa dijawab dengan pembinaan dan kesempatan bermain? Di sini Greg Dyke bisa jadi benar, bisa jadi juga salah.

Sumber foto: Tottenham Hotspur Facebook page

Sumber cerita: BBC, TheFA.com

Komentar