Golf Sebagai Obat Penenang Mia Hamm

Cerita

by Taufik Nur Shidiq

Taufik Nur Shidiq

Writer (Oct 2014 - Mar 2016); Editor (Nov 2017 - Nov 2018)

Golf Sebagai Obat Penenang Mia Hamm

Kebanyakan orang harus menjalani terapi setelah bermain golf; namun Mia Hamm, salah satu bintang pertama di sepakbola perempuan Amerika Serikat, malah menjadikan golf sebagai terapi. Tak berhenti sampai di situ, golf, menurut Hamm, menjadikannya pemain sepakbola yang lebih baik.

Semua itu ia ungkapkan kepada Joe Ciardiello dalam sebuah sesi wawancara untuk Golf Digest!, pada Juli 2010. Awalnya memang terdengar lucu, karena golf dan sepakbola begitu berbeda. Sepakbola mengedepankan koordinasi mata dan kaki, golf mengandalkan koordinasi mata dan tangan. Namun Hamm tidak bergurau.

“Jika saya menjalani latihan yang buruk, saya akan pergi bermain dan memukul bola golf untuk melenyapkan frustrasi. Bagi saya, golf benar-benar menggarisbawahi kelemahan saya sebagai pemain sepakbola,” ujar perempuan bernama lengkap Mariel Margaret Hamm tersebut.

Lebih lanjut, Hamm menjelaskan bagaimana golf, yang mengharuskan dirinya melupakan kesalahan dengan cepat, membantunya terus berkembang. Sederhananya, golf menjadi terapi bagi Hamm bukan hanya karena ia dapat melampiaskan kekesalan dengan memukul bola.

“Dalam golf, kita harus dapat melupakan kesalahan; karena jika tidak, hal itu hanya akan menumpuk dan terus mengganggu. Dalam sepakbola saya cenderung menyimpan banyak hal – latihan yang buruk, umpan yang buruk, atau pertandingan yang buruk. Saya awalnya tidak berniat menjadikan golf sebagai penolong, namun saya sadar bahwa dengan bermain golf, kita dipaksa memiliki memori jangka pendek. Golf adalah terapi saya,” ujar Hamm.

Tulisan lain mengenai hubungan sepakbola dan golf:

Sepakbola itu Menarik, Tapi Golf Lebih Menjanjikan

Ketika Freestyler dan Pegolf Pro Adu Jago Mengolah Bola

Footgolf: Perpaduan Sepakbola dan Golf


Hamm bukanlah pemain golf yang buruk. Ia cukup baik sehingga beberapa kali diundang dalam pertandingan amal. Ia sendiri, bagaimanapun, tidak menyebut dirinya sebagai pemain golf profesional. “Hanya karena kita dapat memukul bola dengan baik secara rutin, tak serta merta kita menjadi profesional,” ujarnya.

Hamm menjalani kehidupan sebagai pemain sepakbola profesional dan menjadi terkenal karenanya. Wajar jika ia kemudian lebih mencintai sepakbola ketimbang golf (dan golf, hobinya, juga “hanya” ia jadikan sebagai terapi dari stress yang ia dapatkan dari sepakbola, ingat?). Namun itu tidak membuat dirinya menjadi subjektif terhadap sepakbola. Golf, menurut Hamm, lebih berguna ketimbang sepakbola untuk tujuan tertentu.

“Sifat sepakbola tidak begitu sosial. Ditambah lagi, jika kita tidak menyukai seseorang di kesebelasan lawan, kita bisa melakukan sesuatu terhadapnya. Kami menjalankan acara amal sepakbola dan suami saya dan saya menjadi kapten dari dua kesebelasan yang bertanding dan ia mengalahkan saya. Saya bertanya, ‘apa-apaan ini?’ Kita tidak bisa melakukan hal serupa di lapangan golf. Ada sopan santun di sana. Golf bersifat sosial. Olahraga ini mempersatukan banyak orang. Hal baik mengenai persaingan di golf adalah lebih sedikit tekanan karena kita tidak merasa bahwa setiap peluang adalah peluang milik kita,” ujarnya menjelaskan perbedaan antara sepakbola dan golf.

Hamm memandang golf lebih berguna ketimbang sepakbola, namun ia tak melupakan asalnya. Ketika Ciardiello bergurau mengenai jumlah gelar US Open yang harus ia berikan agar Hamm mau menukar medali emas olimpiade dari cabang olahraga sepakbola perempuan, Hamm menolak.

“Bukannya, kedua hal tersebut tak sebanding; namun medali-medali emas saya keren,” balas Hamm.

Untuk tulisan-tulisan lain mengenai sepakbola perempuan, silakan klik tautan ini.

Komentar