Hanya Orang Kurang Kerjaan yang Mengkritik Van Gaal

Cerita

by Dex Glenniza

Dex Glenniza

Managing editor of Pandit Football, MSc sport science, BSc architecture, licensed football coach. Born with the full name of Defary Glenniza Tiffandiputra, growing up with a nickname Dex Glenniza. Who cares anyway! @dexglenniza

Hanya Orang Kurang Kerjaan yang Mengkritik Van Gaal

Orang sukses bisa saja mendapatkan kritik. Sementara orang gagal hampir pasti mendapatkan kritik, bahkan cercaan. Begitu juga, siapapun berhak mengkritik Louis van Gaal. Apakah Van Gaal orang yang sukses atau orang yang gagal?

Untuk referensi saja, Van Gaal telah memenangkan tujuh gelar liga di tiga negara yang berbeda untuk empat kesebelasan yang berbeda. Ia membawa tim nasional Belanda yang sangat diragukan untuk sampai ke semi-final Piala Dunia 2014, dan bahkan mengalahkan Brasil di perebutan tempat ke tiga.

Perjalanannya di Manchester United memang terseok-seok. United kalah di laga pembuka Liga Primer Inggris melawan Swansea City di Old Trafford, United tersingkir dari Piala Liga Inggris setelah dibantai oleh Milton Keynes Dons, mereka juga tersingkir dari Piala FA setelah kalah dari Arsenal dikandang sendiri.

Pekan kemarin mereka memang menang meyakinkan dengan skor 3-0 melawan Tottenham Hotspur, tapi Hari Minggu nanti mereka akan bertandang ke Anfield untuk menghadapi Liverpool.

Gagal kah Van Gaal? Jika melihat klasemen sementara di Liga Primer, United sedang bercokol di peringkat empat: ketingalan delapan poin dari Chelsea di puncak, dua poin dari Manchester City di peringkat dua, dan satu poin dari Arsenal di peringkat ke tiga.

Liga masih menyisakan 9 pertandingan lagi untuk Setan Merah. Di jalan yang semakin sulit ini, kritik demi kritik bermunculan tak ada hentinya.

Jika kita melihat kritik terhadap Van Gaal dan United, siapapun pernah mengkritik Van Gaal, bahkan kami pun sering. Tapi kali ini kami akan mencoba untuk melihat kritik tersebut dari “orang-orang terdekat” keluarga Manchester United. Mereka adalah The Class of 1992.

Menjadi legenda kesebelasan belum tentu membuat mulut-mulut mereka tertutup rapat. Komentar demi komentar bermunculan. Kenyataannya kritik adalah salah satu cara untuk menunjukkan kepedulian, kecintaan, dan kadang rasa kasih sayang.

Kecuali Ryan Giggs yang memang menjadi asisten Van Gaal dan David Beckham yang tidak banyak bicara, itu lah yang dilakukan oleh Paul Scholes, Gary Neville, Phillip Neville, Nicholas Butt, dan bahkan Robbie Savage juga, yaitu berkomentar dan mengkritik.

Paul Scholes

Ketika masih menjadi pemain, Paul Scholes adalah orang yang kalem di luar lapangan. Ia jarang bicara, jarang berkomentar ini-itu, sorotan media juga sangat terbatas terhadap pemain yang satu ini. Ia dinilai menjadi orang yang rendah hati, penuh kesederhanaan, dan sangat jauh dari sorotan.

Namun, semuanya berubah sejak Scholes pensiun dari sepakbola. Atau lebih tepatnya, semuanya berubah sejak Sir Alex Ferguson tidak menjadi manajer United lagi.

Terbaru, Scholes kembali mengkritik taktik United di bawah Van Gaal dan mengatakan perekrutan pemain United tidak jitu.

Ia menuduh gaya bermain Van Gaal tidak sesuai untuk skuat United, serta mengatakan United bermain “membosankan” dan “menyedihkan”.

Melalui kolom yang ia tulis di The Independent, Scholes mengatakan: “Saya tahu apa yang Louis van Gaal coba lakukan dengan tim ini, saya hanya mempertanyakan apakah ia memiliki pemain yang tepat untuk melakukannya.”

“Van Gaal telah mencoba apa yang saya akan gambarkan sebagai pendekatan yang lebih bergaya Barcelona. Bek tengah bermain melebar, bek sayap naik, dan semua pemain gemar mengoper bola. Tapi jika menghadapi lawan yang kuat (ia merujuk persiapan pertandingan melawan Tottenham Hotspur pekan lalu), Anda harus bertanya-tanya, apakah itu cara yang tepat.”

Scholes juga menuduh Van Gaal gagal merekrut pemain yang tepat pada musim panas yang lalu, ia mengatakan pemain baru mereka tidak sesuai dengan gaya baru yang diusulkan.

Dia mengatakan: “Sulit untuk memahami para pemain. Pada Maret, United bermain dengan gaya baru dengan pemain yang tidak mumpuni.”

“Nasib seorang manajer ditentukan oleh pemain rekrutan mereka. Anda membeli pemain yang tepat untuk sistem yang Anda percaya akan berhasil. Saya tidak percaya bahwa United telah mencapai keseimbangan itu.”

Tidak itu saja, pada awal tahun ini juga Scholes sempat mengkritik permainan United dengan berkata: “Menonton pertandingan United di bawah Van Gaal bukanlah sesuatu yang bisa saya nikmati. Saat ini permainan United sangat menyedihkan.”

Selain itu, Scholes juga sempat membandingkan akademi United dengan City setelah Man City meyelesaikan pembangunan fasilitas akademi dan pusat latihan senilai 200 juta poundsterling. Ia mengatakan bahwa United bisa tertinggal dari City nantinya dalam urusan memproduksi pemain lokal.

Jika Anda masih belum puas menyimak kritik Scholes di atas, Anda bisa membaca tulisan kami berikut ini.

Gary Neville

Tak jauh berbeda dengan Scholes, Gary Neville juga meluncurkan beberapa kritik terhadap Manchester United di bawah Van Gaal. Lebih parahnya lagi, ia yang menjadi mantan pemain United yang paling gemar mengkritik Van Gaal.

Gary memang sekarang bekerja sebagai pundit yang tentunya pekerjaan utamanya adalah berkomentar. Salah satu komentar pertamanya kepada Van Gaal muncul pada awal musim dengan mengatakan bahwa United telah salah melakukan pendekatan dalam transfer.

Ia menyoroti penjualan Danny Welbeck sebagai blunder yang menyebabkan “United telah kehilangan jiwa mereka” (Selengkapnya, baca di sini).

Selain itu juga ia mengkritik sistem 3-5-2 Van Gaal sebagai sistem yang terlalu menyebabkan United bermain lambat dan penuh risiko.

Menganalisis United pada acara Sky Sports' Monday Night Football, Neville mengatakan 3-5-2 Van Gaal tidak memiliki dinamika dan mendorong pemain untuk lebih mementingkan penguasaan bola daripada menciptakan peluang mencetak gol.

Dia mengatakan: “Mereka memainkan bola dari belakang, seperti kebanyakan kesebelasan yang baik mainkan, tetapi tempo terlalu lambat.”

“Kemudian ketika mereka bermain dengan empat bek, penguasaan bola memang berkurang tapi tembakan ke gawang malah lebih banyak. Ini bukan hanya sistem, tapi juga mentalitas. Saya bukan penggemar 3-5-2.”

Baca juga:

Apa Sebenarnya Filosofi Louis van Gaal?

Potret Louis van Gaal sebagai Dosen Filsafat Olahraga

Keputusan-keputusan Aneh Louis van Gaal

Bersabarlah Kalian, Para Pendukung Manchester United!


Phillip Neville

Senada dengan kakaknya, Gary, Phil Neville juga sempat sekali mengomentari Van Gaal. Setelah penampilan mengecewakan United melawan Burnley, ia berkomentar kepada BreatheSport: “Saya ragu LVG (Louis van Gaal) memiliki sistem dan tim terbaiknya, mungkin ia harus mengorbankan salah satu penyerangnya untuk menemukan keseimbangan yang tepat untuk timnya.”

Tidak seperti Gary, Phil jarang berkomentar di media. Meskipun ia sempat menjadi staf pelatih David Moyes di Everton dan United, kini ia sudah tidak lagi menjadi staf pelatih di United.

Nicholas Butt

Sama seperti Phil, Nicky Butt menjadi anggota The Class of ’92 yang jarang mengomentari Van Gaal dan United. Melalui Daily Star, sekali-kalinya Butt mengomentari United adalah saat ia mengomentari beberapa pemain baru United.

Butt sempat mengomentari Ander Herrera dan Daley Blind. “Mereka berdua sudah bermain dengan baik. Ander (Herrera) sempat mengalami beberapa cedera dan itu menghambat permainannya. Tapi setelah itu ia bisa bermain dengan baik dan tenang ketika menguasai bola.”

“Sedangkan Daley (Blind) juga sudah banyak membantu tim. Mungkin ia adalah salah satu gelandang bertahan yang alami di tim United sekarang.”

Kepada ManUtd.com ia juga berkata bahwa ia merasakan aura positif pada lini serang United. “Saya bersemangat musim ini. Terutama ketika Anda melihat lini depan yang kita miliki sekarang. Seluruh skuat yang kita miliki sangat menarik.”

Sebuah komentar yang sangat berbeda dari yang diutarakan oleh Scholes dan juga Gary mengenai pemain rekrutan baru United.

Robbie Savage

Meskipun bukan merupakan anggota sukses The Class of ’92, Robbie Savage memang merupakan mantan binaan akademi United sejak 1991 sampai 1993 sebelum akhirnya ia pindah ke Crewe Alexandra pada 1994.

Savage sempat banyak berkomentar tentang United di bawah Van Gaal.

Melalui sebuah kolomnya di Mirror, Savage mengatakan: “Kadang-kadang, sepakbola Man United di bawah Van Gaal seperti (film) Fifty Shades of Grey. Mereka tidak selalu menggembirakan. Perubahan taktik (saat melawan West Ham) memang tidak berjalan mulus, tapi United berhasil mendpatkan poin.”

“Tidak ada yang salah dengan plan B (rencana cadangan) - karena rencana tersebut bekerja dengan baik. Masalahnya, plan A (rencana utama) mereka lah yang masih kurang jelas. Van Gaal tampaknya tidak tahu susunan sebelas pemain atau formasi terbaiknya.”

Komentar yang serupa dengan Phil, hanya saja Savage lebih mencontohkannya dengan halus.

Tidak hanya itu, setelah United kalah 1-0 dari Southampton (11/01), Savage juga sempat berkomentar mengenai pertahanan buruk United.

“Southampton baru kebobolan 15 gol, namun kontras dengan tiga bek United: mereka menyedihkan.”

“Ada terlalu banyak jarak di antara mereka dan mereka tidak bisa bertahan dengan baik. Mereka terus membuat kesalahan. Di Stoke, mereka rentan saat bola mati.”

“Mereka memiliki cukup waktu sekarang, mungkin jika Anda mengambil (Tyler) dan (Paddy) McNair, Anda bisa memahaminya. Tapi (Phil) Jones sudah merupakan pemain United untuk waktu yang cukup lama, seharusnya ia bisa bermain lebih baik.”

“Kecuali United mengubah situasi dengan membeli bek kualitas, mereka tidak akan menjadi penantang serius untuk gelar Liga Primer atau Liga Champions. Jika mereka membeli dua bek berkualitas, maka ya, saya mungkin bisa melihat mereka memenangkan Liga Primer tahun depan.”

Kritik mereka tidak ada artinya

Kembali ke awal tulisan ini, siapapun berhak mengkritik Louis van Gaal. Namun jika boleh jujur, sebenarnya mengkritik Van Gaal adalah sebuah kesia-siaan.

Van Gaal telah memenangkan banyak gelar sebelumnya. Sementara kita terus mempertanyakan metode Van Gaal di United, mulai dari filosofi, skema permainan, perekrutan pemain, pemilihan pemain, dan hal-hal mendetail lainnya.

Saat ini, semua orang yang mengkritik Van Gaal sudah disinonimkan dengan mereka yang memang ingin dia dipecat.

Masalahnya, kita tidak dapat terus mendukung seorang manajer sementara pada saat yang sama kita terus dibuat prihatin.

Pertama, jika kita berani mempertanyakan mengapa dua bursa transfer telah berlalu tanpa Manchester United mendatangkan bek tengah baru (selain Marcos Rojo), maka kita jelas tidak memahami betapa banyaknya pemain yang Van Gaal miliki.

Ke dua, kita tidak bisa secara terbuka mempertanyakan mengapa Angel Di Maria tidak bisa bermain sebaik saat ia bermain di Real Madrid atau tim nasional Argentina. Sementara Wayne Rooney, yang sudah mencetak lebih dari 200 gol, yang beberapa kali Rooney dimainkan sebagai gelandang.

Demikian pula kemudian, jika kita merenungkan mengapa Luis Antonio Valencia terus bermain sebagai bek kanan ketika Rafael da Silva yang posisi alaminya adalah bek kanan, tapi Valencia malah semakin bersinar bersama Marouane Fellaini dan Ashley Young, dua pemain yang mati suri di era David Moyes. Maka kita akan lebih terheran-heran lagi.

Selanjutnya, ketika kita mempertanyakan filosofi Van Gaal yang langsung merefleksikan strategi, pola, dan cara bermain; apa yang kita ketahui tentang filosofi Van Gaal? Semakin memusingkan...

Kita adalah pendukung sepakbola, sama seperti Scholes, Neville bersaudara, Butt, dan Savage. Bedanya, kita mungkin lenih rendah dari mereka karena kita bukanlah legenda Manchester United.

Tanpa disadari, kebanyakan dari kita akan sepakat dengan komentar umum: “Saya sepenuhnya bisa mengerti bahwa Louis van Gaal membutuhkan lebih dari satu musim untuk menancapkan filosfinya dengan baik di Manchester United.”

Silakan kembali berkomentar lagi di akhir musim nanti. Sayangnya, nanti pun kita hanya membuang-buang waktu saja dengan menyampaikan komentar dan kritik lainnya. Padahal Van Gaal tidak peduli. Kecuali Van Gaal gagal dan dipecat, maka kita akhirnya bisa senang. Eh?

Baca juga:

Louis van Gaal, Benteng Terakhir United dalam Perang Komentar di Media

Komentar