Cliff Bastin: Dia yang Mendahului Wright dan Henry

Cerita

by Taufik Nur Shidiq

Taufik Nur Shidiq

Writer (Oct 2014 - Mar 2016); Editor (Nov 2017 - Nov 2018)

Cliff Bastin: Dia yang Mendahului Wright dan Henry

Thierry Henry berada di puncak daftar pencetak gol terbanyak Arsenal sepanjang masa dengan torehan 228 gol. Sebelum Henry berada di sana, ada Ian Wright dengan catatan 185 gol. Sebelum dikuasai Wright, posisi tersebut dikuasai Cliff Bastin; 178 gol dalam 395 pertandingan. Fakta bahwa Bastin bukan seorang penyerang tengah seperti Wright dan Henry membuat catatan ini nampak luar biasa.

Dalam skema permainan W-M yang diterapkan Herbert Chapman, Bastin bermain di posisi kiri luar. Jeff Harris, penulis buku Arsenal WhoÃ?â??s Who, mengemukakan alasan ketajaman Bastin dalam bukunya: "Alasan Bastin menjadi begitu mematikan adalah bahwa ia tidak seperti para pemain sayap lain; ia berdiri setidaknya sepuluh yard dari garis tepi sehingga otak sepakbolanya yang waspada dapat berkembang maksimal dengan memanfaatkan umpan terobosan James yang membelah pertahanan."

Sementara itu Phil Soar dan Martin Tyler, dalam buku The Official Illustrated History of Arsenal, berpendapat bahwa ketajaman Bastin sangat dipengaruhi oleh strategi yang diterapkan Chapman: "Di musim 1932/33 Bastin dan [Joe] Hulme secara keseluruhan mencetak 53 gol, yang menjadi bukti nyata bahwa Arsenal memainkan strategi yang sangat berbeda dari kesebelasan-kesebelasan lain, yang cenderung terus bergantung kepada para pemain sayap untuk membantu para penyerang mencetak gol, bukan mencetak gol sendiri."

Clifford Sidney Bastin, putra dari pasangan Henry dan Maud Bastin, lahir pada 14 Maret 1912 di 40 New North Road, Exeter, Devon. Yang menarik, ia tidak begitu terkenal di Devon hingga bersinar bersama Arsenal di usia yang masih sangat muda. Pemain berjuluk Boy Wonder ini mendapatkan kesempatan membela tim nasional Inggris di usia 19 tahun. Sebelum tampil untuk kali pertama bersama tim nasional. ia sudah berhasil menyabet gelar juara liga dan Piala FA. Hingga saat ini, Bastin masih menyandang status pemain termuda yang pernah merasakan ketiganya.

Di masa mudanya, Bastin bermain untuk Ladysmith School hingga Exeter City merekrutnya dan memberi Bastin kesempatan untuk menjalani debut di tim senior pada 14 April 1928. Usia Bastin saat itu baru 16 tahun. Pertemuannya dengan Chapman terjadi tidak lama kemudian, dan diwarnai unsur ketidaksengajaan.

Champan datang ke St James Park untuk memantau pemain Watford dalam sebuah pertandingan melawan Exeter. Melihat Bastin, Chapman berubah pikiran dan memutuskan untuk membawa Bastin ke London.

Bastin tidak langsung menyetujui tawaran yang diajukan Arsenal, namun ia akhirnya mau meninggalkan Exeter. Pada 27 April 1929, Bastin resmi menjadi pemain Arsenal. Sebagai gantinya, Exeter mendapatkan dana transfer sebesar 2.000 pound sterling.

Di Arsenal, Bastin menjadi pemain andalan hingga karir sepakbola profesionalnya harus terhenti sementara karena Perang Dunia. Ia sendiri tidak terjun ke medan perang karena memiliki pendengaran yang lemah akibat infeksi telinga. Sebagai gantinya, ia mengabdi kepada negara dengan cara bermain sepakbola.

Selama masa perang, Bastin bermain dalam 250 pertandingan persahabatan yang bertujuan menjaga moral rakyat sipil. Lucunya, radio Italia yang bergerak di bawah arahan Benito Mussolini mengklaim bahwa mereka berhasil menangkap Bastin di medan perang.

Klaim tersebut tentunya tidak benar. Bastin terus berada di Inggris dan menghabiskan masa tuanya bersama sang istri di North Circular Road.

Komentar