Konflik Ukraina, Shakhtar, dan Politik

Cerita

by Frasetya Vady Aditya

Frasetya Vady Aditya

Penyunting. Jangan terkekang; sepakbola cuma cangkang. Kontak: vady.aditya@gmail.com

Konflik Ukraina, Shakhtar, dan  Politik

Shaktar Donetsk merupakan kesebelasan dengan sejarah panjang di Ukraina. Satu-satunya kesialan bagi Shaktar adalah ia berada di ujung timur Ukraina yang tengah bergejolak. Demi keamanan kesebelasan dan lawan, mereka mengungsi 1200 kilometer jauhnya ke Kota Lviv.

Toko merchandise di Stadion Donbas Arena masih saja ramai. Bukan karena penggemar yang akan membeli syal atau kostum replika, tapi oleh orang-orang yang membutuhkan makanan, obat-obatan, dan pakaian.

Memang, mereka yang menempati toko tersebut masihlah orang-orang Shaktar. Sang pemilik, Rinat Akhmetov menggelontorkan banyak dana untuk membentuk organisasi untuk membantu anak-anak yang terkena paparan konflik.

Shaktar sudah kadung melekat begitu erat di Donetsk. Mereka dimiliki oleh perusahan investasi besar bernama System Capital Management (SCM). Konflik di timur Ukraina membuat keduanya sama-sama menderita.

Menjadi Kesebelasan Modern

Akhat Bargain merupakan pemilik awal dari Shaktar. Naas pada 1995 ia dibunuh saat menyaksikan pertandingan. Akhmetov dan Bragin adalah karib. Bisa dibilang, Akhmetov adalah tangan kanan kepercayaan Bragin. Ia pun mengambil alih aktivitas bisnis Akhmetov di area Donbas. Ia menjadi pemilik resmi Shaktar pada 1997.

Pengambilalihan itu membuat Shaktar sering bertemu dengan kesebelasan top di Eropa. Bukan lewat pertandingan pra musim melainkan karena mereka hampir selalu lolos ke kompetisi Eropa. Di bawah kepemimpinan Akhmetov, Shaktar memenangi sembilan gelar juara liga, delapan piala liga, dan satu Piala UEFA pada 2009.

Namun kesuksesan itu membutuhkan pengorbanan. Akhmetov menggelontorkan 900 juta pounds untuk Shaktar, termasuk 260 juta pounds untuk membangun stadion. Ketergantungan Shaktar terhadap Akhmetov amatlah besar, karena ia juga yang menalangi saat kesebelasan merugi.

Akhmetov mengubah filosofi kesebelasan dengan mendatangkan pelatih berpengalaman asal Romania, Mircea Lucescu. Ia juga mendatangkan ahli marketing dari luar negeri termasuk Joe Palmer yang pernah bekerja di Manchester United. Palmer membawa perubahan besar bagi Shaktar termasuk membuat saluran televisi khusus.

Penempatan orang-orang menjadi hal penting dalam metode Akhmetov. Ia mendatangkan spesialis yang mengerti benar tentang bisnis di sepakbola. Termasuk menempatkan Patrick van Leeuven yang pernah bekerja untuk akademi Rotterdam untuk mengembangkan akademi mereka.

Perubahan tersebut membuat Shaktar menjadi kesebelasan di Ukraina dengan fasilitas modern, stadion megah, dan akademi yang hebat.

Baca juga: Konflik Ukraina buat Shaktar Kehilangan 6 Pemain


Disokong Perusahaan Besar

Saat ini, SCM membawahi lebih dari 100 perusahaan yang bergerak di bidang tambang, keuangan, telekomunikasi, perumahan, media, peralatan berat, transportasi, dan pertanian. Selain di Ukraina, SCM juga berbasis di Rusia, Amerika Serikat, Italia, Inggris, Swiss, dan Bulgaria dengan mempekerjakan 300 ribu karyawan.

Pada 2006, Shaktar dimiliki penuh oleh SCM. Ini sebenarnya memperlihatkan keinginan Akhmetov untuk menjadikan Shaktar sebagai perusahaan yang transparan dan terbuka. Bukan apa-apa, karena toh Akhmetov juga yang memiliki SCM. Shaktar merupakan sedikit dari kesebelasan di Ukraina yang membayar pajak.

Shaktar sendiri sudah bukan lagi representasi dari Donbas, tapi juga Ukraina. Ini sejalan dengan filosofi Shaktar yang ingin mengembangkan kultur sepakbola di negara tersebut. Lewat label â??All-Ukranian clubâ?, bermain di manapun, termasuk di Lviv saat bertanding menghadapi Bayern Munich, tidaklah masalah bagi Shaktar, terutama soal jumlah kehadiran penonton.

Masalah lainnya adalah ketakutan para pemain asing untuk tetap tinggal di Donbas. Konflik di timur Ukraina membuat rumor tentang penjualan pemain asing beredar kencang. Namun, lagi-lagi Shaktar mampu menangani itu semua.

Shaktar merupakan destinasi bagi pemain dari Amerika selatan, serta bekas pecahan Uni Soviet. Liga Champions menjadi etalase bagi mereka untuk mempertunjukkan kemampuannya di hadapan kesebelasan dari Eropa bagian barat yang tak sungkan mengeluarkan uang lebih.

Krisis membuat Shaktar sepertinya mesti melepas satu atau dua pemain pada musim panas mendatang, salah satunya Douglas Costa yang dikabarkan diminati Chelsea senilai 30 juta pounds. Nilai ini bisa saja semakin menurun andai konflik di Donbas tak juga berakhir. Pemain serta agen memiliki nilai tawar tinggi terlebih jika mereka beralasan tak betah berada di Ukraina.

Akhmetov merupakan sosok terpandang di Ukraina. Ia bahkan dicalonkan menjadi presiden federasi sepakbola Ukraina, FFU. Konflik membuatnya terseret dalam tuduhan politik. Ia dituduh mendanai kelompok pemberontak di Donbass. Namun, banyak yang percaya kalau tuduhan tersebut karena kecemburuan belaka dari lawan politik Akhmetov.

Dua Tim Ukraina Pindah ke Liga Rusia

Tragedi MH-17 dan Ultras Ukraina

Dnobas Arena yang Dirindukan


**

Shaktar tengah terguncang. Mereka dibantai 0-7 dalam pertandingan Liga Champions menghadapi Bayern Munich tengah pekan lalu. Padahal, Liga Champions menjadi etalase bagi mereka untuk menunjukkan kehebatan yang telah dibangun 20 tahun silam.

Di liga, tidak ada yang tahu bagaimana nasib perjalanan Shaktar selanjutnya. Jika para pemain bertalenta meminta pindah, lantas siapa yang akan menjadi penggantinya? Â Konflik di timur Ukraina membuat fasilitas latihan di Donbas tak lagi semodern dulu. Donbas Arena bukan lagi stadion yang megah, karena ancaman rudal bisa datang kapan saja.

Akhmetov mesti memikirkan cara lain untuk mengembalikan kejayaan. Jika terlambat, bukan tidak mungkin mereka akan terpuruk selamanya.

Disadur dengan tambahan seperlunya dari tulisan Manuel Veth dari Open Democracy.


Sumber gambar: bbc.co.uk

Komentar