Keganjilan Industri Sepakbola Inggris

Cerita

by Randy Prasatya

Randy Prasatya

Everything you can imagine is real.

Keganjilan Industri Sepakbola Inggris

Sepakbola Eropa sekarang bukan lagi soal menang atau kalah, tapi juga soal untung atau rugi. Dan sepertinya, Jerman sedang menemukan titik kesetimbangan yang meyakinkan. Berbeda dengan sepakbola Inggris, misalnya.

Jika merujuk performa Bundesliga selama satu dekade belakangan ini, secara keseluruhan Bundesliga sedang berada di masa kejayaannya. Begitupun dengan masa kejayaan perekonomian di Jerman yang berada pada posisi puncaknya. Antara prestasi dan industri, sepakbola Jerman bisa seiring jalan. Industri sehat, tak banyak hutang, prestasi pun menemukan puncaknya dengan jadi juara dunia 2014 di Brazil.

Namun, ada satu anomali. Di saat pertumbuhan ekonomi di Inggris sedang jatuh, dan ketika pemerintah Inggris melakukan privatisasi sektor kesehatan publik, hal berkebalikan terjadi pada aktivitas transfer setiap kesebelasan Inggris.

Di saat mayoritas negara Eropa mengencangkan ikat pinggang karena krisis finansial, rekor demi rekor pemecahan transfer pemain justru semakin marak pada beberapa musim terakhir ini. Bagaimana ini bisa terjadi padahal pertumbuhan ekonomi Inggris yang sedang mengalami guncangan. Meningkatnya pengangguran dan banyaknya warga yang terusir dari tempat tinggalnya, dalam lima tahun terakhir, menjadi persoalan laten di Inggris.

Dalam iklim perekonomian semacam itu, Liga Inggris justru semakin megah dan glamor dengan mendatangkan dan memamerkan pemain-pemain bintang di etalase industri mereka: layar kaca.

Tentu saja pemain bintang yang ada di Liga Premier merupakan pemain yang tidak berasal dari tanah Inggris. Ketamakan ini seolah memakan Liga Primer hidup-hidup. Jumlah pemain asli Britania Raya (Inggris, Skotlandia, Wales, dan Irlandia Utara) kalah jauh dibandingkan dengan pemain asing.

Baca juga: Sepakbola Berkarakter, Sepakbolanya Orang Jerman

Cara Klub Bundesliga Bisa Eksis Tanpa Hutang


Praktis ini membuat Inggris seperti rumah bagi pemain-pemain asing  dengan gaji yang begitu besar. Seluruh kesebelasan Liga Primer sudah mengeluarkan 901 juta pound untuk mendatangkan 292 pemain, menurut data yang dirilis oleh Deloitte pada 2014. Kemudian jika kita mengerucutkan untuk hanya melihat pemain-pemain yang dibeli mahal saja, dalam 14 tahun terakhir ini, Liga Primer Inggris sudah memperlihatkan kenaikan yang signifikan.

Sejak tahun 2008 sampai 2014, banyak pemain mahal yang datang menuju Briania Raya. Sementara yang meninggalkan Britania Raya hanya sedikit saja. Jika melihat data sebelumnya, itu terlihat sangat aneh dan cenderung tidak masuk akal. Yang pergi sedikit, tapi yang datang terus bertambah, bertambah dan bertambah -- dengan biaya yang tentu tidak murah.

Kesebelasan-kesebelasan Inggris kian boros dan begitu mudahnya mengeluarkan uang yang demikian banyak untuk mendatangkan seorang pemain sambil mengacaukan pasar pemain se-Eropa, bahkan se-dunia.

Sementara itu, pemegang kontrak hak siar Liga Inggris terbesar tetap berada di tangan Sky Sports yang telah menyiarkan kompetisi tersebut selama 20 tahun. Sky membayar 2,3 miliar pound untuk menayangkan 116 pertandingan permusim selama tiga musim, mulai dari 2013/2014.

Total dana yang diterima oleh Primer League dari Sky dan BT mencapai 3 miliar pound, atau naik 71% dari kontrak sebelumnya. Ini belum termasuk dengan hak siar internasional, atau hak siar Liga Inggris untuk negara-negara lainnya.

Menurut Deloitte, dari uang televisi tersebut, rata-rata tiap kesebelasannya memperoleh 25 juta pound lebih banyak ketimbang musim lalu, sehingga rata-rata uang yang diterima oleh tiap kesebelasan EPL berkisar di angkat 60 juta pound. Hal inilah yang mendorong Liga Inggris bisa memecahkan rekor transfer pembelian pemain. Di sisi lain, para pemegang hak siar pun tak sia-sia mengeluarkan dana sedemikian banyak.

Ini memang merupakan bisnis yang sangat menarik. Bagaimana tidak, karena kesebelasan, pemain, atau penyiar tidak mengalami kerugian sama sekali meskipun harga hak siar menjadi tinggi.

Namun ketika dievaluasi sebagai bisnis normal, Liga Primer Inggris diprediksi akan bangkrut dalam dua tahun saja. Ini terlihat sebagai suatu keanehan, karena bukankah kesebelasan mendapatkan demikian banyaknya pemasukan dari penjualan pemain dan sponsor, selain dari hak siar?

Alasan utama prediksi tersebut adalah jurang keuntungan yang cukup jauh antara sepakbola dengan perusahaan secara umum. Liga Primer memiliki Return on Assets (RoA) minus 5% akibat dari tingginya gaji pemain-pemainnya dan juga neraca negatif yang dihasilkan dari ketimpangan transfer masuk dengan transfer keluar.

Secara ilmu dasar ekonomi, terlihat indikasi bahwa kebangkrutan satu liga bisa terjadi di masa depan. Hal ini bisa diawali dengan bangkrutnya beberapa kesebelasan di liga tersebut. Bahkan, liga yang secara finansial tergolong aman sekalipun, misalnya Jerman atau Prancis, belum tentu kebal dengan risiko finansial tersebut.

Bangkrut mungkin iya, tetapi eksistensi mereka akan tetap ada. Mungkin secara jelasnya beberapa kesebelasan akan mulai bangkrut, berkompetisi di tingkat yang lebih rendah, memotong gaji pemain mereka, dan akhirnya hanya memiliki pemain-pemain kelas dua saja.

Persoalan selanjutnya adalah apakah mereka mampu bangkit dan mengais kejayaan lagi. Harapan terbentang lebar tentunya. Rangers sedang bangkit, bahkan Fiorentina yang bangkrut dan sampai bermain di Serie C, sekarang sudah bermain di Serie A kembali dan hampir secara reguler bermain di Eropa.

Memang kesebelasan sepakbola bertahan karena beberapa pelanggan mereka yang berlabel “fans” tetap setia seberapa buruk pun produk yang dihasilkan. Maka dari itu tidak heran jika investor tidak pernah ragu untuk menanamkan modal di sepakbola. Seberapapun risikonya, sepakbola memang seperti zombie: mereka mungkin bisa mati, tetapi mereka akan selamanya menggentayangi kehidupan kita.

Baca juga penjelasan secara grafisnya di Sepakbola sebagai Anomali Bisnis

Pengaruh Krisis Ekonomi Terhadap Skuat Timnas Yunani

Apakah Pemain Sepakbola Pantas Dibayar Mahal?

Komentar