Porto Tak Bisa Dihancurkan oleh Penjualan-Penjualan Pemain Bintang

Cerita

by Randy Prasatya

Randy Prasatya

Everything you can imagine is real.

Porto Tak Bisa Dihancurkan oleh Penjualan-Penjualan Pemain Bintang

Dalam bisnis, anda harus mengambil risiko tinggi jika ingin mendapat keuntungan yang tinggi. Ikan besar harus dipancing dengan umpan yang juga besar. Teori ini telah diterapkan banyak kesebelasan sepakbola di Eropa. Demi mendapatkan prestasi, mereka tak ragu untuk merogoh koceknya dalam-dalam agar bisa merekrut pemain-pemain yang dianggap bisa membawa trofi sebanyak-banyaknya.

Hal inilah yang kerap dilakukan Real Madrid. Mereka tak ragu untuk membeli dan menggaji Cristiano Ronaldo dengan biaya sangat mahal demi melanjutkan tren Madrid sebagai kesebelasan jawara. Itu pun tak cukup. Lalu mereka datangkan juga Gareth Bale, James Rodriguez hingga Toni Kroos. Ini melanjutkan kebiasaan lama mereka. Dan hasilnya telah terbuki. Trofi demi trofi berhasil diraih Madrid, tak terkecuali setelah mendatangkan Ronaldo. Gelar La Decima yang telah lama diidam-idamkan kesebelasan ibukota Spanyol tersebut pun akhirnya berhasil digapai.

Namun hal berbeda dilakukan FC Porto dari Portugal. Mereka tak mendatangkan pemain bernilai tinggi. Justru mereka lebih gemar menjual para pemain terbaiknya dengan banderol yang mahal. Hampir di setiap bursa transfer Porto selalu menjual para pemain andalannya. Yang terbaru, Eliaquim Mangala dilepas ke Manchester City dengan nilai transfer 40 juta euro.

Meski menjadi pemain utama di dalam susunan kesebelasan Porto musim lalu, Porto justru tak ragu untuk melepasnya. Hal tersebut menjadi sesuatu yang lumrah. Sebab ritual kegiatan melepas pemain utama sudah dilakukan Porto sejak satu dekade yang lalu dan tak terhitung lagi berapa banyak pemain yang telah dilepas. Kegiatan ini pulalah yang membuat Porto meraup keuntungan yang besar.

Anehnya, meski selalu kehilangan banyak pemain utama, Porto masih mampu meraih trofi juara. Dalam dua dekade terakhir, mereka sukses meraih 29 gelar juara, dari trofi domestik, trofi Eropa (UCL dan UEFA Cup/Liga Eropa) hingga trofi antar klub dunia.

Kegemilangan Porto dalam melakukan praktik tersebut dimulai pada 2002. Kala itu Porto menunjuk Jose Mourinho sebagai pelatih. Memang penunjukan itu terlihat seperti perjudian jika mengingat prestasi Mourinho hanyalah sebagai penerjemah Bobby Robson dan Louis van Gaal. Saat melatih Benfica dan Union de Leiria pun ia tidak memperoleh prestasi apapun.

Tapi siapa yang menyangka jika Mou ternyata mampu membuat dunia terpana dengan raihan trebble winner musim 2002/2003. Catatan itu pun hanya diraihnya dalam satu musim dengan membawa pulang juara liga, Piala Portugal dan Europa League.

Musim berikutnya bahkan menjadi teramat spesial. Mou sukses mengawinkan gelar liga dengan trofi Liga Champions. Dan kali ini tentu lebih fantastis. Sebab, siapa yang menyangka Porto bisa mengangkangi Eropa? Porto merupakan kesebelasan yang tidak banyak diperhitungkan. Tapi semua berubah di tangan The Special One.

Keberhasilan-keberhasilannya mengangkat nama Porto membuat kesebelasan asal Inggris, Chelsea, ngotot membawanya ke Stamford Bridge. Ia pun berlabuh di London bersama bersama dua pemain belakang Porto, Ricardo Carvalho dan Paulo Ferreira. Total transfer kedua pemain belakang itu pun dihargai dengan angka yang tinggi oleh Chelsea. Harga 40 juta poundsterling menjadi mahar bagi Chelsea untuk meminang kedua pemain tersebut.

Tapi lagi-lagi itu tidak menjadi masalah untuk Porto. Mereka dengan mudah membangun kembali skuatnya, sehingga bisa tetap kompetitif, dan lagi-lagi juara.

Dari musim ke musim, Porto seolah tak pernah kehabisan stok pemain bintang meski rutin melakukan penjualan. Dari era Carvalho, Deco, Maniche dan Lisandro Lopez, kemudian digantikan Pepe, Raul Meireles, Falcao dan Bruno Alves, dan terus berlanjut hingga Hulk, Joao Moutinho, James Rodriguez, Fernando dan Mangala. Nama-nama pemain tersebut merupakan bukti keberhasilan para pencari bakat Porto.

Semenjak Mourinho membawa Carvalho dan Fereira, pencarian pemain muda berbakat dengan harga murah masih terus dilakukan. Porto bahkan sampai menyebar 250 pencari bakat ke seluruh dunia. Hal itu diakui General Manager Porto, Anterio Henrique, pada media France Football. Ketika seorang pemain Porto mendapatkan tawaran dari kesebelasan lain, Porto sudah menyiapkan pemain yang akan menggantikan pemain tersebut dengan kualitas yang tak jauh berbeda.

Baca juga: Mourinho Membawa Porto Juara Liga Champions

Delapan Pemain Muda Liga Portugal yang Siap Meroket


"Kita menggunakan 250 pencari bakat ke seluruh dunia. Kita mengkategorikannya dengan pencari bakat internal dan eksternal. Nantinya, para pemandu bakat tersebut akan menyodorkan dua pemain pada setiap posisi dan nantinya kami akan memilih siapa saja yang cukup berkualitas untuk mendapatkan kontrak dari Porto," ujarnya.

Dan melepas pemain dengan harga yang tinggi menjadi tugas dari sang agen pemain, Jose Mendes. Orang inilah yang menghadirkan keuntungan besar bagi Porto untuk melepas pemain dengan harga yang sangat mahal. Pendiri perusahaan agensi Gestifute itu memiliki hubungan erat dengan bos Porto, Pinto da Costa. Mendes menjadi agen kepercayaan da Costa, setelah sang pemilik kecewa pada agen sebelumnya, Jose Veiga.

Mendes bertugas untuk mengusulkan nama pemain yang tepat untuk bermain denga Poto. Dan bahkan Mendes selalu memberi perkiraan harga keuntungan yang bisa didapatkan dari sebuah pembelian. Tentu keuntungan yang didapat Porto lagi-lagi melalu jaringan luas yang dimiliki Mendes dengan klub-klub Eropa.

Manajemen Porto memang cukup pintar dalam mencari keuntungan transfer. Selain mendapatkan keuntungan dari para pemain, Porto pun beberapa kali melakukan pembelian pemain yang sebelumnya sempat merumput di Porto, lalu dijual kembali dengan harga yang lebih tinggi.

Seperti Lucho Gonzalez yang kembali bergabung bersama Porto pada 2009, setelah dijual ke Marseille dengan bandrol 19 juta pounds ke Marseille.

Baca juga bebrapa pemain Porto selengkapnya di Kesuksesan FC Porto Menaklukkan Industri Sepakbola

Cinta Sejati Ricardo Quaresma


Sumber gambar: fcporto.pt

Komentar