Pengabdian Alessandro Lucarelli pada Parma dan Sepakbola

Cerita

by Ludwika Dendy

Ludwika Dendy

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Pengabdian Alessandro Lucarelli pada Parma dan Sepakbola

Kondisi Parma FC kini sungguh mengenaskan. kesebelasan yang di awal milenium tergabung dalam magnificient seven itu kini terkatung-katung nasibnya akibat masalah finansial. Imbasnya, dua laga Serie A terakhir melawan Genoa dan Udinese harus ditunda karena tidak ada dana bagi Parma untuk melakoni pertandingan tersebut.

Masalah finansial juga mengancam eksistensi Parma di Serie A. Bila tidak segera diselesaikan maka Parma akan menyusul Fiorentina di tahun 2002, Napoli di 2004 atau yang terbaru, Siena di 2014 yang bangkrut dan harus turun ke kasta terendah liga italia, yaitu Serie D.

Selain itu, eksodus perpindahan pemain juga mengancam Parma. Tidak perlu menunggu lama, di bulan januari lalu penyerang terbaik mereka, Antonio Cassano, memilih memutus kontrak dan meninggalkan Parma.

“Kini saya merasa lebih baik mengakhiri kontrak karena mereka terus memeras selama tujuh bulan terakhir. Saya lelah dan memutuskan untuk pergi,” ujar Cassano, yang gajinya belum dibayar oleh Parma dari awal musim.

Ya, pemain-pemain parma memang belum menerima gaji semenjak Seria A 2014/2015 dimulai. Fakta yang mengejutkan bahwa mereka tetap bersedia bermain hingga 23 pekan.

Cassano dan Saga Karena Masih Bisa Berlari

Kesetiaan sang kapten

Tetapi bagi Alessandro Lucarelli, ancaman degradasi maupun masalah finansial tidak serta merta menggoyahkan loyalitas sang kapten bagi I Gialloblu.

“Saya akan bermain di Serie D bagi Parma jika diperlukan,” ujar Lucarelli pada Radio D’Anchio, menanggapi rumor akan didegradasinya Parma ke divisi terbawah liga professional di Italia.

Karir Lucarelli sebagai pemain sebenarnya tidak terlalu bersinar. Sebelum membela Parma, pemain yang kini berusia 37 ahun ini malang melintang di banyak kesebelasan medioker di Italia. Mengawali karir professional di Piacenza, Lucarelli kemudian berturut-turut membela Palermo, Fiorentina, Livorno, Reggina, Siena, Genoa dan terakhir di Parma.

Alessandro Lucarelli membela Parma sejak dari musim 2008/2009. Pemain yang berposisi sebagai bek tengah ini adalah kapten Parma sejak 2013 hingga saat ini, dan telah mencatatkan lebih dari 200 penampilan bagi Parma.

Dan di Parma-lah, Alessandro meletakkan kesetiaannya. “Setelah tujuh tahun, saya merasa seragam ini adalah milik saya, dan saya bersedia untuk bermain bagi klub ini di level apapun," lanjutnya.

Di saat sekarang ini, kesetiaan pemain terhadap kesebelasan sudah jarang ditemui. Kibasan materi, godaan prestasi maupun terpuruknya kesebelasan yang dibela membuat pemain sering bergonta-ganti klub. Industri sepakbola, kian lama kian melumerkan eksistensi kata "loyal" dalam sepakbola.

Nama-nama seperti Alessandro Del Piero, Gianluigi Buffon, ataupun Pavel Nedved pantas diapresiasi atas kesetiaan mereka yang tetap membela Juventus setelah terdegradasi ke Serie B di musim 2006/2007.

Tetapi bagaimanapun juga, Si Nyonya Tua tetaplah kesebelasan besar, bahkan setelah kasus calciopoli. Terbukti hanya dalam waktu semusim, Juve kembali ke habitatnya di Serie A dengan status juara Serie B. Mereka pun tak mengalami kesulitan finansial semengerikan Parma sekarang.

Berbeda dengan kondisi Parma saat ini, dengan kondisi finansial yang parah (Parma dilaporkan memiliki hutang sebesar 197 juta euro) dan ancaman turun ke serie D, kesetiaan pemain terhadap kesebelasan seperti ini merupakan hal yang luar biasa.

Dengan pernyataannya yang menegaskan bahwa dia tidak akan meninggalkan Parma dengan kondisi apapun, Alessandro Lucarelli adalah sosok pemain yang luar biasa. Apa yang melatarbelakangi keputusannya tersebut?

Pengaruh Livorno

Livorno adalah sebuah kota pelabuhan di barat Italia, sekitar 360 km arah barat laut dari kota Roma. Kota Livorno sendiri bukanlah kota sebesar Roma atau Milan. Kesebelasan asal kota ini, A.S. Livorno Calcio juga bukan termasuk kesebelasan elit. Prestasi terbaik AS Livorno cuma peringkat 2 Serie A pada musim 1942/1943.

Yang membuat Livorno terkenal memang bukan soal prestasi, tetapi soal ideologi. Kota Livorno adalah basis bagi komunisme di Italia, berkebalikan dengan Italia dahulu yang terkenal dengan fasisme nya. Dan AS Livorno adalah perwujudan yang paling tepat untuk menggambarkan ideologi haluan kiri tersebut.

Saat Livorno bermain di kandang, dapat dipastikan di salah satu sudut stadion Armado Picchi dipenuhi oleh ultras Livorno. Sebagai ultras yang berhaluan komunis, mereka tidak segan-segan meneriakkan yel-yel tentang anti-rasis, anti-fasis dan protes terhadap pemimpin politik.

Alessandro Lucarelli lahir dan besar di Livorno. Alessandro sendiri tidak lain adalah adik dari Cristiano Lucarelli, mantan penyerang Livorno yang terkenal dengan keberpihakannya pada ideologi komunis. Dan sebagai orang Livorno, Lucarelli bersaudara juga mewakili apa yang menjadi identitas kota mereka, komunisme.

Baca: Livorno: Benteng Terakhir Komunisme di Italia

Triangle Brotherhood dan Sisi Lain Tribun Livorno

Orang-orang Kiri di Persimpangan Lapangan Bola


Cristiano secara terang-terangan menunjukkannya dengan simbol di dalam maupun di luar lapangan. Di lapangan, Cristiano sering melakukan selebrasi mengepalkan tangan dan meninju langit seperti halnya kaum komunis dan sosialis.

Di luar lapangan, Cristiano adalah anggota kelompok ultras Brigate Autonome Livornesi (BAL), salah satu ultras dari Livorno. Cristiano juga mentato badannya dengan logo kesebelasan Livorno.

Terdidik dalam lingkungan yang banyak menjunjung tinggi prinsip-prinsip sosialisme macam itu, Alessandro akhirnya tampil ke permukaan mewakili arti "kesetiaan" dalam sepakbola. Ia, bersama abangnya Cristiano, memperlihatkan bagaimana sepakbola masih lompatibel untuk mewedarkan prinsip-prinsip persaudaraan, kesetaraan, juga solidaritas dan kesejahteraan bersama.

Sebagai kapten, Alessandro Lucarelli sudah melaksanakan tanggung jawabnya menjaga moral rekan-rekannya di ruang ganti. Tugas yang tidak mudah mengingat para pemain belum menerima gaji selama berbulan-bulan.

Dan meskipun secara hukum Lucarelli dan pemain Parma bisa menuntut klub karena tidak memenuhi kewajiban membayar gaji pemain, tetapi dia tidak melakukannya.

“Menuntut klub (dan membuatnya bangkrut) sama artinya dengan membuat 200 keluarga yang bekerja pada Parma menjadi pengangguran,” jelas Lucarelli. “Saya tidak berpikir tentang para pemain, tetapi tentang mereka mereka yang mendapat gaji 1000 euro per bulan. Kami merasa tanggung jawab tersebut ada di pundak kami.”

Pahlawan Sepakbola

Di luar lapangan, secara terbuka Alessandro mengkritik sikap rekan seprofesinya dalam kasus Parma.

“Rekan pesepakbola yang benar-benar berbicara dengan saya hanya Morgan De Sanctis. Sementara yang lain hanya menunjukkan solidaritasnya dari jarak jauh tanpa berani menunjukkan aksi nyata,” jelas Lucarelli.

Sikap dan kesetiaan Alessandro Lucarelli tersebut menjadi barang yang langka dalam dunia sepakbola yang kini berorientasi uang dan materi.

Dan sepertinya apa yang dikatakan oleh presiden Sampdoria, Massimo Ferrero, sungguh tepat: “Saya mengucapkan selamat kepada para pemain dan semua orang yang bekerja di Parma. Saya menganggap mereka semua adalah pahlawan.”

Kata-kata dari Ferrero, untuk sebagian, juga bisa dialamatkan kepada Alessandro Lucarelli: seorang pahlawan, bukan hanya untuk Parma, tapi juga pahlawan untuk sepakbola.

Detik-Detik Akhir Menuju Kebinasaan Parma

Saat Kesebelasan Italia Membentuk Kompetisi Baru

Kesebelasan-Kesebelasan yang Pernah Bangkrut


Salut, comrade! Bravo!

Komentar