(Pembelaan) Wenger Sudah Usang

Cerita

by Randy Prasatya

Randy Prasatya

Everything you can imagine is real.

(Pembelaan) Wenger Sudah Usang

Hanya ada satu kata untuk menggambarkan Arsenal selepas pertandingan melawan AS Monaco: memalukan. Kata memalukan rasanya pantas keluar sebab Arsenal seperti hanya ingin menjadi kesebelasan pelengkap di babak 16 besar Liga Champions.

Kalah dari AS Monaco di kandang sendiri dengan skor 1-3 merupakan pencapaian yang "luar biasa." Kekalahan tersebut semakin mendekatkan Arsenal pada catatan lima kali beruntun gagal di babak 16 besar Liga Champions. Orang yang bertanggung jawab untuk hal ini adalah orang yang sama yang membawa Arsenal lolos ke Liga Champions setiap musimnya: Arsene Wenger. Semboyan In Arsene We Trust menjadi hal yang terasa berlebihan mengingat rentetan kegagalan yang berulang kali.

“Selamat untuk Monaco, mereka memiliki hasil yang sempurna dan memainkan permainan mereka. Saya percaya bahwa kita kehilangan peluang dan kami agak bunuh diri dalam bertahan. Kami tidak pada pertahanan yang baik dan kami sedikit kurang beruntung karena gol pertama dibelokkan,” ujar Wenger melalui situs klub.

Di awal kalimat, Wenger terdengar seperti hendak mengakui kekalahan. Namun pada akhirnya pria asal Prancis ini justru menjadikan gol pertama Monaco sebagai alasan. Maklum, selain terampil membaca bakat pemain, pria berjuluk Sang Profesor ini juga terampil dalam hal mengelak.

Arsenal sudah cukup lama tak meraih trofi bergengsi. Stewart Robson selaku mantan pemain Arsenal mengatakan jika muara permasalahan klub sejatinya ada pada diri Wenger. Seandainya dia punya kekuatan, sudah lama dia akan memberhentikan kerja pria berpaspor Perancis tersebut. “Saya bakal memecatnya empat tahun lalu, tapi saya berada pada posisi minoritas,” ujarnya kepada Talksport.

“Arsenal butuh manajer baru, dan mereka memerlukan itu sesegera mungkin. Dalam pandangan saya, dia sudah tidak layak. Saya menulis artikel sekira empat atau lima tahun silam ketika saya mengatakan, dia adalah penyebab banyak masalah di Arsenal. Dia tidak lagi memiliki pemahaman yang taktis, sikapnya di sisi lapangan tidak membantu tim,” lanjut Robson.

Robson menilai Wenger sudah tidak lagi memiliki kapabilitas yang sama seperti masa keemasan Arsenal. Ia tidak bisa memaksakan untuk berlindung di balik semua jasanya kepada Arsenal. Jika memang ia tidak mampu memberikan apa yang dicari oleh para pendukung setia dan karbitan, Wenger harus berbesar hati. Dalam sepakbola, masa kini harga kemenangan dan kegagalan bisa ditaksir dengan puluhan juta poundsterling. Wenger harus pergi dan/atau melepas jabatannya sebagai manajer Arsenal.

Memang dalam dua dekade belakangan ini Wenger menjadi salah satu orang yang berpengaruh bagi Arsenal. Seperti apa yang telah ditulis Taufik Nur Shidiq dalam esainya, "Antara Arsenal yang Sebenarnya dan Arsenal-nya Wenger". Banyak orang beranggapan bahwa Arsenal dan Arsene Wenger memang ditakdirkan untuk satu sama lain karena nama keduanya mirip. Sekilas memang seperti itu adanya. Walau, tentu saja, jika diperhatikan dengan seksama, ada rasa yang sangat jelas berbeda.

Adalah Wenger yang berjasa mengubah Arsenal "si Kesebelasan Tradisional" menjadi Arsenal yang lebih modern. Adalah Wenger pula, dengan kemampuan manajemen dana yang sangat baik, yang menjaga Arsenal tetap ada dan jauh dari ancaman kerugian finansial. Tanpa Wenger, bisa jadi Arsenal kini sudah bangkrut. Bisa jadi, Arsenal tidak ada di Premier League. Atau, setidaknya, masih ada di Premier League tapi tidak rutin bermain di Liga Champions.

Rutin mengakhiri musim di zona Liga Champions saja tidak cukup. Ada masa di mana semua kesebelasan memerlukan satu gelar prestisius untuk pengakuan sebagai kesebelasan besar. Bukan hanya sehat secara finansial, Arsenal kini sudah tidak berurusan dengan utang, sehingga Wenger sebenarnya bisa saja dipersilakan meninggalkan jabatannya. Tak perlu diminta meninggalkan Arsenal; Wenger hanya perlu dipindahkan ke posisi baru. Jika memang kemahirannya adalah manajemen pemain dan dana, bisa jadi posisi director of football cocok untuknya.

Atau manajemen Arsenal perlu mengajak Wenger bergabung di bisnis properti*? Itu juga bisa jadi pilihan yang baik. Siapa tahu, kan?

Baca juga:  Antara Arsenal yang Sebenarnya dan Arsenal-nya Wenger

Arsenal dan Kutukan 16 Besar Liga Champions

Bursa Transfer Musim Dingin Itu Hangat, Monsieur


*Dalam buku Arsènal: The Making of a Modern Superclub karangan Alex Fynn, Arsenal secara nyata menegaskan bahwa mereka adalah kesebelasan sepakbola merangkap perusahaan properti dengan cara mengubah Stadion Highbury menjadi unit apartemen.

Komentar