Pesepakbola Cilik di Tengah Lapangan Orang Dewasa

Cerita

by Frasetya Vady Aditya

Frasetya Vady Aditya

Penyunting. Jangan terkekang; sepakbola cuma cangkang. Kontak: vady.aditya@gmail.com

Pesepakbola Cilik di Tengah Lapangan Orang Dewasa

Federasi Sepakbola Inggris, FA, memiliki perhatian lebih terhadap pengembangan usia dini. Mereka membuat peraturan khusus tentang apa-apa saja yang harus dipersiapkan. FA, di situs resminya, bahkan menggunakan judul yang terkesan provokatif, “Mengapa kita membuat anak-anak bermain layaknya orang dewasa?”

FA berpendapat, terdapat dua hal penting dalam sepakbola anak-anak. Segala ukuran harus disesuaikan seperti lapangan, jumlah pemain, dan tiang gawang. FA juga menginginkan kompetisi dengan atmosfer yang jauh lebih “bersahabat”.

Aturan ini sebenarnya sudah disahkan sejak 28 Mei 2012. FA mengamandemen aturan sejumlah pertandingan seperti U-7/U-8, U-9/U-10, dan U-11/12. Tidak tanggung-tanggung, karena mereka mengembangkannya selama dua tahun lewat penelitian, konsultasi, mereka yang terlibat di pertandingan anak-anak, dan yang paling penting, anak-anak itu sendiri.

Hal ini dilakukan agar pertandingan yang melibatkan anak-anak menghasilkan suasana yang menyenangkan, dan menggembirakan, sehingga pengembangan pemain usia muda bisa lebih dalam dengan sentuhan lain.

Untuk “menyadarkan” kalau sepakbola anak-anak butuh perhatian khusus, FA membuat video untuk membuktikannya.

Imogen, penyerang U-11, melontarkan kegelisahannya terhadap apa yang ia dan teman-temannya alami. Saat usianya mencapai sebelas tahun, ia sudah harus menyesuaikan diri bermain sepakbola di lapangan sepakbola standar orang dewasa.

“Hanya anak bertubuh besar yang bisa menyesuaikan,” kata Imogen. Ia lalu merujuk pada temannya yang bertubuh mungil, dan berposisi sebagai kiper. Temannya tersebut belum memiliki cukup tenaga untuk menendang bola hingga tengah lapangan. Ia bahkan kesulitan menggapai tingginya mistar gawang. “Temanku berhenti dari kesebelasan karena tidak mendapatkan kesenangan di sepakbola,” sesal Imogen.

Imogen lalu menantang orang dewasa untuk merasakan apa yang ia keluhkan.

Gawang

Lapangan yang berlokasi di pusat latihan timnas Inggris tersebut disusun dua kali lipat lebih besar dari lapangan ukuran standar. Ukuran gawang pun dibuat berukuran super besar. “Ini terlalu besar untukku,” tutur salah seorang dewasa sembari melompat meraih mistar gawang.

Area tendangan sudut pun dipasang sedemikian jauh. Beberapa orang malah kesulitan menendang bola menggapai area tengah kotak penalti. Pun halnya dengan tendangan gawang. Kiper mereka hanya mencapai setengah lapangan! Tendangan itu pun diselingi dengan tawa mengejek. “Apa itu?” tanya Imogen.

Saat tendangan bebas dilakukan, kiper mereka tidak bisa berbuat banyak. Bola yang melambung tinggi, nyatanya tetap terjangkau oleh jaring gawang. Gol!

“Ini sangat sulit, aku tidak tahu di mana posisi rekan-rekanku,” tutur bekas penggawa timnas Inggris, Steve Hodge, “Sejujurnya, ini tidak memberiku kesenangan.”

Setelah “tantangan” tersebut, Hodge sadar kalau lapangan besar tidak cocok untuk anak-anak. Mereka tidak mendapatkan kesenangan di dalamnya.

Begitulah anak-anak. Mereka begitu jujur dalam mengemukakan apa yang mereka rasakan, apa yang mereka pikirkan. Sepakbola tanpa kesenangan—mengutip Imogen—adalah sampah, dan tanpa kesenangan sejak usia dini, pembinaan hanyalah omong kosong.



Sumber feature image: Barcelonafootballfestival

Komentar