Selamat Datang di Anfield, Heskey!

Cerita

by Dex Glenniza

Dex Glenniza

Managing editor of Pandit Football, MSc sport science, BSc architecture, licensed football coach. Born with the full name of Defary Glenniza Tiffandiputra, growing up with a nickname Dex Glenniza. Who cares anyway! @dexglenniza

Selamat Datang di Anfield, Heskey!

Liverpool akan menjamu Bolton Wanderers pada pertandingan putaran ke empat Piala FA nanti malam (Minggu, 25/01 pukul 00:30 WIB) di Anfield. Pertandingan nanti sekilas memang tidak spesial dengan Liverpool yang sangat berpeluang untuk meraih kemenangan melawan kesebelasan yang sekarang berlaga di Divisi Championship ini.

Namun, perhatian utama nanti malam bukan pada Liverpool, melainkan pada salah satu pemain Bolton. Pemain tersebut bernama Emile William Ivanhoe Heskey.

Heskey yang akan kita bicarakan ini adalah Heskey yang sama dengan Heskey yang pernah mencetak 60 gol dalam 223 pertandingan untuk The Reds. Ia juga masih Heskey yang sama dengan Heskey yang pada bulan lalu berhasil mencetak gol pada debutnya di Bolton.

Pemain berusia 37 tahun tersebut bergabung dengan kesebelasan asuhan Neil Lennon, bersama dengan sesama veteran, Eiður Guðjohnsen, asal Islandia. Mereka berdua mendapatkan kesepakatan jangka pendek sebelum Natal dan langsung membuat kesan dalam kemenangan 2-1 atas Blackburn Rovers: Guðjohnsen mencetak assist untuk gol Heskey.

Di Bolton, Heskey mulai berjuang kembali untuk memperbaiki reputasinya yang sudah “rusak” di mata sepakbola internasional, terutama di media sosial. Namanya sudah disinonimkan dengan banyak lelucon dan kelakar.

Bahkan, ketika ia bergabung dengan Bolton sebelum Hari Natal, ada kelakar yang beredar di internet: “Why Heskey is better than Messi: Heskey misses a lot because he doesn’t want to hurt the goalkeepers’ feelings, Messi just scores all the time because he’s a d*ck...”

Kita semua boleh menertawakan Heskey sesuka hati kita, tapi kita semua tentu harus tahu seperti apa dulu Heskey waktu bermain bersama Liverpool. Tidak ada salahnya kita flash-back sejenak.

Ketika Houllier mendatangkan Heskey

Liverpool mendatangkan Heskey dari Leicester City pada Maret 2000 dengan biaya 11 juta poundsterling, membuatnya memecahkan rekor transfer klub pada saat itu. Heskey juga merupakan pemain homegrown pertama yang manajer Gérard Houllier datangkan.

Saat itu, Heskey masih berusia 22 tahun. 11 juta pounds merupakan biaya yang besar untuk pemain muda seperti Heskey. Tapi harga ini dinilai wajar mengingat ia berhasil mencetak 40 gol selama 6 tahun di Leicester.

Manajer Leicester saat itu, Martin O'Neill, menggambarkan Heskey sebagai sriker yang “tak tergantikan”. Saat itu ia mengatakan, “Kami sebagai klub melakukan segala yang kami bisa untuk membujuk Emile untuk tinggal bersama kami selama mungkin.”

Heskey memang sudah menjadi jimat di Filbert Street, dan ini lah yang membawanya ke Liverpool. Seperti yang Houllier akui juga: “Anda membeli pemain karena ia berbakat, dan karena Anda pikir dia akan bekerja dengan baik untuk tim. Saya pikir di usianya, dia bukan produk yang sudah jadi. Seperti setiap pemain di sini, ia akan maju dan terus meningkat. Anda membeli pemain tidak untuk jumlah gol yang mereka cetak, tapi juga untuk peran mereka kepada tim.”

Heskey terbukti sangat penting dalam musim penuh pertamanya bersama Liverpool. Pada musim 2000-2001, ia berhasil mencetak 22 gol dari 56 pertandingan di seluruh kompetisi. Di Liga Primer, ia mencetak 14 gol. Sementara di Piala FA, ia menjadi top skor dengan 5 golnya.

Banyak orang yang harus ingat kembali bahwa Heskey adalah pemain yang mengandalkan fisik, ia tipikal striker “buldoser”, ditambah lagi saat muda dulu ia juga punya kecepatan. Puncak performanya memang saat ia bersama Liverpool.

Duet Heskey-Owen sebagai duet terbaik Liverpool

Pada saat bergabung dengan Liverpool, Heskey menyatakan faktor penentu di balik keputusannya untuk pindah ke Merseyside adalah kesempatan untuk bermain dengan pemain kelas dunia.

“Saya telah bermain dengan banyak pemain depan, dan kami telah terikat bersama-sama, termasuk dengan Michael Owen. Saya menemukan prospek yang menarik untuk bermain bersama Michael,” ujar Heskey.

Saat itu, duet Owen dan Robbie Fowler, opsi serangan utama Liverpool sebelum kedatangan Heskey, menawarkan kualitas yang mirip, yaitu sebagai penyelesai peluang yang mematikan. Namun, duet Owen-Fowler dinilai memberikan kontribusi yang kurang dalam membangun permainan secara tim.

Sementara Heskey menawarkan dimensi yang berbeda untuk The Kop.

Heskey dan Owen membentuk pemahaman yang luar biasa satu sama lainnya, ini juga yang menyebabkan Fowler hengkang. Bersama Heskey dalam empat musim di Liverpool, Owen mencetak lebih banyak gol daripada saat ia bermain tanpa Heskey.

Selama bermain bersama Heskey, Owen berhasil mencetak 99 gol dari 181 pertandingan (0,55 gol per pertandingan). Sementara tanpa Heskey, Owen hanya bisa mencetak 59 gol dari 116 pertandingan (0,5 gol per pertandingan).

Mereka juga berhasil memenangkan gelar treble bersama Liverpool, meskipun treble-nya tidak begitu bergengsi: Piala UEFA (nenek moyangnya Liga Europa UEFA), Piala FA, dan Piala Liga Inggris.

Kemudian, mungkin ada yang lupa dengan hal ini: Pada tahun 2001, Owen memenangkan Ballon d'Or. Luar biasa! Tapi bukan itu yang akan kami bahas. Ya, berhasilnya Owen memenangkan Ballon d’Or ini tidak diragukan lagi adalah akibat dari kemitraannya dengan Heskey di Liverpool dan tim nasional Inggris.

Heskey adalah pasangan sempurna untuk Owen: sederhana, pekerja keras, taktis, dan cerdik. Meskipun keberhasilannya tersebut, ia sering dipandang rendah di jajaran pemain Liverpool.

Heskey sangat senang

“Emile ditandatangani oleh Bolton? Kapan itu terjadi? Saya bahkan tidak tahu.” Kalimat di atas adalah kalimat yang diluncurkan oleh pemain yang harus terbuang akibat kedatangan Heskey ke Liverpool. Ia adalah Fowler.

“Saya akan jujur dengan Anda, saya terkejut Bolton telah mendatangkannya,” kata Fowler pada sebuah wawancara kepada Guardian. “Bukan berarti ini buruk, saya suka Emile. Saya bermain di pertandingan amal di Singapura dengan dia belum lama ini. Kami memang menang, tapi Emile tertangkap offside sekitar 20 kali,” lanjut Fowler sambil tertawa.

“Ini serius. Tapi saya senang untuknya. Jelas ia ingin melanjutkan selama yang dia bisa, seperti saya sendiri, dan ia lebih beruntung. Dia layak untuk itu. Dia adalah pemain yang fantastis,” tutup Fowler.

Untuk kembali ke kesebelasan lama yang membesarkan namanya, Heskey mengaku bahwa ia akan sangat senang. Memang, ini bukan perpisahan yang panjang, karena beberapa bulan yang lalu dia bekerja untuk LFC TV.

“Ini adalah hal yang indah untuk kembali ke Anfield. Hanya beberapa bulan yang lalu saya bekerja di LFC TV! Untuk kembali sebagai pemain pada usia ke-37 adalah sesuatu yang luar biasa,” kata Heskey.

“Para fans yang sangat luar biasa untuk saya pada saat saya berada di sana, dan mudah-mudahan saya akan mendapatkan sambutan yang baik dan bisa bermain sepenuh hati. (Anfield adalah) panggung yang sudah memberikan yang terbaik untuk saya.”

Sebelumnya, Heskey adalah rekan setim manajer Bolton saat ini, Neil Lennon, di Leicester sebelum dia pindah ke Liverpool.

Pemain yang baru berulang tahun ke-37 pada 11 Januari lalu ini berhasil memenangkan Piala FA dengan Liverpool pada tahun 2001 dan mengakui kompetisi ini masih memiliki tempat spesial di hatinya.

“Piala FA masih berarti segalanya,” tambah Heskey, yang juga bermain untuk Aston Villa, Wigan Athletic, dan Birmingham City, serta 62 pertandingan untuk tim nasional Inggris.

“Ketika Anda tumbuh dewasa, Piala FA adalah satu trofi yang semua orang ingin menangkan dan saya telah cukup beruntung karena pernah melakukan itu.”

Memenangkan piala FA lagi bersama Bolton tentunya akan sangat luar biasa bagi Heskey (dan juga bagi siapa saja!). Namun, satu hal yang jelas, pada malam nanti Heskey akan kembali ke tanah di mana ia mengukir namanya sebagai striker tak terbendung di Liga Inggris. Bagaimanapun permainannya sekarang, kita semua harus ingat akan hal itu.

Selamat datang kembali di Anfield, Emile Heskey.

Komentar