Para Kiper yang Berkhotbah di Gereja

Cerita

by Taufik Nur Shidiq

Taufik Nur Shidiq

Writer (Oct 2014 - Mar 2016); Editor (Nov 2017 - Nov 2018)

Para Kiper yang Berkhotbah di Gereja

Athena, 23 Mei 2007. Begitu Herbert Fandel meniup peluit tanda berakhirnya pertandingan, sukacita menyelimuti AC Milan yang, bersamaan dengan berakhirnya pertandingan, secara resmi dinobatkan sebagai pemenang di pertandingan final Champions League. Lawan mereka adalah Liverpool, tim yang mengalahkan Milan di final dua tahun sebelumnya.

Sementara para pemain Liverpool tertunduk lesu, para pemain Milan berlarian. Berteriak. Saling berpelukan. Mereka meluapkan kebahagiaan. Satu pemain, Ricardo Izecson dos Santos Leite, tidak begitu. Ia berlutut. Kedua tangannya mengarah ke langit. Seragamnya bertandingnya ia tanggalkan.

Di balik seragam Milan, pemain yang lebih akrab disapa Kaká ini mengenakan sebuah kaus tanpa lengan; berwarna putih dan berhiaskan tipografi kapital untuk menunjukkan rasa cintanya kepada Tuhan.

Kaká memang dikenal sebagai sosok yang religius. Tak pernah ia merayakan keberhasilan apapun dengan berlebihan. Ketimbang melakukan perayaan, Kaká lebih memilih untuk mengucap syukur. Baik di dalam maupun di luar lapangan, Kaká adalah pribadi yang sangat santun dan tidak pernah melupakan Tuhan.

Tuhan, kata Kaká, adalah segalanya dalam hidupnya. Kaká tidak pernah suka menjadi juara kedua. Namun ia tidak masalah berada di tempat kedua selama Tuhan menduduki posisi pertama.

Kaká tentu saja hanya sebagian kecil dari cerita mengenai sisi religius para pemain sepakbola yang bersuka cita merayakan hari besar mereka pada hari ini: Hari Natal.

Tanpa bermaksud membandingkan (dan sebaiknya memang tidak demikian), Kaká belum seberapa ketimbang Carlos Ángel Roa. Jika nama ini tidak asing di telinga Anda, wajar saja. Roa adalah sosok yang menyudahi perjalanan Inggris, negara tempat lahirnya sepakbola, di Piala Dunia 1998. Aksi gemilang yang ditunjukkan oleh penjaga gawang Argentina ini membuat Inggris kalah dalam drama adu penalti.

Setahun setelah mematahkan hati Inggris, Roa meninggalkan dunia sepakbola. Ia tidak menderita cedera. Ia tidak sakit. Roa mengambil keputusan untuk menyepi selama setahun di Santa Fe, New Mexico, karena ingin lebih dekat kepada Tuhan. Ini bukan keputusan yang mudah, karena Real Mallorca, klub Roa saat itu, sedang naik daun.

Roa mengisi satu tahun penuh masa pengasingannya dengan bermeditasi dan membaca banyak buku. Pada akhirnya Roa sepakat untuk kembali bermain sepakbola bersama Mallorca, dengan satu syarat: sebagai seorang pengikut gereja Advent, Roa tidak ingin hari Sabtu, hari suci dalam keyakinannya, terganggu oleh sepakbola atau aktivitas non-keagamaan lainnya.

Berbeda dengan Roa, Cláudio André Mergen Taffarel memiliki ceritanya sendiri. Sedari awal, pria berkebangsaan Brasil tersebut memang sudah dekat dengan Tuhan. Ia rajin beribadah dan tak pernah lupa berdoa. Kepada Tuhan, Taffarel selalu meminta untuk menjadi pemain bola basket atau bola voli.

Tangan Tuhan bekerja dengan cara yang misterius. Taffarel tidak menjadi atlet bola basket (atau bola voli); ia menjadi pemain sepakbola profesional. Taffarel menjadi penjaga gawang. Sebuah jalan hidup yang pada akhirnya ia terima dan ia syukuri. Jika tidak menjadi penjaga gawang, Taffarel mungkin tidak akan pernah tahu rasanya menjadi juara Piala Dunia 1994 bersama tim nasional Brasil.

Jika Kaká “hanya” bersikap santun dan selalu mengingat Tuhan di dalam dan di luar lapangan, jika Roa meninggalkan sepakbola untuk sementara agar ibadahnya tidak terganggu, jika Taffarel menerima takdir yang digariskan kepadanya, maka Espen Johnsen adalah gabungan dari ketiganya.

Penjaga gawang Norwegia ini mempelajari Agama Kristen di Universitetet i Agder dan menjalani profesi ganda: sebagai pemain sepakbola untuk Rosenberg dan pendeta di Gereja Evangelis Lutheran Norwegia.

Johnsen bukan penjaga gawang sembarangan. Ia pernah membela tim nasional Norwegia sebanyak 18 kali. Walaupun di dua tahun pertamanya bersama Rosenberg ia hanya menjadi cadangan dari Árni Gautur Arason (eks penjaga gawang Manchester City), perlahan tapi pasti Johnsen menjadi pilihan utama. Johnsen juga merupakan peraih penghargaan Kniksenprisen untuk kategori penjaga gawang terbaik Norwegia di tahun 2003.

Jika di dalam lapangan Johnsen bermain sebagai penjaga gawang, di luar pertandingan ia dikenal sebagai Pendeta Johnsen. Tak hanya mau memenuhi undangan sebagai pembicara dalam beragam forum diskusi keagamaan, Johnsen juga seringkali terlihat memberi ceramah keagamaan.

Sebagai penjaga gawang, dia memang harus mahir berceramah. Setidaknya, menceramahi rekan-rekannya, khususnya para pemain belakang, untuk lekas kembali ke posisinya tiap kali mereka meninggalkan posnya.

Baca juga:


Komentar