Kritik Itu Biasa, Tapi Simpati dari Rival?

Cerita

by Taufik Nur Shidiq

Taufik Nur Shidiq

Writer (Oct 2014 - Mar 2016); Editor (Nov 2017 - Nov 2018)

Kritik Itu Biasa, Tapi Simpati dari Rival?

Mendapatkan kritik adalah sesuatu yang biasa. Apalagi jika Anda adalah seorang pemain sepakbola profesional. Terlebih lagi jika Anda adalah seorang pemain sepakbola profesional yang bermain untuk salah satu klub terbesar di liga paling populer di dunia.

Jika Anda berada di posisi tersebut, performa buruk Anda akan mudah mengundang kritik. Juga akan membawa Anda kepada situasi yang buruk. Tidak ada yang perlu dibesar-besarkan. Namun jika yang datang adalah simpati, tepatnya simpati dari pemain yang membela klub rival sekota, kondisi yang Anda alami pastilah sudah sangat buruk. Inilah yang terjadi kepada penjaga gawang utama Liverpool, Simon Mignolet.

Kritik yang mulai ramai berdatangan sejak paruh kedua musim lalu belum berhenti menghampiri Mignolet. Brendan Rodgers, manajer Liverpool yang terus menerus membela dirinya juga nampak sudah tidak bisa lagi memaklumi buruknya performa yang ia tunjukkan.

Rodgers menggunakan dalih rotasi ketika dimintai keterangan mengenai keputusannya memilih Brad Jones ketimbang Mignolet di pertandingan melawan Manchester United. Namun mengelabui dunia tidaklah semudah itu.

Sementara kritik belum mau berhenti menghujani, sesuatu yang berbeda datang menghampiri. Tim Howard, penjaga gawang Everton, ikut buka suara. Simpati dari rekan sejawat yang memainkan posisi yang sama jelas bukan sesuatu yang aneh. Namun Howard bermain untuk Everton sehingga simpati ini terdengar tidak biasa. Jika rival saja sudah mengasihani, maka Anda perlu bertanya kepada diri sendiri.

“Ketika seorang penjaga gawang disisihkan dari tim utama, ia akan menempuh jalan yang sulit untuk kembali,” ujar Howard sebagaimana diwartakan oleh BBC. Kalaupun pada akhirnya Jones tidak berhasil membuktikan diri dan Mignolet dapat kembali, Howard tetap merasa sangsi. Ia tidak yakin bahwa para pendukung Liverpool masih memiliki kepercayaan terhadap Mignolet.

Howard berpendapat bahwa seorang penjaga gawang haruslah memiliki kepercayaan. Bukan hanya kepercayaan diri, namun juga kepercayaan dari orang-orang di sekitarnya; para pemain, manajernya, dan para pendukung klub tempatnya bermain.

Dan Rodgers sudah mulai menunjukkan rasa enggan percaya kepada Mignolet. Begitu juga dengan para pendukung Liverpool (tidak seluruhnya, memang, namun banyak yang sudah tidak percaya kepada Mignolet).

Simpati dari Howard ini, untuk beberapa alasan, lebih menohok ketimbang kritik pedas yang (nampaknya) sudah biasa diterima oleh Mignolet. Bahkan mungkin lebih menohok ketimbang perbandingan dengan Dracula yang dilakukan oleh Bruce Grobbelaar, mantan penjaga gawang Liverpool, pada bulan November lalu.

“Saya mengatakan bahwa Mignolet lebih buruk dari Dracula karena setidaknya Dracula sering keluar dari petinya,” ujar Grobbelaar menyindir Mignolet yang menurutnya tidak mau keluar dari petinya – kotak enam yard – sendiri. Lebih jauh, Grobbelaar mengatakan bahwa Mignolet tidak bisa menguasai kotak penaltinya dengan baik.

Dukungan fakta yang menunjukkan bahwa Mignolet kebobolan sebanyak 50 kali dalam 38 pertandingan Premier League membuat Grobbelaar semakin lantang menyuarakan saran untuk mencari pengganti Mignolet.

Sebagai catatan, musim ini Mignolet sudah kebobolan 19 kali dari 15 pertandingan.

Komentar