Jenkinson: Lebih Baik dari Arsenal

Cerita

by Taufik Nur Shidiq

Taufik Nur Shidiq

Writer (Oct 2014 - Mar 2016); Editor (Nov 2017 - Nov 2018)

Jenkinson: Lebih Baik dari Arsenal

Kepergian Bacary Sagna ke Manchester City pada musim panas tahun ini sewajarnya mengangkat peran Carl Jenkinson menjadi pemain utama di Arsenal. Kenyataan berkata lain. Jenkinson malah harus mengalah kepada dua pemain baru – salah satunya bahkan lebih muda dari dirinya – dan hijrah ke West Ham United sebagai pemain pinjaman.

Keputusan yang terbukti berbuah manis. Bersama West Ham, Jenkinson tak hanya mampu membuktikan kualitas diri; ia juga berhasil menjadi lebih baik dari Arsenal.

Demi menambal lubang yang ditinggalkan oleh Sagna, Arsenal mendaratkan dua nama. Mathieu Debuchy didatangkan dari Newcastle United pada 17 Juli. Sebuah pilihan yang masuk akal mengingat Debuchy sudah memiliki pengalaman di Premier League dan berhasil menggeser Sagna dari posisi utama di tim nasional Perancis. Boleh dibilang, Debuchy adalah pengganti paling tepat untuk Sagna.

Pada titik tersebut, Jenkinson tampak kembali ke perannya sebagai pemain pelapis. Namun semuanya berubah menjadi semakin tidak menentu di hari ulang tahun Debuchy. Pada hari itu, Arsenal resmi mendapatkan Calum Chambers dari Southampton. Pemain berusia 19 tahun tersebut dapat bermain sebagai fullback kanan sehingga masa depan Jenkinson semakin tidak menentu.

Keadaan sebenarnya cukup dingin karena Arsène Wenger menyatakan bahwa Chambers akan ia poles menjadi gelandang bertahan. Sementara ia masih belajar menguasai posisi baru tersebut, Chambers juga diberi peran sebagai pelapis untuk posisi bek tengah dan gelandang tengah, dua posisi yang juga ia kuasai.

Pada akhirnya Jenkinson lebih memilih untuk bergabung dengan West Ham.

Jenkinson menjalankan tugasnya dengan baik di West Ham walaupun dalam enam pertandingan pertama musim ini ia absen di tiga laga awal (karena cedera) dan tidak pernah bermain lebih dari setengah jam di tiga laga setelahnya.

Terlepas dari minimnya kesempatan di enam pertandingan pertama, Jenkinson selalu bermain penuh dalam delapan pertandingan berturut-turut sejak pekan ketujuh. Baru pada pertandingan terakhir saja ia tidak bermain selama 90 menit; cedera membuatnya ditarik keluar di menit ke-79 di pertandingan melawan Swansea City.

Secara keseluruhan, Jenkinson sudah menjalani 869 menit pertandingan di Premier League musim ini. Ia menghiasi banyaknya kesempatan yang ia dapatkan – sesuatu yang jarang ia dapatkan di Arsenal – dengan torehan dua assist. Dua memang bukan jumlah yang banyak, namun dua berarti besar baginya.

Dua assist memang tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan koleksi Cesc Fàbregas musim ini. Sang pimpinan daftar pencipta assist sementara memiliki 11 assist. Dua assist milik Jenkinson juga tidak ada apa-apanya ketimbang Leighton Baines, pimpinan daftar pencipta assist di posisi fullback: 6.

Ditambah lagi, di West Ham saja, jumlah assist Jenkinson kalah dari Stewart Downing (6) dan sama banyaknya dengan Aaron Creswell, Cheikhou Kouyaté, Enner Valencia, dan James Tomkins. Namun perlu dicatat: di antara semua nama tersebut, hanya Valencia yang jumlah jam terbangnya lebih sedikit ketimbang Jenkinson.

Dua assist memiliki arti besar karena catatan itu menyamai jumlah assist terbanyak yang pernah ia torehkan dalam satu musim di klub manapun. Musim lalu, bersama Arsenal ia berhasil membukukan dua assist dalam 14 pertandingan. Musim ini ia hanya membutuhkan dua laga lebih sedikit untuk menyamai catatan tersebut.

Dan tak hanya berhasil membuktikan diri, Jenkinson berada di posisi yang lebih baik ketimbang Arsenal. Untuk sementara, West Ham berada di peringkat empat dan Arsenal di posisi enam.

Komentar