Walcott dan Sebuah Hikmah di Balik Cedera

Cerita

by Taufik Nur Shidiq

Taufik Nur Shidiq

Writer (Oct 2014 - Mar 2016); Editor (Nov 2017 - Nov 2018)

Walcott dan Sebuah Hikmah di Balik Cedera

Sebagaimana banyak hal di dunia, dua kali 45 menit pertandingan sepakbola adalah waktu yang pendek namun di saat yang bersamaan bisa saja panjang. Jika pertandingan berjalan menarik, maka 90 menit tak akan terasa. Sebaliknya, perjalanan menuju akhir pertandingan terasa lama sekali jika jalannya laga tidaklah menarik. Relatif.

Satu hal yang pasti, pertandingan yang terasa singkat maupun yang terasa lama akan terasa menyebalkan jika Anda adalah pemain yang tidak bisa ambil bagian dalam pertandingan. Duduk di pinggir lapangan tanpa bisa melakukan apapun saat rekan-rekan satu tim berjuang meraih kemenangan adalah salah satu hal paling menyebalkan di dunia.

Banyak pemain sepakbola, baik amatir maupun profesional, merasakan hal tersebut. Termasuk di antaranya adalah penyerang Arsenal, Theo Walcott. Bagaimana tidak. Pemain berkebangsaan Inggris tersebut memang senang banyak terlibat. “Saya adalah orang yang senang terlibat dalam segala hal,” ujarnya kepada Arsenal Player.

Walcott terpaksa menepi karena menderita cedera ACL terhitung sejak hari keempat tahun ini, 4 Januari 2014. Hingga benar-benar dinyatakan sembuh dan mampu kembali ke tingkat permainannya yang ia tunjukkan sebelum cedera, Walcott tak dapat banyak terlibat. Tak bisa ia mengalahkan lawan dalam adu cepat. Tak mampu ia mencetak gol. Ia hanya boleh duduk dan menonton pertandingan, sembari sesekali merasa gemas.

Walaupun pada awalnya terlihat seperti sebuah petaka, Walcott tetap bisa menemukan alasan untuk bersyukur di balik cedera yang ia alami. Menyaksikan pertandingan sebagai pendukung membuat matanya lebih terbuka. Ia tahu apa yang diinginkan oleh para penggemar. Karenanya, ia tahu apa yang harus ia lakukan di lapangan.

“Ini adalah hal yang baik karena saya dapat melihat sisi lain dari sepakbola. Tidak hanya itu. Saya juga dapat melihat orang-orang di sekitar dan merasakan apa yang mereka rasakan setiap kali para pemain melakukan sesuatu,” ujar Walcott.

Apa yang baru diketahui oleh Walcott sebenarnya bukanlah sesuatu yang asing. Bahkan Wayne Rooney, kapten tim nasional Inggris dan Manchester United, sudah lama mengetahui hal tersebut.

Kepada jurnalis Inggris, John Cross, sebelum pertandingan antara Skotlandia dn Inggris di Glasgow, Rooney bercerita bahwa dirinya memiliki kebiasaan menonton pertandingan sepakbola secara langsung di stadion. Bukan untuk mengamati lawan. Bukan untuk mendukung rekan sejawatnya bertanding. Rooney datang sebagai seorang penggemar. Sama seperti ribuan orang lainnya.

Dalam sebuah kesempatan, pernah Rooney datang ke Anfield, kandang Liverpool, dan menonton di tribun yang disediakan untuk para pendukung tim tandang; yang saat itu diisi oleh para pendukung Arsenal. Tumbuh besar sebagai pemain Everton, mudah tentunya menebak alasan di balik pemilihan tempat duduk Rooney. Apalagi, saat itu Arsenal memiliki eks pemain Everton, Francis Jeffers.

Kata orang bijak, untuk benar-benar mengerti sesuatu, kita harus membebaskan diri dari hal tersebut. Walcott tanpa sadar telah mempelajarinya dan siap kembali sebagai pemain yang lebih baik dari sebelumnya.

Komentar