Skandal-skandal Pengaturan Skor: Dari Pasrah Hingga Lukai Kepala Sendiri

Cerita

by Taufik Nur Shidiq

Taufik Nur Shidiq

Writer (Oct 2014 - Mar 2016); Editor (Nov 2017 - Nov 2018)

Skandal-skandal Pengaturan Skor: Dari Pasrah Hingga Lukai Kepala Sendiri

“Saya sama sekali tidak terkejut,” kata Peter Swan mengenai isu pengaturan skor yang belakangan diketahui banyak terjadi di seluruh penjuru Eropa. “Apa yang dikatakan oleh orang-orang benar adanya. Uang adalah sumber dari semua keburukan,” lanjut pria berusia 78 tahun tersebut.

Swan adalah satu dari tiga nama yang dijatuhi larangan bertanding seumur hidup karena terlibat dalam pengaturan skor. Di pertandingan yang melibatkan Ipswich Town dan Sheffield Wednesday pada bulan Desember 1962, Swan dan dua rekan satu timnya dinyatakan bersalah karena secara sengaja mengatur hasil akhir pertandingan. Dua pemain lainnya adalah David Layne dan Tony Kay.

Swan, Layne, dan Kay tahu bahwa jika mereka bertaruh akan kemenangan Ipswich, mereka akan mendapatkan keuntungan besar. Dan begitulah. Swan, Layne, dan Kay yang bermain untuk Wednesday “membantu” Ipswich meraih kemenangan meyakinkan dua gol tanpa balas.

Hukuman Swan dicabut pada tahun 1972. Swan, yang mengaku menyesali keterlibatannya dalam pengaturan skor, kembali bermain untuk Wednesday. Pria yang lahir di Yorkshire tersebut kemudian hijrah ke Matlock Town untuk menjadi seorang player-manager. Bersama tim Non-Liga tersebut, Swan berhasil meraih gelar juara FA Trophy. Swan kemudian mendirikan dan mengelola sebuah pub untuk mengisi masa-masa pensiunnya.

Beberapa orang yang terlibat dalam kejahatan yang sama tidak seberuntung Swan (yang kembali diterima dengan baik dan dimaafkan oleh semua pihak yang ia sakiti). Maaf-memaafkan dan penerimaan kembali memang bukan sesuatu yang bisa dipaksakan dan diatur seperti hasil pertandingan. Biarlah masyarakat yang menentukan sikap terhadap para pelaku kejahatan itu.

Yang pasti, menurut Swan, tidak perlu  kita merasa terkejut mendapati sepakbola telah begitu rusak. Pria yang pernah bermain untuk tim nasional Inggris dalam 19 pertandingan tersebut masih menghabiskan banyak waktunya untuk menyaksikan pertandingan sepakbola. Dari mata seseorang yang pernah nyaris kehilangan semua yang ia miliki karena terbukti mengatur hasil akhir pertandingan, dapat dilihat bahwa hingga saat ini praktek hitam tersebut masih berlangsung. Lebih parah dari dahulu dan tidak akan pernah berhenti, malah.

"Sekarang ini banyak tercipta gol-gol mudah. Para pemain tidak terlihat benar-benar berusaha untuk membuang bola," ujar Swan. "Dan para penyerang gagal mencetak gol dari peluang-peluang emas, bukan?” Setiap kali Swan melihat seorang penyerang yang gagal memanfaatkan sebuah peluang emas, ia berpikir, “bahkan sebagai seorang pemain belakang saya bisa mengubah peluang seperti itu menjadi gol.”

Kasus pengaturan skor yang dilakukan oleh Swan dan rekan-rekannya hanyalah satu dari sekian banyak kasus serupa. Di Korea Selatan, 41 orang pemain profesional yang berlaga di K-League dijatuhi hukuman bermain sepakbola seumur hidup. Dan kejahatan ini tidak hanya dilakuan oleh pemain. Robert Hoyzer, seorang wasit, terbukti menjadi aktor sentral dalam kasus pengaturan skor paling buruk yang pernah terjadi di Jerman.

Halaman Berikutnya: El Salvador, Negara Para Pelaku Pengaturan Skor

Komentar