Piala Dunia Bagi Mereka yang Tersingkir dan Disingkirkan

Cerita

by Frasetya Vady Aditya

Frasetya Vady Aditya

Penyunting. Jangan terkekang; sepakbola cuma cangkang. Kontak: vady.aditya@gmail.com

Piala Dunia Bagi Mereka yang Tersingkir dan Disingkirkan

Minta Perhatian PSSI

Febby menceritakan rasa irinya terhadap timnas negara lain. Pasalnya, mereka berlaga mewakili federasi sepakbola negara bersangkutan. Misalnya, timnas Brasil yang menggunakan emblem CBF di dada kirinya.

“Kami ingin ada perhatian dari PSSI. Kami iri melihat tim-tim lain menggunakan emblem federasi. Walaupun sama-sama (dengan PSSI) berlogo garuda, tapi kami tidak mewakili federasi walaupun membawa nama negara,” sesal Febby.

Namun, Febby tak menyalahkan PSSI, menurutnya hingga saat ini belum ada kontak di antara kedua belah pihak, sehingga ia mengerti jika PSSI sebagai induk sepakbola nasional, belum memberi perhatian. Ia sempat mengirimkan proposal tapi tidak langsung ke orang PSSI secara resmi, sehingga belum ada umpan balik.

Tahun ini, timnas Indonesia mendapatkan bantuan dari Kemenpora yang bisa menutup hampir separuh dari biaya tiket. Dari Pemerintah Kota Bandung sendiri, timnas Indonesia mendapat dana CSR PDAM Tirtawening.

Febby menjelaskan sponsor menyediakan sekitar 60-70 persen kebutuhan. Sementara untuk kebutuhan dana langsung didapat dari penjualan merchandise.

Awalnya, mereka ingin melakukan penggalangan dana sumbangan seperti setahun sebelumnya. Namun, hal tersebut dirasa kurang etis karena ada kesan meminta-minta setiap tahun. Maka, penjualan merchandise pun dimaksimalkan.

“Dari merchandise sendiri kami cukup terkejut. Awalnya kami merasa penjualan merchandise tak akan seberapa. Nyatanya bisa menghasilkan hingga 50 juta.” Semua keuntungan dari penjualan merchandise tersebut dialirkan langsung untuk kebutuhan tim.

Komposisi terbesar dari kebutuhan tersebut sebenarnya dari tiket pesawat. Dari empat kali keberangkatan (termasuk saat ini), hanya penyelenggaraan di Poznan, Polandia, yang secara ongkos tidak terlalu berat. Sementara untuk penyelenggaraan di Meksiko dan Chile terkendala mahalnya tiket pesawat.

Komposisi tim yang akan berangkat tahun ini ada delapan pemain, pelatih, manajer dan dua orang untuk mendokumentasikan kegiatan.

Untuk HWC tahun depan, Rumah Cemara telah berancang-ancang untuk mencari sponsor. Maka, tim menyertakan dua orang dokumentasi agar menjadi portofolio untuk dibawa ke sponsor.

“Kami sih inginnya dapat sponsor airline atau perusahaan penerbangan. Setidaknya, ongkos kami ke negara tujuan sudah aman,” harap Febby.

Indonesia HWC Perubahan

Berjuang Maksimal

Indonesia HWC Tanpa Stigma
Indonesia tanpa stigma. Tim HWC vs Tim Transgender.

Timnas Indonesia tak mau setengah-setengah berangkat ke Chile. Setiap hari tim berlatih dua kali sehari di Taman Persib, Jalan Supratman, Bandung. Karena lapangan di Chile nanti menggunakan rumput, maka lapangan di Taman Persib dipilih sebagai tempat latihan.

Tidak tanggung-tanggung sebagai langkah aklimatisasi, mereka menggelar latihan pukul 11 siang. Sebagai catatan, suhu rumput sintetis pada siang hari bisa mencapai dua kali lipat dari suhu biasanya.

Kelembapan dan suhu yang tinggi membuat stamina kerap terkuras dengan cepat. Maka, delapan orang pemain yang berangkat dibagi menjadi dua tim sebagai langkah antisipasi menghadapi jadwal pertandingan yang hanya berjarak jam.

Febby sebenarnya ingin seperti negara lain yang membawa skuat lengkap. Misalnya, timnas Inggris yang membawa psikolog khusus dari klub Manchester United. Lalu, timnas Denmark yang turut serta membawa terapi.

Febby pun berceloteh, “Ya, kalau kami sih seringnya pelatih merangkap kitman, manajer merangkap tukang pijat,” katanya sembari terkekeh. Ia menjelaskan, rombongan timnas lain biasanya membawa 15 orang termasuk dokter tim.

Meskipun persiapan tidak semewah negara lain, tapi asa selalu membumbung tinggi. Kepanikan yang sempat melanda kini telah tiada, seiring dengan hadirnya hitam di atas putih dengan Kemenpora.

***

Di atas lapangan, keringat yang mengucur mulai mengering. Pertandingan kali ini jauh lebih santai. Sesekali, pemain mulai curi-curi waktu untuk beristirahat. Lawan yang mereka hadapi adalah tim transgender yang kerap berteriak histeris saat mencoba menendang bola. Seringkali, tawa terdengar mesra karena lawan kerap menggoda.

Sementara itu, Febby masih setia memandangi jam tangannya. Matanya memandang jauh sampai terlihat iring-iringan dari keramaian. Hari itu, nazar 36 jam ditutup oleh Walikota Bandung, Ridwan Kamil. Tangis berbisik dalam sunyi. Air mata menetes sebagai rasa bangga di hati. Sore ini, mereka akan pergi. Layaknya seperti seorang pajuang yang hendak maju ke medan perang, ada harapan, asa dan mimpi bangsa ini di puncak mereka. Nama baik bangsa ini akan segera dipertaruhkan di Chili.

Komentar