Orang-orang Kiri di Persimpangan Lapangan Bola

Cerita

by Frasetya Vady Aditya 50679 Pilihan

Frasetya Vady Aditya

Penyunting. Jangan terkekang; sepakbola cuma cangkang. Kontak: vady.aditya@gmail.com

Orang-orang Kiri di Persimpangan Lapangan Bola



Cristiano Lucareli

Nama selanjutnya yang identik berhaluan kiri adalah Cristiano Lucareli. Pemain yang bersinar bersama Livorno ini sampai-sampai menggunakan jersey nomor 99 dan menato tangannya dengan tulisan "99", sebagai penghormatan atas terbentuknya ultras berhaluan kiri, Brigate Autonome Livornesi.

Lucarelli menjadi sedikit dari pesepakbola Italia yang secara terbuka mengemukakan pandangan politiknya ke lapangan. Saat merayakan gol, ia biasanya melakukan salam hormat ala Partai Komunis. Secara terbuka, ia menyatakan dirinya sebagai pendukung komunisme.

Sama halnya dengan Breitner, ia merupakan penggemar Che Guevara. Wajah sang idola kerap terlihat dalam banner yang dibawa fans, ataupun dalam kaos yang dikenakan.

Di kota kelahirannya, Livorno, Lucarelli berinisiatif untuk membentuk sebuah harian, karena di kota berpenduduk 200 ribu jiwa tersebut, hanya ada satu koran yang beredar. Artinya, akan adanya monopoli informasi bagi masyarakat Livorno.

Koran tersebut diresmikan pada 9 September 2007. Bukan sebuah hal yang kebetulan kalau ia memilih 9/9 sebagai tanggal ulang tahun koran tersebut. Ia ingin berita yang dihasilkan seobjektif dan senetral mungkin. Ia tak ingin pandangan jurnalis masuk ke dalam berita. Pun dengan pandangan politiknya.

Dalam sebuah momen, ia sempat mendedikasikan golnya bagi 400 pekerja pabrik yang di-PHK. Meski tak menolong secara langsung, tapi ia turut prihatin atas kejadian tersebut, dan ia akan selalu mendukung para buruh.

Paul Breitner

Lain halnya dengan Ergich, Paul Breitner lahir dalam pengaruh fasis yang kuat. Lahir di Kolbermoor, Jerman Barat pada 1951, Breitner tidak tumbuh dalam pandangan mayoritas. Perlahan, ia mengagumi Che Guevara.

"Kematian Che Guevara memiliki dampak yang besar bagiku," kata Breitner, "Hal tersebut merupakan babak terpenting dalam perkembangan hidupku."

Memang, di awal kariernya Breitner terbilang berani. Bagaimana tidak, pada usia 18 tahun, ia memilih bergabung bersama Bayern Munich ketimbang melanjutkan studinya di universitas. Breitner berposisi sebagai fullback kiri (kebetulan?). Ia memiliki kemampuan tekel yang kuat serta tendangan yang keras.

Nyatanya, bermain di Bundesliga tak membuatnya puas. Ia menganggap Bundesliga selalu bicara tentang uang sehingga tak ada tempat untuk sosialisme.

Ia sudah dididik untuk selalu bertanya kritis. Ia heran karena para pesepakbola selalu menuruti apa yang diperintahkan pelatih tanpa bertanya. Hal yang paling kontroversial adalah saat menyebut menyanyikan lagu kebangsaan sebelum bertanding akan merusak konsentrasi belaka.

Di sepakbola, Breitner bersama tiga pesepakbola lain, Pele, Vava, dan Zidane, merupakan pencetak gol di dua final Piala Dunia.

Atas pandangan politiknya tersebut, Breitner menjadi salah seorang pesepakbola yang dihormati. Bahkan, harian The New York Times menyebutnya sebagai "The newest hero of German counter-culture".



***

Empat pesepakbola tersebut mungkin hanya bagian kecil dari pesepakbola yang mau menentang arus, dengan mengutarakan pandangan politiknya.

Menjadi seorang komunis atau sosialis atau yang berhaulan bukanlah perkara mudah. Mereka mesti siap dengan label-ing negatif dari masyarakat. Padahal, berada di kiri hanyalah sebuah pilihan, karena hidup adalah sebuah persimpangan jalan.

Sumber gambar: efp.org.uk

Komentar