Ketika Klub Menjadi Pengubur Mimpi Seorang Pesepakbola

Cerita

by Ardy Nurhadi Shufi

Ardy Nurhadi Shufi

Pemimpin Redaksi | Pesepakbola Tarkam | Juru Taktik
ardynshufi@gmail.com

Ketika Klub Menjadi Pengubur Mimpi Seorang Pesepakbola

Parameter sukses bagi seorang pesepakbola tentunya bermacam-macam. Namun dari apa yang kita lihat, bermain di sebuah tim top Eropa merupakan pencapaian tersendiri bagi seorang pesepakbola. Terlebih jika pemain tersebut memang pemain yang berasal dari tim kelas dua.

Maka untuk meraih pencapaian yang lebih baik, setiap pemain tentunya akan bermain semaksimal mungkin di tim yang ia bela. Karena hanya dengan begitu kelayakan seorang pemain untuk bermain di level yang lebih tinggi akan teruji, dan jika ia berhasil melakukannya, kesempatan untuk bermain di tim idaman pun akan terbuka lebar.

Namun hal itu nyatanya tak berlaku bagi seorang Gaetano D`Â’Agostino. Ketika ia telah berhasil memikat klub sekelas Real Madrid dan Juventus dengan performa ciamiknya, klubnya sendiri yang malah menjadi penghalang baginya untuk menapaki karir sepakbola yang lebih tinggi.

Setelah melanglang buana bersama AS Roma, Bari dan Messina, karir DÂ’Agostino baru mencuat kala membela Udinese pada 2006. Dan pada bursa transfer musim panas 2009, tawaran dari Madrid dan Juve datang menghampirinya.

"Saya telah mencapai kesepakatan dengan mereka (Real Madrid) untuk kontrak berdurasi lima tahun dengan bayaran dua juta euro per tahun," ujar D`Â’Agostino pada Panorama.it. "Saya hendak berangkat ke Spanyol untuk menandatanginya, namun ternyata Udinese menahan proses transfer saya. Udinese ingin beberapa klausul ditambahkan. Negosiasi antara kedua klub menjadi alot. Sampai akhirnya, Madrid lebih memilih untuk mendatangkan Xabi Alonso. Proses transfer pun akhirnya gagal."

Harapan bermain di tim top kembali muncul dalam benak DÂ’`Agostino setelah Juventus menghubunginya. "Juventus menghubungiku dan saat itu saya benar-benar ingin pergi. Saya masih ingat bahwa kami menyetujui kontrak 1,75 juta euro per tahun."

Namun sial bagi pemain yang biasa bermain sebagai playmaker ini. Udinese lagi-lagi menggagalkan mimpinya bermain di level yang lebih tinggi.

"Udinese menginginkan setengah kepemilikan Claudio Marchisio, Sebastian Giovinco, dan Paolo De Ceglie. Juve kemudian memberikan penawaran sebesar 18 hingga 20 juta euro. Namun mereka (Udinese) meminta 25 juta euro dan kesepakatan pun kembali tak terjalin."

DÂ’`Agostino jelas pantas menyesali keputusan manajemen Udinese yang menahannya. Karena setelah kontraknya dengan Udinese berakhir pada 2010, karirnya mulai merosot tajam. Sempat bergabung dengan Fiorentina selama satu musim, pemain kelahiran Palermo ini melanjutkan karirnya bersama tim papan bawah Serie A, Siena.

Di Siena, karirnya tak kunjung membaik. Ia pun dipinjamkan ke Pescara. Namun cedera membuat Pescara memulangkan DÂ’`Agostino ke Siena. Hingga akhirnya, kontraknya bersama Siena berakhir.

Pada bursa transfer musim panas 2014, pemain yang kini berusia 32 tahun tersebut sepi peminat. Catatannya yang rajin membela tim nasional Italia Junior dan sempat lima kali berseragam Gli Azzuri pun seakan tak berarti apa-apa.

Hingga pada akhirnya sebuah tawaran datang dari Fidelis Andria, klub yang berlaga di Serie D atau divisi lima liga Italia. Dan tanpa pikir panjang, DÂ’`Agostino pun menyetujui kontrak berdurasi satu tahun.

DÂ’`Agostino, dari seorang pemain yang sudah diambang pintu bergabung bersama tim sekelas Real Madrid atau Juventus, harus rela menerima kenyataan bahwa kini ia hanya bermain di level yang jelas jauh dalam bayangannya. Dan itu disebabkan oleh Udinese yang lebih mengutamakan ego untuk meraup keuntungan yang sebesar-besarnya.

Tapi terkadang memang seperti itulah sepakbola. Para pemain bisa diibaratkan sebagai sebuah barang atau produk untuk dijual. Yang artinya, mereka (klub) sering melupakan kenyataan bahwa seorang pesepakbola pun memiliki cita-cita dan hasrat untuk meraih tingkat kesuksesan yang lebih lewat sepakbola.

foto: commons.wikimedia.org

Komentar