Meminjamkan Pemain Muda untuk Mengelabui FFP

Cerita

by Frasetya Vady Aditya

Frasetya Vady Aditya

Penyunting. Jangan terkekang; sepakbola cuma cangkang. Kontak: vady.aditya@gmail.com

Meminjamkan Pemain Muda untuk Mengelabui FFP

Bukan hal yang aneh jika menyebut klub Liga Belanda, Vitesse, sebagai tim B Chelsea. Pasalnya sejak 2010 tidak kurang dari 14 pemain muda Chelsea dipinjamkan ke Vitesse.

Pada 2010, Vitesse dibeli oleh pemain timnas Georgia, Merab Jordania. Selanjutnya, klub tersebut dijalankan oleh rekan dekat Roman Abramovic, Alexander Chigirinsky. Pertemanan tersebutlah yang membuat Vitesse secara tidak langsung menjadi “sister club” atau “feeder club” Chelsea.

Nama-nama seperti Nemanja Matic, Tomas Kalas, Christian Atsu, Lucas Piazon, dan Gael Kakuta adalah nama-nama yang pernah merasakan atmosfer stadion GelreDome, Arnhem.

Kolaborasi Chelsea dengan Vitesse tidak melulu soal sepakbola. Pada awal musim ini, Vitesse menandatangani kerjasama dengan sponsor baru di kostum mereka. Sebuah perusahaan telekomunikasi selular bernama Truphone melekat di dada kostum Vitesse.

Tentu bukan kebetulan jika Roman Abramovic menanamkan 70 juta pounds di perusahaan tersebut atau sekitar 23,3 persen kepemilikan saham. Dengan hal ini, bisa diasumsikan kerjasama sponsor tersebut menunjukkan kondisi finansial klub lebih stabil, sejalan dengan aturan financial fair play (FFP).

Vitese tidak dikenal sebagai klub penghasil pemain muda yang berasal dari akademi. Maka, Chelsea pun mengirimkan pemain yang sudah matang, tapi belum siap untuk masuk ke dalam tim utama Chelsea.

Aturan FFP membuat klub-klub dengan dana tak terbatas, kesulitan untuk memborong pemain bertalenta. Pasalnya, FFP sudah mensyaratkan klub tak boleh merugi terlalu besar.

Atas dasar ini, Chelsea membeli pemain muda yang murah, memolesnya, meminjamkan ke klub lain, dan saat kembali, ia sudah siap untuk masuk tim utama.

Kerjasama dengan Vitesse menguntungkan kedua belah pihak. Bagi Vitesse dengan sokongan pemain muda Chelsea, membuat Vitesse tak perlu pusing membeli pemain berkualitas dengan harga mahal. Toh pemain muda Chelsea, dua tahun ke depan diproyeksikan akan “jadi”. Buktinya, kini Vitesse selalu finish di atas peringkat enam klasemen.

Thirbaut Courtois misalnya. Pemain kelahiran 1992 ini sejak musim 2011/2012 sudah dipinjamkan ke Atletico Madrid. Baru, tiga tahun berselang Chelsea kembali memanggil kiper asal Belgia tersebut setelah dianggap matang.

Sulit bagi seorang pelatih untuk percaya pada kiper muda. Bukan hal yang aneh jika ada kiper muda yang hingga tua sekalipun hanya menghuni bangku cadangan. Karena kemampuan kiper biasanya semakin bertambah seiring dengan pengalamannya bertanding. Ini bisa menjawab mengapa Gianluiggi Buffon masih menjadi kiper utama Juventus.

Bermain di tim junior tidak akan berdampak signifikan bagi pemain muda. Ia akan bertemu lawan yang kelasnya setara atau mungkin di bawahnya. Lain hal jika ia bermain di tim senior, meski bermain di liga yang lebih rendah.

Sama halnya dengan Romero Lukaku. Ia datang dari Andrelecht pada usia 18 tahun, sama seperti Courtois pada 2011. Setelah dipinjamkan ke West Brom dan Everton, ia pun dikontrak permanen oleh Everton dengan nilai 28 juta pounds. Artinya, Chelsea untuk sekitar 18 juta pounds, karena ia dibeli hanya 10 juta pounds dari Andrelecht.

Angka yang setidaknya bisa menambal kerugian agar tidak melanggar aturan FFP. Namun hal ini bukan hanya terjadi pada Vitesse dan Chelsea.

Giampaolo Pozzo misalnya, ia memiliki tiga klub: Udinese, Watford, dan Granada. Dengan kepemilikan seperti ini, ia bebas untuk mentransfer pemain dari satu klub ke klub lainnya.

Tidak ada kelompok bisnis sekuat Abu Dhabi United Group (ADUG) di sepakbola. Mereka memiliki Manchester City, New York City, Melbourne City, dan memiliki saham di Yokohama Marinos. Tidak heran jika banyak yang menyebut ADUG sebagai “City Franchise”.

Ini juga bisa dilakukan untuk mengakali FFP. Dipinjamnya Frank Lampard dari New York City misalnya. Arsene Wenger bahkan mempertanyakan kepindahan ini. Apa yang dilakukan Manchester City memang salah. Mereka mungkin saja menginginkan Frank Lampard di tim, tapi itu akan melanggar FFP. ADUG pun “memindahkan” Lampard ke New York City. Karena MLS belum akan bergulir hingga Maret, Lampard dapat dengan bebas dipinjamkan ke Manchester City untuk mengarungi liga.

Dengan kondisi finansial yang sehat, klub-klub super kaya memiliki cara untuk mengakali aturan FFP. Salah satu caranya dengan kerjasama dengan klub lain, atau cara ekstrimnya dengan membeli klub lain yang levelnya tidak terlalu jauh berbeda.

Ibaratnya, klub menanam benih dengan meminjamkan ke klub lain, setelah dua atau tiga musim, klub mulai memetiknya, sembari terus membeli benih dan menebarkannya.

Selamat berpikir kembali Michel Platini dan kawan-kawan.


Baca juga: Menilik Perjalanan Terbentuknya Regulasi Financial Fair Play



Sumber gambar: wikipedia.

Komentar