Bagaimana Cara Agar Basket Bisa Menyaingi Sepakbola?

Cerita

by Frasetya Vady Aditya

Frasetya Vady Aditya

Penyunting. Jangan terkekang; sepakbola cuma cangkang. Kontak: vady.aditya@gmail.com

Bagaimana Cara Agar Basket Bisa Menyaingi Sepakbola?

Di Amerika Serikat, sepakbola adalah minoritas. Bahkan, masyarakat Amerika lebih gemar menyebutnya sebagai “soccer”, ketimbang “football”. Sepakbola selama bertahun-tahun telah tersisih di Negeri Paman Sam tersebut.

Tahun 1994 bisa disebut sebagai masa kebangkitan sepakbola di Amerika. Sepakbola mulai menyeruak kala negara Adidaya menjadi tuan rumah Piala Dunia. Dua puluh tahun berselang, Amerika mencatatkan prestasi dengan lolos ke babak 16 besar Piala Dunia.

Kami sempat menulis bagaimana sepakbola begitu mewabah di Amerika Serikat, di sini

Bukan prestasi yang bisa disebut membanggakan memang, tapi Amerika melakukannya dengan sungguh-sungguh. Mereka bermain dengan cara bermain yang disukai masyarakat Amerika: menyerang.

Perlahan, sepakbola pun mulai diminati. Segala aspek penyelenggaraan mulai diperhatikan, termasuk pengelolaan dan industri sepakbola. Seperti yang kita tahu, industri tiga olahraga di Amerika: American Football, Baseball, dan Basket, sudah layak untuk disebut sebagai industri. Arena tidak pernah sepi. Merchandise pun laku diborong. Mereka menyediakan segalanya. Bukan sekadar pertandingan, tapi keseluruhan match programme (hari pertandingan), dipersiapkan dengan baik.

Pertandingan berlangsung pada Sabtu malam, misalnya, agar satu keluarga bisa turut hadir di arena. Pengelolaan tempat parkir, penjualan tiket, disusun sedemikian rupa, agar penonton dari berbagai kalangan dapat nyaman menyaksikan itu semua.

Bukan hal yang jarang, mereka yang menonton ke arena sebenarnya punya motif lain: bisnis, kencan, refreshing. Maka, penting untuk dengan serius menyusun match programme, agar industri bisa berjalan dengan baik.

Hanya Populer di Amerika

Adakah di belahan dunia lain, pertandingan football, baseball, dan basket, bisa menyedot perhatian puluhan ribu penggemar, dan menjadi olahraga favorit di negaranya? Ada, tapi tak sebanyak negara yang mengidolakan sepakbola.

Bisa dibilang, tiga olahraga tersebut hanya populer dan berkembang di Amerika.

Di Eropa, beberapa klub seperti Barcelona, Real Madrid, Besiktas, adalah institusi olahraga, bukan hanya sepakbola. Maka, mereka memiliki klub lain seperti klub basket, dan bola voli.

Perkembangan basket di Eropa, terutama di Spanyol dan Eropa Timur, memang jauh lebih menanjak ketimbang di Inggris, misalnya. Namun, tetap saja, sulit bagi mereka untuk bisa menyamai popularitas sepakbola.

Piala Dunia adalah pesta terakbar yang menjadi fenomena tiap empat tahun. Seluruh dunia menyaksikan dan memerhatikannya. Pernahkah Anda mendengar Piala Dunia Basket? Kalau belum, ini merupakan jawaban mengapa basket hanya populer di Amerika.

Sepakbola di Amerika Serikat hanyalah euforia sesaat.

Melebarkan Sayap Kompetisi

Liga Basket Amerika (NBA) mencatatkan pendapatan 4,75 miliar dollar Amerika. Sebuah nilai yang bisa dibilang fantastis untuk ukuran pengelolaan olahraga. Namun, jangan salah karena jumlah tersebut masih di bawah pendapatan Liga Inggris dengan lima miliar dollar Amerika.

Bedanya, EPL bukanlah satu-satunya kompetisi yang mencatatkan pendapatan di atas satu miliar dollar. Liga Jerman, Liga Spanyol, Liga Italia, Liga Prancis, hingga Liga Rusia adalah kompetisi dengan revenue di atas satu miliar dollar. Basket? Hanya Amerika. Baseball? Amerika dan Jepang. Football? Amerika.

“Secara jelas, sepakbola memang dominan,” ujar Bill Duffy, salah seorang agen pemain basket, “Kekuatan finansialnya besar. Sepakbola memiliki sponsor tertinggi. Mereka lebih menarik dan memiliki komitmen yang lebih besar.”

Jika popularitas bisa diukur dari jumlah likes fanpage facebook serta follower twitter, maka sepakbola hanya perlu menyodorkan Cristiano Ronaldo. Pemain Real Madrid ini memiliki 127 penggemar di facebook dan twitter, yang lebih banyak ketimbang Kobe Bryant, LeBron James, dan Michael Jordan jika ketiganya dikombinasikan.

Merambah Benua Lain

NBA bukannya tidak pernah menyosialisasikan permainan tersebut ke penjuru dunia. Sejak 1978 mereka sudah rutin melakukannya. Kini, Tiongkok adalah negara yang menjadi destinasi karena minat yang besar dari negeri tirai bambu itu.

NBA amat bergantung pada kehadiran pada pemain bintangnya untuk dapat mempromosikan olahraga tersebut. Mereka menamainya “Basketball Without Borders”. Program tersebut membawa para pemain, pelatih, tim lain, serta ofisial berangkat ke kota-kota di dunia untuk mengajarkan bukan hanya teknik dasar, tapi juga cara pandang basket itu sendiri.

Pada 2009, Indonesia pernah disambangi pemain serta pelatih NBA. Selama tiga hari, mereka mengisi program Indonesia Development Camp (IDC) yang menyertakan pelatih serta pemain tingkat SMA dari 15 provinsi di Indonesia.

Dengan cara seperti ini, setidaknya NBA mencoba menerapkan pengaruhnya di negara yang dianggap potensial, tapi industri olahraganya masih belum berkembang.

Permainan Masyarakat

Entah mengapa banyak orang menyukai sepakbola. Padahal, untuk bisa bermain, mereka membutuhkan lapangan yang besar dan pemain yang banyak.

Di kota-kota padat di Amerika, dengan gedung-gedung serta permukiman yang padat, sulit untuk melihat lapangan sepakbola secara teratur. Yang biasa terlihat adalah ring basket yang menggantung di tiap sudut kota. Ini yang membuat basket menerap dalam keseharian masyarakat Amerika.

Hal berbeda tentu terlihat di Indonesia misalnya. Anak-anak lebih memilih bermain bola di pelataran parkir, dengan sendal atau jaket sebagai tiang gawangnya. Jika dihitung, ini memang jauh lebih murah dibanding memasang ring basket di tembok.

Di Australia pun demikian. Meski tergolong sebagai negara maju, tapi kualitas gimnasium atau GOR di negara tersebut belum serupa dengan GOR di Amerika. Bahkan, gimnasium terbaik di Sidney kualitasnya hampir sama dengan gimnasium di SMA yang ada di Amerika.

David Nurse, shooting coach asal Australia mengatakan jumlah pelatih yang berkualitas masih belum merata. Ia menyebut China memiliki potensi besar, tapi tidak tergarap karena minimnya pelatihan dan penempaan ilmu di sana. Tanpa sumber daya manusia yang berkualitas, talenta di negara lain pun bisa lenyap begitu saja.

Ya, infrastruktur menjadi salah satu alasan mengapa basket sulit berkembang selain di Amerika.

Mengubah Cara Bermain

Tak perlu tumbuh hingga setinggu dua meter untuk menjadi pesepakbola. Lihat Marco Veratti yang tingginya hanya 1,65 meter, tapi bisa menguasai lapangan dengan amat baik.

Faktor utama basket sulit berkembang adalah masalah tinggi badan. Apalagi, bagi orang asia yang tinggi rata-ratanya sekitar 165 sentimeter. Menghadapi lawan yang jauh lebih tinggi dan kokoh tentu akan membosankan. Setiap lemparan selalu di-blok, tidak bisa slam dunk, dan lain-lain. Tinggi badan amat memengaruhi cara bermain basket.

Satu-satunya cara agar basket bisa diterima, dengan mengubah cara bermain. Teknisnya seperti apa, biar NBA yang memutuskan.

Melihat dari cara-cara di atas, setidaknya butuh waktu yang lama bagi basket untuk bisa dominan di dunia. Sepakbola menjadi favorit karena bisa dimainkan di mana saja, dengan cara apa saja, dan oleh siapa saja. Tidak terbatas hanya orang yang memiliki tubuh seperti Hercules yang bisa bermain.

Ya, tinggal tunggu waktunya, mungkin seratus tahun, dua ratus tahun, atau mungkin seabad lagi.

Komentar