Mimpi Buruk Tony Fernandez Bersama QPR

Cerita

by Frasetya Vady Aditya

Frasetya Vady Aditya

Penyunting. Jangan terkekang; sepakbola cuma cangkang. Kontak: vady.aditya@gmail.com

Mimpi Buruk Tony Fernandez Bersama QPR

Malang benar nasib Tony Fernandes ini. Taipan asal Malaysia tersebut dirundung awan gelap dalam beberapa waktu terakhir. Padahal, klub miliknya, Queens Park Rangers (QPR) telah kembali ke khitahnya di Premier League.

Awal Agustus silam, Tony berusaha membujuk Loic Remy untuk bertahan di Loftus Road. Maklum, pemain timnas Prancis tersebut menunjukkan performa positif di Piala Dunia 2014. Awalnya, QPR sudah sepakat dengan Liverpool untuk transfer tersebut. Namun, kesepakatan gagal karena Remy tak lolos uji medis.

QPR sendiri masih kekurangan pemain di sektor depan. Kehadiran Remy diharapkan mampu menambah daya gedor tim asuhan Harry Redknap tersebut.

Namun, jelang transfer deadline, Chelsea meminang Remy setelah membayar release clause sebesar 10,5 juta pounds. Tony tak bisa berbuat banyak. Klausul yang sudah ada di lembar kontrak harus dihormati.

Praktis, QPR hanya memiliki dua penyerang: Charlie Austin, dan Bobby Zamora. QPR bergerak cepat dengan meminjam Eduardo Vargas dari Napoli.

Benar saja, hingga pekan ketiga, QPR hanya mampu mencetak satu gol dan kebobolan dua gol. Mereka mengoleksi tiga poin dari hasil sekali menang dan dua kali kalah. Mereka dibantai Tottenham Hotspur 0-4 dan kalah atas Hull City 0-1.

Melihat performa seperti itu, bukan tidak mungkin QPR akan kembali terpuruk pada musim ini. Hal terburuknya adalah mereka mesti kembali ke Divisi Championship.

Masalah lainnya muncul dari Federasi Sepakbola Inggris, FA, mengancam QPR akan diturunkan ke Divisi Conference, jika mereka tidak mau membayar sanksi karena melanggar aturan financial fair play (FFP).

Bukankah Tony Fernandes adalah seorang konglomerat pemilik maskapai Air Asia? Mengapa ia tak lekas membayar denda?

Ya, jika jumlahnya 30 ribu atau 40 ribu pounds mungkin bukan masalah. Namun, QPR mesti membayar denda sebesar 40 juta pounds!

Ini karena mereka dianggap terlalu boros dengan selisih pendapatan dan kerugian yang begitu besar. QPR rugi hingga 65,4 juta pounds pada Mei 2013 sebelum mereka terdegradasi ke divisi Championship.

Direktur Eksekutif Football League (operator Divisi Championship, Divisi Satu, dan Divisi Dua), Shaun Harvey, mengungkapkan mereka akan mengirim QPR ke Divisi Conference jika menolak membayar sanksi tersebut.

Berdasarkan aturan Football League, tim yang bermain di Divisi Championship tak boleh rugi lebih dari delapan juta pounds, meski klub tersebut promosi ke Premier League.

Fernandes sendiri menentang keputusan tersebut. Besaran kerugian tersebut tak lepas dari gaji pemain yang belum disesuaikan. Maklum, saat terdegradasi ke Divisi Championship, QPR masih menggunakan pemain-pemain bergaji di atas rata-rata klub Championship.

Robert Green, Armand Traore, Benoit Assou-Ekotto, Shaun Wright-Phillips, Jermaine Jenas, Joey Barton, Niko Kranjcar hingga Yossi Benayoun adalah pemain-pemain yang tidak terbiasa dengan gaji di bawah 20 ribu pounds per pekan.

Atas hal ini, Tony meminta FA kembali mempertimbangkan keputusan tersebut. Harusnya, ada penyesuaian bagi klub Premier League yang baru terdegradasi, terutama menyangkut gaji pemain.

Ada isu FA akan memecat Roy Hodgson karena penampilan Inggris tak kunjung membaik. Nama Redknapp pun berhembus. Nama tersebut sudah dicalonkan sejak 2012, meski akhirnya FA lebih memilih Hodgson untuk menjadi nahkoda The Three Lions.

Jika Redknapp melatih Inggris, lantas siapa yang melatih QPR?

Pelatih kelahiran 1967 tersebut sudah berada di Loftus Road sejak 2012. Ia yang membawa QPR degradasi, tapi ia pula yang membawa QPR promosi setelah menghabiskan setahun di Divisi Championship.

Tony sendiri mengaku tak akan menghalangi Redknapp jika Inggris lebih membutuhkannya. “Aku tentu saja benci kehilangan Harry, tapi aku tak akan menghalangi mimpi seseorang. Ia akan menjadi manajer yang hebat.”

Awan gelap itu masih memayungi Loftus Road. Tony terpaku di kursinya. Ia berharap awan gelap tersebut segera enyah. Ia tak sudi awan gelap itu bertransformasi menjadi badai yang memporak-porandakan QPR pada musim ini dan musim-musim selanjutnya.

Sumber gambar: footballaustralia.com.au

Komentar