Al Jazeera: Pengaturan Skor di Indonesia Memang Ada

Cerita

by Frasetya Vady Aditya

Frasetya Vady Aditya

Penyunting. Jangan terkekang; sepakbola cuma cangkang. Kontak: vady.aditya@gmail.com

Al Jazeera: Pengaturan Skor di Indonesia Memang Ada

Judi dan Bandar Bola

Bagi tim Divisi Utama, menjadi juara adalah mutlak. Alasan mengapa ada pengaturan skor tak lain karena mereka ingin menang.

Lain hal bagi klub yang sudah mapan di papan tengah atau papan atas. Match fixing menjadi bagian dari pemasukan. Menang atau kalah tak masalah, selama klub tersebut memang tak berniat juara.

Masih dalam wawancara Al Jazeera, menurut salah seorang pemain yang telah 13 tahun malang melintang di Indonesia, yang oleh Al Jazeera disembunyikan identititasnya demi keamanan sang narasumber, sosok yang biasanya bermain dan datang kepada para pemain adalah mafia. Sang mafia akan menginstruksikan kedua tim untuk bermain seperti yang mereka mau. Ia menyebut, hampir semua pertandingan pada musim lalu, telah diatur.

Nantinya, mafia tersebut datang ke manajemen untuk mengatur hal-hal detail. Mereka pun biasanya memberikan bonus lebih pada kapten ataupun pemain senior. Jika pertandingan menghadapi tim yang lebih lemah, para pemain biasanya tidak diikutsertakan. Kecuali, jika melawan tim dengan level setara atau lebih tinggi di atasnya, mereka baru diberitahu.

Para pemain tersebut dijanjikan bonus sebesar tiga hingga sepuluh juta rupiah untuk turut serta dalam pengaturan skor.

Sang pengatur skor mengakui bahwa apa yang dilakukannya sebagai hal yang tidak sportif.

"Tapi itulah yang terjadi di sini. Kalau melawan arus, kami yang akan mati. Mengikut arus akan membuat kami juara. Jadi lupakanlah soal sportivitas," tuturnya.

Tuntutan Lingkungan

"Sebagai pemain profesional, saya sebenarnya enggan melakukan itu. Tapi itulah sepakbola. Pengaturan skor itu seperti lingkaran yang tak berujung. Saya tidak mau, tapi pemain lain mau," tutur pesepakbola tersebut.

Ia menambahkan, kedua tim biasanya sudah tahu kalau pertandingan tersebut diatur. Asisten pelatih yang ada di bench biasanya memberikan kode untuk memulai rencana busuk tersebut.

"Ketika ia memberi sinyal untuk mencetak gol, kami mulai menyerang. Jika belum saatnya, kami akan terus bertahan. Kami bermain seperti orang bodoh. Ini seperti bermain di playstation."

Memang sulit menjadi pesepakbola yang memiliki idealisme di negeri ini. Saat ingin bermain bersih, tapi rekan sejawat meminta kita untuk mengikuti arahan manajemen. Bukannya apa-apa, tapi pemasukan dari pengaturan skor ini sungguh besar.

Hal ini mungkin saja tak akan terjadi andai klub mau menepati janji mereka untuk membayar gaji pemain sesuai jadwal. Ini akan meminimalisasi terlibatnya pemain ke dalam lingkaran hitam pengaturan skor. Jika pemain mendapatkan gaji yang sesuai, maka alasan untuk menerima "pinangan" match fixing pun berkurang.

Lantas, bagaimana agar sepakbola Indonesia bisa lebih maju di masa mendatang?

Simak petikan Direktur Liga Indonesia, Joko Driyono, (masih dalam liputan yang sama) berikut ini,

"I think football in Indonesia especially has always been connected to politics. Football, in the future, will be stable, if the clubs are managed business-wise, not political-wise."

Untuk menyimak liputan dokumenter Al Jazeera ini, Anda bisa menontonnya di video di bawah ini





Komentar