Perjalanan Panjang Spurs dan Liverpool Menuju Final Liga Champions 2018/19

Berita

by M. Rifky Herlanda P.

M. Rifky Herlanda P.

Bola adalah pacar.

Perjalanan Panjang Spurs dan Liverpool Menuju Final Liga Champions 2018/19

Setelah di tengah pekan kita bisa menyaksikan all-English final di ajang Liga Europa UEFA, maka di akhir pekan ini kita bisa menyaksikan all-English final lainnya dari ajang Liga Champions yang mempertemukan Tottenham Hotspurs dan Liverpool.

Laga final ini akan dihelat di Estadio Wanda Metropolitano, markas dari kesebelasan Atlético Madrid. Sayangnya Atlético gagal melaju ke partai final karena mereka harus tersingkir dari Juventus di babak perempat final.

Tottenham punya sedikit pengalaman menjadi juara Eropa tapi bukan Liga Champions (atau Piala Eropa), melainkan Cup Winner`s Cup, di mana mereka meraihnya pada 1962. Namun pada turnamen antar klub tertinggi di Eropa, Spurs belum sekalipun meraihnya. Maka dari itu, apabila mereka mampu meraih trofi "si kuping besar" ini maka akan sangat spesial, apalagi dengan skuat yang ada di mana mereka tak melakukan transfer selama dua jendela transfer terakhir.

Sementara bagi Liverpool, apabila mereka bisa keluar sebagai juara, ini akan menjadi gelar keenam mereka dan mengakhiri puasa 15 tahun tak meraih gelar ini. Selain itu, momen ini juga menjadi penting bagi Jürgen Klopp karena ini akan menjadi piala pertama bagi dirinya untuk Liverpool setelah empat tahun menjadi pelatih The Reds.

Sebelum menebak siapa yang akan keluar sebagai juara, mari kita simak perjalanan kedua kesebelasan sebelum menginjakkan kaki ke final di Madrid. Perjalanan kedua kesebelasan terbilang cukup berat, karena keduanya sama-sama lolos dari babak penyisihan grup sebagai runner-up, bukan juara grup.

Dimulai dari Spurs. Harry Kane dkk tergabung di Grup B bersama Barcelona, Internazionale Milan, dan PSV Eindhoven: sebuah grup "neraka". Mereka bisa lolos ke babak 16 besar hanya karena unggul selisih gol dari Inter yang berada di peringkat ketiga. Dari enam kali bermain, Spurs meraih dua kemenangan, dua kali imbang, dan dua kali kalah dengan meraih 8 poin. Spurs menemani Barcelona lolos ke babak 16 besar.

Di babak 16 besar tantangan berat bagi Spurs langsung menanti. Mereka harus menghadapi raksasa Bundesliga, Borrusia Dortmund. Beruntung bagi Spurs, di saat mereka harus menghadapi Dortmund, kondisi Marco Reus tidak dalam performa yang baik. Dortmund mengalami penurunan penampilan yang membuat peluang mereka menjadi juara Bundesliga mengecil.

Pada leg pertama, bermain di kandang sendiri, Spurs berhasil menghancurkan Die Borussen dengan tiga gol tanpa balas. Pada leg kedua, Spurs juga mampu membuat kejutan dengan mencuri kemenangan lewat gol tunggal dari Kane. Spurs lolos ke babak perempat final dengan agregat 4-0.

Undian babak perempat final mempertemukan Spurs dengan sesama kesebelasan asal Inggris, yaitu Manchester City. Spurs tak dijagokan untuk lolos, tapi berkat racikan Mauricio Pochettino, Spurs berhasil menang 1-0 ketika bertindak sebagai tuan rumah di leg pertama.

Lagi, lagi, dan lagi Spurs banyak diragukan untuk bisa menang di Etihad Stadium. Bukan tanpa sebab, musim ini Man City begitu superior ketika bermain di kandang. Menepis semua prediksi, Spurs mampu melewati drama hingga akhir pertandingan. Spurs berhak lolos ke semifinal meski Man City memenangi pertandingan dengan skor 4-3 (agregat 4-4) karena peraturan gol tandang.

Setelah mampu menyingkirkan Man City, selanjutnya Spurs harus berhadapan kesebelasan kuda hitam, Ajax Amsterdam. Mereka inilah kesebelasan yang menyingkirkan Real Madrid dan Juventus untuk bisa tampil di semifinal.

Benar saja, Spurs direpotkan oleh Dusan Tadic, Hakim Ziyech, Frenkie De Jong, dan Matthijs de Light. Pada leg pertama yang digelar di markas Spurs, De Light mampu membawa Ajax mencuri kemenangan lewat satu golnya dan menjadi modal penting untuk melakoni leg kedua.

Spurs kembali tak diunggulkan untuk bisa lolos ke babak final. Mereka kalah di leg pertama dan Ajax kemudian meraih gelar KNVB Beker yang memberikan motivasi lebih bagi para pemainnya. Ajax mampu unggul dua gol terlebih dahulu atas Spurs. Namun dengan semangat pantang menyerah, Spurs tampil menggila.

Mereka mampu menyamakan kedudukan menjadi 2-2 lewat dua gol Lucas Moura. Drama kembali terjadi. Beberapa detik di injury time, Lucas Moura keluar sebagai pahlawan dengan mencetak gol sebelum pertandingan selesai. Spurs lolos ke final lagi-lagi karena unggul produktivitas gol tandang.

Itulah perjalanan dari Spurs yang luar biasa menuju partai final. Mereka hanya lolos sebagai runner-up, mereka berada satu grup dengan kesebelasan yang memiliki tradisi Eropa yang kuat, mereka mampu comeback setelah beberapa kali tertinggal, dan secara teknis juga mereka tak memenangi perempat final dan semifinal jika bukan karena gol tandang. Namun semangat ini yang menjadi sinyal bahaya untuk Liverpool.

Mari sekarang kita melihat perjalanan Liverpool menuju partai final. The Reds tergabung di Grup C bersama Paris Saint-Germain, Napoli, dan Red Star Belgrade (FK Crvena Zvezda). Sama halnya dengan Spurs, Liverpool lolos dari babak 16 besar sebagai runner-up dengan meraih total sembilan poin dari tiga kemenangan dan tiga kekalahan.

Dari hasil babak penyisihan, Liverpool tidak cukup meyakinkan karena penampilan mereka yang tidak konsisten. Namun ketika memasuki babak fase gugur, Liverpool mulai menunjukkan kualitasnya.

Pengundian babak 16 besar memunculkan nama Bayern München sebagai lawan yang dihadapi. Bayern tentu lebih diunggulkan karena mereka adalah juara grup. Pada leg pertama yang dihelat di Anfield, Liverpool hanya mampu menahan Bayern 0-0. Namun di leg kedua, pengalaman Kloop yang pernah melatih di Bundesliga berbuah manis. Bayern ditendang dari babak 16 besar dengan skor akhir 3-1.

Masuk ke babak perempat final, Liverpool sedikit beruntung karena hanya bertemu dengan wakil dari Portugal, FC Porto. Pada leg pertama yang berlangsung di Anfield, Mohamed Salah dkk berhasil mengalahkan Porto dua gol tanpa balas. The Reds menggila di leg kedua. Empat gol berhasil mereka cetak di kandang Porto, sementara yang tuan rumah hanya mampu mencetak satu gol. Liverpool lolos ke babak semifinal dengan agregat 5-1.

Setelah mendapat lawan yang relatih ringan, di babak semifinal Liverpool bertemu dengan lawan yang sangat berat, yaitu Barcelona yang sebelumnya pada babak perempat final berhasil mengalahkan Manchester United dengan agregat 4-0.

Pada leg pertama yang dihelat di Camp Nou, Liverpool sangat tak berdaya. Gawang Alisson Becker dibobol tiga gol tanpa balas, dengan Messi menjadi bintang pada laga tersebut. Liverpool pulang dengan sedikit rasa pesimis dan ejekan dari para pendukung lain, terutama para pendukung Man United.

Leg kedua berlangsung di Anfield. Mereka harus menang dengan selisih empat gol untuk bisa lolo ke final. Hampir mustahil dengan lawan seperti Barcelona dengan Messi-nya.

Segala cara dilakukan anak asuhan Klopp. Liverpool menggila. Dari awal pertandingan mereka langsung menekan Barcelona, Messi dan kawan-kawan tak berkutik sama sekali. Gawang Barcelona dibobol empat gol tanpa balas. Comeback yang luar biasa! Liverpool lolos ke final dengan agregat 4-3.


Ternyata sulit menjadi agen pemain. Kali ini Rochi Putiray membahas perbedaan antara agen pemain yang baik dengan yang abal-abal.


Melihat perjalanan kedua kesebelasan di atas, bisa dibilang mereka memiliki kesamaan, yaitu semangat juang yang luar biasa. Sebelum peluit tanda berakhirnya pertandingan ditiup, mereka akan terus berlari untuk mencetak gol.

Perang strategi antara Maurichio Pocchetino dan Jürgen Klopp juga akan sangat dinantikan oleh para pencinta sepakbola. Penampilan dari para pemain juga dinantikan. Beberapa pemain kunci seperti Harry Kane, Son Heung-min, Bamidele Alli, Christian Eriksen, Sadio Mané, Mohamed Salah, Virgil van Dijk, dan Alisson akan saling berhadapan.

Jadi menurut kalian siapa yang akan menjadi kesebelasan terbaik di Eropa musim ini? Spurs atau Liverpool? Keseruan laga final ini bisa kalian saksikan pada Minggu, 2 Juni 2019, pukul 02.00 WIB dan disiarkan oleh RCTI.

Komentar