Perjalanan Chelsea dan Arsenal Menuju Final Liga Europa

Berita

by M. Rifky Herlanda P.

M. Rifky Herlanda P.

Bola adalah pacar.

Perjalanan Chelsea dan Arsenal Menuju Final Liga Europa

Pada Kamis (30/4) dini hari WIB, dua kesebelasan asal Kota London, Chelsea dan Arsenal, akan saling berhadapan di partai final Liga Eropa 2018/19 di Baku Olympic Stadium, Baku, Azerbaijan. Selain adu gengsi, Chelsea dan Arsenal juga memiliki misi lain untuk meraih trofi Liga Europa, terutama bagi The Gunners.

Chelsea ingin mengincar gelar Liga Europa yang kedua, setelah pertama kali mereka raih tujuh tahun silam, yaitu pada musim 2012/13. Selain itu, dengan raihan trofi ini juga bisa disebut sebagai pembuktian pelatih mereka, Maurizio Sarri, bahwa Chelsea tak salah mendatangkannya di awal musim lalu. Dan bagi Eden Hazard, ini bisa saja pemberian gelar terakhir dari dirinya untuk Chelsea, karena berita kepindahannya (ke Real Madrid) semakin menguat.

Sementara bagi Arsenal, gelar juara Liga Europa ini merupakan tiket terakhir mereka untuk bisa bermain di Liga Champions musim depan. Apabila melihat tabel akhir klasemen Liga Primer Inggris, mereka hanya berada di peringkat kelima. Selain itu apabila mereka berhasil meraih gelar juara ini, puasa gelar Eropa mereka selama 16 tahun akan berakhir dan juga ini menjadi motivasi bagi Unai Emery untuk bisa meraih gelar Liga Europa keempatnya (sebelumnya bersama Sevilla).

Menebak siapa yang akan keluar sebagai juara cukup menarik, tapi sebelum itu, mari sama-sama melihat perjalanan kedua kesebelasan ini hingga bisa mencapai partai puncak.

Chelsea tergabung di Grup L bersama PAOK dari Yunani, MOL Vidi dari Hungaria, dan BATE Borisov dari Belarusia. Di Grup L ini Chelsea tampil begitu superior. Hazard dkk tak sekalipun menelan kekalahan. Mereka lolos ke babak 32 besar sebagai juara grup dari hasil lima kali menang dan satu kali seri. Dari Grup L, selain mengirim Chelsea sebagai juara grup, BATE juga lolos ke babak 32 besar menemani Chelsea.

Meski cukup terseok di ajang Liga Primer karena sempat mengalami inkonsistensi penampilan, Chelsea tetap perkasa di ajang Liga Europa ini. Memasuki fase gugur, tren tak terkalahkan mereka berlanjut.

Bertemu dengan wakil Swedia, Malmö, Chelsea berhasil menang dengan agregat 5-1 (2-1 dan 3-0). Kemenangan ini membuat Chelsea berhak melaju ke babak selanjutnya, babak 16 besar. Di babak ini Chelsea mendapat lawan asal Ukraina, Dynamo Kyiv. Lagi dan lagi, anak asuhan Sarri tak terbendung. Kyiv mereka hancurkan dengan agregat 8-0, di mana tiga gol mereka cetak ketika bertindak sebagai tuan rumah, dan lima gol mereka cetak ketika bertandang ke Ukraina.

Chelsea kemudian bertemu dengan wakil Republik Ceko, SK Slavia Praha, di babak perempat final. Ketika bertandang ke Praha, The Blues mampu mengalahkan tuan rumah dengan skor 1-0. Di leg kedua, Chelsea yang menjadi tuan rumah pun berhasil menang meski sempat mendapatkan perlawanan yang cukup ketat karena sang tamu mampu mencetak tiga gol. Di akhir pertandingan, Chelsea menang dengan skor 4-3. Chelsea lolos ke babak semifinal dengan agregat 5-3.

Di babak semifinal, Chelsea sudah ditunggu oleh wakil Jerman, Eintracht Frankfurt, yang sebelumnya mampu mengalahkan kesebelasan asal Portugal, Benfica, dengan sangat dramatis. Frankfurt berhasil comeback di leg kedua setelah dikalahkan pada leg pertama oleh Benfica. Hasil pertandingan itu membuat Chelsea sedikit khawatir dan cukup mempersiapkan diri dengan matang.

Benar saja, Chelsea mendapat perlawanan cukup ketat dari Frankfurt. Harus bertandang ke kandang Frankfurt, Chelsea gagal mencuri kemenangan. Mereka harus puas dengan hasil imbang 1-1, meski sebenarnya Chelsea punya keuntungan karena mampu mencetak gol tandang. Di leg kedua yang berlangsung di Stamford Bridge, Chelsea kembali mendapat perlawanan yang begitu hebat dari Frankfrurt.

Kesebelasan asal Jerman itu menahan sang tuan rumah dengan skor imbang 1-1 di waktu normal 2x45 menit dan memaksa Chelsea untuk bermain di babak perpanjangan waktu. Kemenangan Chelsea baru bisa dipastikan lewat babak adu penalti. Kepa Arrizabalaga menjadi pahlawan pada laga ini dengan menahan dua penendang Frankfrurt dan membuat Chelsea menang 4-3. Chelsea lolos ke final.

Sama halnya dengan Chelsea, Arsenal berhasil keluar sebagai juara grup untuk lolos ke babak 32 besar. The Gunners tergabung di Grup E bersama dengan kesebelasan Ukraina, FC Vorskla Poltava, Qarabag FK dari Azerbaijan (dengan markasnya di Baku Olympic Stadium juga), dan Sporting CP dari Portugal. Arsenal melaju mulus di Grup E ini dengan tak sekali pun merasakan kekalahan. Unai Emery berhasil membawa Arsenal menang lima kali dan satu kali imbang.

Setelah melaju mulus di babak penyisihan grup, Arsenal mulai membuat para pendukungnya risau, karena di babak gugur ini Arsenal sempat mengalami kekalahan. Kekalahan pertama di ajang Liga Europa bagi Arsenal terjadi di babak 32 besar. BATE yang merupakan runner-up Grup L (di bawah Chelsea) adalah kesebelasan yang memberikan kekalahan pertama bagi Arsenal di ajang Eropa musim ini.

Arsenal kalah 0-1 ketika bertandang ke Belarusia. Namun karena memiliki pelatih yang berpengalaman di Liga Europa, pada leg kedua yang berlangsung di Emirates Stadium, Pierre-Emerick Aubameyang dan kawan-kawan berhasil menang tiga gol tanpa balas dan memastikan diri lolos ke babak 16 besar.

Di babak 16 besar mereka harus berhadapan dengan kesebelasan asal Perancis, Stade Rennais. Di leg pertama yang berlangsung di kandang Rennes, Arsenal harus kalah, mereka dihancurkan dengan skor 1-3 dan membuat langkah Arsenal cukup berat meski bermain di kandang sendiri pada leg kedua. Namun Arsenal mampu menang tiga gol tanpa balas di leg kedua. Arsenal lolos ke babak perempat final dengan agregat 4-3.

Pada babak perempat final Arsenal harus berhadapan dengan lawan yang cukup tangguh, yaitu sang peringkat kedua Serie A Italia, Napoli. Tak ingin merasakan kembali kekalahan, Arsenal mulai berbenah dan tampil begitu baik. Napoli mereka singkirkan dengan agregat 3-0, setelah mereka mampu menang 2-0 di kandang sendiri, dan menang 1-0 di kandang Napoli.

Langkah Arsenal berlanjut ke babak semifinal. Di babak penentuan untuk melaju ke final ini Arsenal harus berhadapan dengan Valencia yang sebelumnya berhasil mengalahkan Villarreal di perempat final dengan agregat 5-1.

Lagi dan lagi Unai Emery mengeluarkan tajinya. Valencia dikalahkan pada leg pertama dan kedua, di mana Arsenal mampu menang 3-1 di kandang dan menang 4-2 di kandang Valencia lewat penampilan gemilang duet penyerang mereka, Alexandre Lacazette dan Aubameyang. Arsenal lolos ke final.

Jika melihat perjalanan kedua kesebelasan di atas sedikit sulit untuk memprediksi hasil akhir. Chelsea memang tak sekali pun menelan kekalahan dari babak penyisihan grup hingga semifinal dan menandakan bahwa mereka memiliki mental yang baik jelang laga final. Sementara Arsenal sempat mengalami dua kekalahan tapi bisa bangkit berkat racikan pelatih mereka yang sudah sangat fasih bermain di Liga Europa.

Namun mari sedikit melihat statistik secara umum dari kedua kesebelasan sebagai perbandingan. Dalam urusan mencetak gol, Chelsea lebih produktif daripada Arsenal. The Blues total dalam 14 pertandingan mencetak 32 gol, sedangkan dalam kurun waktu yang sama Arsenal hanya mencetak 29 gol. Sementara untuk lini pertahanan, Arsenal sedikit lebih baik di mana mereka hanya kemasukan sembilan gol, sedangkan Chelsea kemasukan 10 gol.

Baku Olympic Stadium akan menjadi saksi baku hantam dari dua kesebelasan asal London ini. Arsenal yang ingin meraih tiket emas untuk otomatis lolos ke Liga Champions musim depan tentu punya motivasi lebih apalagi Emery punya pengalaman tiga kali menang di laga final Liga Europa.

Sementara Pelatih Chelsea, Maurizio Sarri, juga tentu punya motivasi sendiri untuk memberikan gelar juara pertamanya sebagai pelatih. Memang mengejutkan sejak menjalani dunia kepelatihan pada 1990 dan mengarungi 19 kesebelasan, Sarri belum sekalipun pernah merasakan gelar juara.

All-English Final ini bisa kalian saksikan pada Kamis (30/4) dini hari pukul 02.00 WIB, disiarkan langsung oleh RCTI. Jadi menurut kalian, siapa yang akan menang pada baku hantam di Baku ini?

Infografis: Mayda Ersa Pratama


Ternyata sulit menjadi agen pemain. Kali ini Rochi Putiray membahas perbedaan antara agen pemain yang baik dengan yang abal-abal.


Komentar