Kontroversi Juventus vs Milan di Arab Saudi

Berita

by Dex Glenniza

Dex Glenniza

Managing editor of Pandit Football, MSc sport science, BSc architecture, licensed football coach. Born with the full name of Defary Glenniza Tiffandiputra, growing up with a nickname Dex Glenniza. Who cares anyway! @dexglenniza

Kontroversi Juventus vs Milan di Arab Saudi

Rivalitas Juventus dan AC Milan sangat kental terasa karena keduanya merupakan dua kesebelasan paling sukses di Italia, meski Juventus lebih kontekstual dalam hal kekinian. Pada tengah pekan ini (Kamis 17 Januari 2019 pukul 00.30 WIB) keduanya akan bertemu pada pertandingan Supercoppa Italiana yang akan dilangsungkan di Jeddah, Arab Saudi.

Baik Juventus maupun Milan ingin mengoleksi trofi pertama mereka di 2019. Namun pertandingan ini penuh kontroversi dari luar lapangan.

Beberapa kontroversi utama yang mencuat adalah soal pemilihan negara penyelenggara, masalah hak asasi manusia dalam kasus pembunuhan Jamal Khashoggi, penonton perempuan hanya boleh menonton di tribune “keluarga”, dan masalah pembajakan digital (streaming ilegal).

Bukan yang Pertama di Luar Italia

Pertandingan Supercoppa Italiana atau Piala Super Italia adalah pertandingan yang mempertemukan juara Serie A dengan Coppa Italia. Tahun lalu Juventus memenangi kedua kejuaraan itu, tapi Milan berhak bermain di Supercoppa lantaran menjadi runner-up di Coppa Italia.

Supercoppa tahun ini akan berlangsung di King Abdullah Sports City Stadium di Jeddah, yang berjarak 3.400 km dari Leonardo Da Vinci Airport di Roma, Italia.

Ini bukan Supercoppa pertama yang berlangsung di luar Italia, melainkan yang ke-10 dari 31 edisi. Sebelumnya Amerika Serikat, Libya, Tiongkok, dan Qatar pernah menjadi negara penyelenggara Supercoppa. Meski begitu, ini adalah yang pertama untuk Arab Saudi.

Supercoppa pertama yang berlangsung di luar Italia adalah 1993 di Washington DC, Amerika Serikat (Milan 1-0 Torino). Supercoppa di luar Italia terakhir terjadi pada 2016 di Doha, Qatar (Milan menang 4-3 di babak adu penalti setelah ditahan imbang 1-1 oleh Juventus). Sementara Supercoppa tahun lalu berlangsung di Stadio Olimpico, Roma (Juventus 2-3 Lazio).

Sebelumnya Supercoppa tidak pernah sekontroversial ini. Supercoppa terakhir yang penuh kontroversi terjadi pada 2002 di June 11 Stadium, Tripoli, Libya (Juventus 2-1 Parma).

Muatan politis memengaruhi ajang Supercoppa 2002. Adanya hubungan antara Italia dengan penguasa Libya ketika itu, Muammar Gaddafi, membuat Supercoppa diadakan di Libya. Selain karena muatan politis, janji dana segar yang akan Gaddafi kucurkan membuat FIGC melaksanakan ajang Supercoppa di sana.

Kasus HAM Soal Pembunuhan Jamal Khashoggi

Menyusul pembunuhan jurnalis Arab Saudi, Jamal Khashoggi, di kedutaan besar Saudi di Turki pada Oktober 2018, para aktivis dan kelompok kemanusiaan termasuk Amnesty International sebenarnya sudah meminta agar pertandingan tidak dimainkan di Arab Saudi.

Seperti yang dilaporkan Corriere della Sera, Amnesty International mengindikasikan Supercoppa 2019 sebagai upaya untuk “mengubah citra” pemerintah Kerajaan Arab Saudi yang ternoda.

Baca juga: Supercoppa Italia, Luar Negeri, Musim Dingin = Uang

Dalam pernyataan yang keras, kepala kebijakan dan urusan pemerintahan Amnesty International Inggris Raya, Allan Hogarth, mengatakan: “Sudah jelas bahwa negara-negara seperti Arab Saudi sangat sadar akan potensi olahraga untuk ‘mengubah citra’ suatu negara.”

Hogarth juga menambahkan bahkan sebelum pembunuhan mengerikan terhadap Jamal Khashoggi, Arab Saudi sudah memiliki banyak catatan buruk soal pelanggaran hak asasi manusia.

“Kesebelasan-kesebelasan besar seperti Juventus dan Milan perlu memahami bahwa keikutsertaan mereka dalam acara-acara olahraga di negara ini dapat digunakan sebagai bentuk ‘pencucian olahraga’.”

“Kami mendesak kesebelasan-kesebelasan Italia ini untuk berpikir dua kali tentang sinyal yang dikirimkan kepada para penggemar olahraga di seluruh dunia dan para aktivis pemberani yang membela hak asasi manusia di Arab Saudi,” kata Hogarth, dikutip dari Football Italia.

Pembatasan Penonton Perempuan

Bukan hanya soal pembunuhan Khashoggi, masalah HAM di Arab Saudi juga menebal ketika Serie A merilis informasi tentang cara mendapatkan tiket, dengan mengatakan beberapa kategori kursi hanya tersedia untuk laki-laki. Sementara penonton perempuan hanya bisa mendapatkan akses dengan membeli tiket di area “keluarga” di stadion berkapasitas 60.000 tempat duduk tersebut.

Matteo Salvini, Wakil Perdana Menteri Italia, mengecam pembatasan itu. “Supercoppa Italia dimainkan di negara Islam di mana perempuan tidak bisa pergi ke stadion kecuali jika ditemani oleh laki-laki. Menyedihkan. Ini menjijikkan. Aku tak akan menonton pertandingan ini,” kata Salvini, yang juga suporter Milan, dikutip dari AFP.

Berbeda dengan Salvini, Gaetano Micciché (Ketua Serie A) membela keputusan bermain di Arab Saudi sebagai sebuah sejarah.

“Sampai tahun lalu, perempuan [di Arab Saudi] tak bisa menghadiri acara olahraga apa pun. Kami bekerja untuk memastikan bahwa dalam pertandingan berikutnya yang kami mainkan di negara ini, perempuan dapat mengakses semua kursi stadion,” kata Micciché.

Bek Juventus asal Brasil, Alex Sandro, secara tak langsung mendukung pernyataan Micciché: “Aku pernah ke sana (Jeddah) dengan Brasil dan aku pikir Saudi telah mengambil langkah maju. Mereka memiliki basis penggemar dan budaya yang berbeda, tapi aku pikir ini akan menjadi final yang bagus.”

Riyadh —yang telah lama dikenal menerapkan pembatasan keras pada perempuan— tahun lalu melonggarkan aturan lama yang memisahkan laki-laki dan perempuan di stadion. Sebelumnya perempuan sama sekali dilarang memasuki stadion sepakbola. Hal ini senada juga dengan larangan perempuan untuk mengemudi, yang juga sudah ditiadakan.

Masalah Pembajakan melalui Streaming Ilegal

Selain masalah HAM, Arab Saudi juga terkenal dengan masalah pembajakan digital. Jika kalian akrab dengan streaming ilegal, negara ini dan negara-negara Timur Tengah lainnya sudah terkenal sebagai sumbernya jasa streaming ilegal.

Sebelum ini, beIN Sports —jaringan televisi berbasis di Qatar yang memiliki hak eksklusif di Timur Tengah untuk beberapa acara olahraga besar— mendesak pihak Serie A untuk memindahkan pertandingan dengan alasan bahwa Arab Saudi diduga memaafkan pembajakan digital, mengacu pada beoutQ yang merupakan salah satu jaringan konten streaming ilegal dari beIN Sports.

Melalui Al Jazeera, pihak beIN Sports juga ikut mengutip seruan serupa untuk merelokasi pertandingan yang dilakukan oleh aktivis HAM.

Baca juga: Stadion-stadion Arab Saudi Membuka Diri kepada Perempuan

Namun Kementerian Perdagangan dan Investasi Arab Saudi terus-menerus mengambil sikap kukuh untuk melindungi hak kekayaan intelektual (intellectual property atau IP) di mana kementerian menyita ribuan boks set-top yang digunakan oleh beoutQ untuk secara ilegal menyiarkan konten beIN Sports.

Selain itu, Kementerian Media menyambut baik pengumuman FIFA untuk mengambil tindakan hukum di Arab Saudi guna memerangi pembajakan yang beoutQ lakukan, yang jaringannya sudah sampai ke negara-negara lain di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara (Middle East and North African region atau MENA), termasuk Qatar dan Eropa Timur.

Bagi Indonesia sendiri, tidak perlu susah payah mencari tayangan Supercoppa yang legal. Pertandingan ini akan disiarkan langsung oleh TVRI.

Prediksi Hasil Pertandingan

Mengesampingkan segala kontroversi dari luar lapangan, pertandingan Supercoppa ini akan dipimpin oleh wasit asal Italia, Luca Banti.

Juventus memiliki sejumlah masalah cedera menjelang Supercoppa. Mario Mandžukic masih cedera, yang akan membuat Massimiliano Allegri kemungkinan besar memainkan Cristiano Ronaldo sebagai penyerang.

Sementara itu Gonzalo Higuaín bisa bermain untuk Milan meski menghadapi kesebelasan yang meminjamkannya. Banyak laporan gosip transfer yang berkata jika ini akan menjadi pertandingan terakhir Higuaín di Milan maupun Juventus karena dia memutuskan untuk pindah ke Chelsea.

Di sisi lain, Gennaro Gattuso akan bermain tanpa Suso, yang membuat Lucas Paqueta kemungkinan besar melakoni penampilan keduanya untuk Milan sejak bergabung dari Flamengo.

Milan juga akan kehilangan Mattia Caldara, Lucas Biglia, dan Giacomo Bonaventura yang masih menderita cedera.

Pada enam pertemuan terakhir antara kedua kesebelasan, Juventus berhasil memenangi semuanya. Terakhir kali mereka kalah adalah pada laga sebelumnya di mana Milan mengalahkan Juventus melalui adu penalti pada ajang Supercoppa Italiana 2016 di Qatar.

Lebih jauh ke belakang, itu hanya dua kemenangan dalam 17 pertemuan untuk Rossoneri dalam pertandingan ini. Pertemuan terbaru pada November 2018 berakhir dengan kemenangan 2-0 untuk Juventus. Pada pertandingan itu Higuaín menerima kartu merah.

Setidaknya selama sewindu terakhir, Juventus selalu mendominasi, bukan hanya kepada Milan, tapi juga kepada kesebelasan-kesebelasan Italia lainnya. Rasanya Juventus bisa membuka 2019 dengan sebuah trofi Supercoppa Italiana.

Komentar