Gagal Balas Dendam di Wembley

Berita

by Agung Putranto Wibowo

Agung Putranto Wibowo

hidup di sebuah negeri yang rakyatnya jago main sepakbola, tapi tidak pandai mengurusnya.

Gagal Balas Dendam di Wembley

“Yang pertama kali terlintas di benak saya ketika undian dapat lawan Tottenham adalah ini saatnya balas dendam.”

Hal itu dikatakan Eden Hazard sebelum kedua kesebelasan bertemu pada laga semifinal leg pertama Piala Inggris di stadion Wembley. Enam pekan sebelumnya, Chelsea takluk 3-1 di stadion yang sama saat keduanya bersua dalam pertandingan Liga Inggris. Kekalahan itu pula yang diakui Maurizio Sarri, pelatih Chelsea, telah menghancurkan mental dan psikis anak asuhnya dalam perebutan gelar juara liga musim ini.

Pada menit-menit awal babak pertama, Chelsea terlihat menjanjikan dengan menguasai permainan. Kontras sekali dengan lawatan terakhir mereka ke Wembley yang pada saat itu, Chelsea sudah kebobolan dua kali ketika pertandingan baru berjalan sekitar enam belas menit. Sehingga harapan Hazard untuk balas dendam di Wembley terbuka lebar karena Chelsea terlihat dominan. Namun justru itulah kelemahan anak-anak asuh Sarri musim ini. Hazard dan rekan-rekannya tahu betul cara mengoper dengan cepat dan presisi. Mereka rapi dalam membangun serangan, tapi tidak tahu caranya memasukkan bola ke gawang lawan.

Pada pertandingan dini hari tadi, Chelsea memasang Hazard sebagai penyerang tengah. Bukan hal baru, sebab Sarri pernah melakukan hal yang sama ketika Chelsea berhasil mengalahkan Manchester City. Dalam merespon taktik false nine ala Sarri, Mauricio Pochettino, pelatih Spurs, memerintahkan anak asuhnya agar terfokus pada satu titik: Eden Hazard. Maka ketika pemain Chelsea menguasai bola di area sayap, tampak para bek Spurs tidak tergesa-gesa merebut bola, karena mereka tahu itu bukan Hazard. Cara ini cukup jitu mengingat Willian dan Callum Hudson-Odoi yang diplot sebagai pemain sayap, tidak cukup kreatif lagi agresif.

Gaya serangan monoton yang dipertontonkan para pemain Chelsea dihukum oleh lawan mereka pada menit ke-25. Harry Kane yang terlepas dari jebakan offside, dijatuhkan Kepa Arrizabalaga di kotak penalti. Michael Oliver yang bertugas sebagai pengadil pada laga itu, sempat ragu apakah Kane terlebih dulu offside atau tidak. Beruntung panitia Piala Inggris mengizinkan VAR terlibat dalam kompetisi musim ini. Alhasil wasit segera meninjau VAR dan berkesimpulan Kane tidak offside dan Spurs berhak mendapatkan hadiah penalti.

Setelah wasit menunjuk titik putih, para pemain Chelsea langsung protes karena dalam sudut pandang mereka, Kane sudah dalam posisi offside sebelum dijatuhkan. Namun wasit tetap pada keputusannya dan Kane pun dengan mulus menjebol gawang Chelsea dari titik penalti. Peristiwa ini memperlihatkan bahwa VAR dapat digunakan untuk meninjau dua insiden sekaligus: menentukan seorang pemain offside atau tidak dan menentukan seorang pemain dilanggar atau tidak.

Skor 1-0 pun bertahan hingga babak pertama usai. Pada babak kedua, Chelsea mencoba lebih agresif dan sempat menimbulkan kepanikan di lini belakang Spurs. Namun kiper Paulo Gazzaniga cukup solid di bawah mistar gawang. Sehingga yang terjadi justru rasa frustrasi para pemain Chelsea yang mulai timbul karena gagal menembus pertahanan.

Chelsea sebenarnya bukan tanpa penyerang murni. Di bangku pemain pengganti ada Olivier Giroud yang baru pulih dari cedera pergelangan kaki. Sarri sebagai juru taktik tentu lebih paham mengapa Giroud terus disimpan hingga menit ke-80. Akhirnya skor pun tidak berubah dan Spurs keluar sebagai pemenang pada laga leg pertama.

Dengan hasil ini, Hazard dipastikan gagal balas dendam di Wembley. Namun timnya masih punya peluang lolos ke final karena di leg kedua, Chelsea bakal berlaga di Stamford Bridge. Bagi Spurs, kemenangan ini adalah modal berharga untuk menjaga asa juara mengingat di kompetisi liga, peluang mereka sangat kecil karena masih harus bersaing dengan Liverpool dan Manchester City. Pochettino tentu lebih realistis dan melihat Piala Inggris sebagai gelar yang dapat mengisi kekosongan kabinet trofi sejak musim 2007/2008.

Komentar