Tanpa Wakil Afrika di Fase Gugur

Berita

by Agung Putranto Wibowo

Agung Putranto Wibowo

a freelance journo. full-time researcher. bachelor of law

Tanpa Wakil Afrika di Fase Gugur

Pertandingan terakhir Grup H antara Senegal dan Kolombia berlangsung dalam tempo lambat. Kedua tim yang bertanding di Samara Arena pada (29/6) tidak ingin melakukan kesalahan. Maklum keduanya masih sama-sama berpeluang lolos dari Grup H.

Di menit ke-17, Senegal mendapat keuntungan setelah Sadio Mane ditekel oleh Davinson Sanchez. Wasit pun menunjuk titik penalti setelah melihat insiden itu dari belakang. Namun jangan lupa, kini sepakbola sudah dilengkapi dengan teknologi VAR. Para pemain Kolombia pun berusaha meyakinkan wasit Milorad Mazic agar meninjau layar di luar lapangan. Wasit setuju, pertandingan dihentikan sejenak.

Dalam tayangan ulang, Mane memang terjatuh. Namun tekel yang dilakukan bersih karena kaki Sanchez melakukan kontak dengan bola alih-alih dengan kaki lawan. Wasit asal Serbia itu kembali ke lapangan dan membatalkan keputusan sebelumnya. Senegal gagal mendapat tendangan penalti dan skor masih 0-0.

Setelah momen itu, praktis tiada lagi momen penting lainnya. Kedua tim silih berganti melakukan serangan, tapi tak ada yang benar-benar mengancam. Ancaman justru datang bukan dari serangan. Di menit ke-32 James Rodriguez ditarik keluar. Kamera menyoroti ekspresi James yang sama sekali tidak senang dengan keputusan tersebut. Setelah ia bersalaman dengan Luis Muriel—pemain yang menggantikan posisinya, James lanjut berjalan ke lorong tanpa lebih dulu duduk di bangku pemain pengganti.

Meskipun James belum cetak gol di ajang Piala Dunia kali ini, tapi pada Piala Dunia edisi sebelumnya di Brasil, James adalah bintang Kolombia. Sumbangsih James terhadap tim begitu besar karena dipercaya mampu meningkatkan rasa percaya diri Kolombia. James yang ditarik keluar ketika babak pertama belum selesai adalah situasi yang mengancam Kolombia karena mereka sudah melakukan satu pergantian yang terlalu dini.

Gol yang ditunggu-tunggu akhirnya datang di babak kedua. Tepatnya 15 menit lagi laga akan berakhir dalam waktu normal. Terima kasih kepada Yerry Mina yang berhasil memecah kebuntuan. Berkat sundulan dari sepakan pojok, Kolombia sementara unggul dari Senegal.

Skor ini akan membuahkan tiga poin yang sangat berarti untuk Kolombia. Mereka bakal memuncaki klasemen Grup H dengan torehan enam poin mengingat di pertandingan lain, Jepang sedang tertinggal dari Polandia. Sehingga hitung-hitungan lolos dan tidak lolos mengerucut kepada dua tim saja yakni Jepang dan Senegal.

Milorad Mazic akhirnya menyudahi pertandingan. Kolombia tentu saja menyambut bunyi peluit itu dengan riang gembira. Pemandangan kontras tersaji di kubu lawan. Para pemain Senegal tampak lesu, pendukung mereka yang hadir langsung di Samara Arena juga menunjukkan ekspresi tegang. Senegal yang diunggulkan lolos menemani Kolombia, malah tidak lolos karena aturan fair play.

Jepang dan Senegal memiliki jumlah poin, jumlah kemasukan gol, produktivitas gol, dan head-to-head yang identik. Merujuk pada ketentuan FIFA, maka langkah selanjutnya melihat kepada jumlah kartu kuning dan kartu merah antara kedua tim. Sial bagi Senegal yang ternyata sudah mengoleksi enam kartu kuning, sedangkan Jepang baru empat kali menerima kartu kuning. Dengan hasil ini, Senegal jadi kesebelasan pertama yang gagal lolos karena aturan fair play.

Tak hanya itu, Senegal juga memupus harapan publik seantero Afrika. Dalam ajang Piala Dunia di Rusia, Afrika mengirimkan lima wakilnya. Mesir gagal lolos dari Grup A. Maroko gagal lolos dari Grup B meski memberikan perlawanan luar biasa kepada dua tim terkuat di sana. Di Grup D ada Nigeria yang gagal lolos karena kalah oleh Argentina. Di Grup G ada Tunisia yang hanya mampu bertengger di peringkat ketiga klasemen akhir. Harapan terakhir lantas ada di pundak para pemain Senegal. Namun sayang harapan dan kenyataan tidak sejalan. Terakhir kali tidak ada wakil Afrika di fase gugur Piala Dunia adalah tahun 1982.

Komentar