Tangis Bahagia Peruvians

Berita

by Agung Putranto Wibowo

Agung Putranto Wibowo

hidup di sebuah negeri yang rakyatnya jago main sepakbola, tapi tidak pandai mengurusnya.

Tangis Bahagia Peruvians

Peru sudah dipastikan tidak lolos ke babak 16 besar ketika menjamu Australia dalam pertandingan terakhir Grup C. Mungkin itu sebabnya pasukan Ricardo Gareca tampil tanpa beban di Stadion Fisht (26/6). Sebaliknya, malah Australia tampil gugup dalam pertandingan kali ini.

Tim berjuluk ‎Socceroos berada di bawah tekanan karena harus memetik kemenangan demi menjaga peluang lolos dari Grup C. Itu pun masih bergantung kepada hasil pertandingan lain antara Denmark kontra Perancis, sehingga para pemain Australia terlihat sangat berhati-hati yang tampaknya menjadi bumerang untuk mereka. Di sisi lain, Peru tampil tenang dan fokus mereka sepenuhnya tercurah dalam laga ini. Tak heran di akhir pertandingan, mereka keluar sebagai pemenang dengan skor 2-0.

Gol pertama Peru lahir dari kreasi serangan di sisi kanan pertahanan lawan. Berawal dari akselerasi Paolo Guerrero yang bikin bek sayap lawan kocar kacir, kapten Peru itu mengirim umpan ke sisi sebaliknya. Di sana, sudah ada Andre Carrillo yang menunggu datangnya bola. Dengan momentum yang presisi, pemain bernomor punggung 18 itu melakukan tendangan voli. Bola kemudian meluncur deras sampai-sampai penjaga gawang Australia, Mathew Ryan, tak kuasa membendungnya.

Bilamana pada dua pertandingan sebelumnya Peru tak sanggup bikin gol, maka pada laga terakhir mereka melakukannya. Carrillo sang pencetak gol, lantas dikerubungi oleh rekan satu tim yang pastinya ikut bahagia dengan gol tersebut. Tidak hanya para pemain, seluruh Peruvian (rakyat Peru) juga larut dalam kebahagiaan. Bahkan beberapa suporter tertangkap kamera menitikan air mata setelah menyaksikan gol itu.

Tidak heran jika gol tersebut dirayakan dengan sangat emosional. Pasalnya, gol yang dicetak Carrillo pada menit ke-17, merupakan gol pertama Peru di Piala Dunia sejak 1982. Kala itu, gol Guillermo La Rosa ke gawang Polandia yang dicetak pada menit ke-83. Meski Peru kalah 5-1 dalam pertandingan itu, tapi siapa sangka satu-satunya gol yang lahir justru menjadi gol terakhir Peru di Piala Dunia.

Sementara itu, Peru sudah lama sekali tidak mencetak gol yang membuat tim berjuluk La Rojiblanca itu unggul sementara. Terakhir kali Peru cetak gol lalu unggul adalah 40 tahun yang lalu, tepatnya saat ajang Piala Dunia 1978 di Argentina. Kala itu lawannya adalah Iran, wakil Asia yang dikalahkan dengan skor 4-1.

Jika berkaca pada statistik pertandingan, Australia mampu mengungguli Peru lewat angka-angka. Peru kalah jumlah tembakan ke gawang, Australia lebih mendominasi jalannya laga dengan unggul penguasaan bola, dan Australia sanggup bikin delapan kali tendangan penjuru yang hanya dibalas tiga oleh Peru. Namun kebahagiaan sejati adalah apa yang papan skor perlihatkan.

Memasuki babak kedua, Peru tampil lebih agresif. Ketika pertandingan baru berjalan lima menit, Guerrero mencatatkan namanya di papan skor. Adapun gol kedua juga lahir dari sepakan voli yang gagal dibendung penjaga gawang.

Berawal dari bola defleksi di kotak penalti Australia, kapten Peru itu dengan cerdik melakukan tembakan sambil memutar badan. Sekilas, bola masuk ke gawang karena mengenai kaki Aziz Behich, tetapi gol adalah gol. Peruvians tetap melakukan selebrasi dengan penuh gairah.

Hingga wasit meniup peluit panjang tanda berakhirnya pertandingan, skor tetap 2-0 untuk keunggulan Peru. Hasil ini membuat Peru bertengger di posisi ketiga klasemen akhir Grup C. Padahal sebelum pertandingan dimulai, di posisi itu masih ada nama Australia. Namun berkat kemenangan bersejarah ini, Peru kembali ke negeri mereka tanpa menyandang status “juru kunci”. Sebuah perjalanan yang penuh suka duka dan tentu saja sarat akan pengalaman.

Peruvians yang mengeluarkan air mata bahagia pada laga itu, mungkin belum lahir atau menyaksikan langsung tim kesayangan mereka berlaga di ajang Piala Dunia 1978 atau 1982. Sebagian dari mereka mungkin hanya melihat gol Guillermo La Rosa melalui YouTube. Sehingga menjadi wajar ketika Peruvians menyambut gol pertama Peru dengan sebuah tangis.

Air mata itu tentu bakal kering beberapa menit kemudian, tetapi peristiwa yang membuat itu semua akan abadi dalam memori. Sepulangnya Peruvians dari Rusia, mereka bisa berujar: “ya kami memang menangis, tetapi itu adalah sebuah tangis bahagia.”

Komentar