Spanyol Jaga Asa Berkat Gol Absurd Diego Costa

Berita

by Agung Putranto Wibowo

Agung Putranto Wibowo

hidup di sebuah negeri yang rakyatnya jago main sepakbola, tapi tidak pandai mengurusnya.

Spanyol Jaga Asa Berkat Gol Absurd Diego Costa

Spanyol menjaga asa untuk lolos ke babak 16 besar Piala Dunia 2018 dengan mengalahkan Iran (21/6) dalam pertandingan kedua Grup B. Hanya mampu meraih satu poin di laga perdana, Spanyol jelas membutuhkan tiga poin demi menjaga peluang lolos ke babak selanjutnya. Lantas anak-anak asuh Fernando Hierro tampil menyerang sejak menit pertama.

Terdapat sepuluh kali tembakan yang dilancarkan para pemain Spanyol ke gawang Iran yang dikawal Alireza Beiranvand. Namun rapatnya barisan pertahanan Iran berhasil menghadang lima dari sepuluh tembakan tersebut. Penampilan anak-anak asuh Carlos Queiroz yang tampil dalam mode bertahan, patut diacungi jempol. Pasalnya di babak pertama, hanya satu tembakan yang berhasil mengarah ke gawang Iran. Itu pun melalui bola mati yang ditendang David Silva pada menit ke-25.

Di penghujung babak pertama, Silva sempat membuat peluang lagi. Para pemain Spanyol yang menonton dari bangku pemain pengganti sudah berdiri untuk melakukan selebrasi saat Silva menembak, tapi bola masih mampu dihadang Morteza Pouraliganji. Upaya itu hanya menghasilkan tendangan penjuru bagi Spanyol.

Babak pertama akhirnya berakhir tanpa gol. Sekilas, angin segar bertiup ke arah Iran meski sang lawan lebih unggul secara statistik. Namun sepakbola tidak berakhir dalam 45 menit pertandingan.

Ketika babak kedua dimulai, Spanyol masih menerapkan gaya permainan yang sama seperti pada babak pertama. Melalui trio Isco-Iniesta-Silva di lini tengah, Spanyol coba membongkar strategi parkir bus yang sedang diterapkan Iran. Bola mengalir secara presisi dari kaki ke kaki. Sesekali Sergio Busquets naik untuk ambil bagian dalam upaya meruntuhkan pertahanan lawan.

Pada menit ke-48, Busquets melepaskan tembakan dari luar kotak penalti yang masih bisa ditepis oleh Beiranvand. Peluang itu nyaris berbuah gol andai saja Lucas Vazquez berlari lebih cepat untuk menyambut bola liar yang ditepis penjaga gawang. Gawang Iran pun masih aman kendati barisan pertahanan mereka sudah tak lagi sesolid pada babak pertama.

Asyik menyerang, Spanyol dikejutkan oleh peluang yang diciptakan Karim Ansarifard. Pemain bernomor punggung 10 itu berhasil melakukan tembakan yang menggetarkan jala. Meskipun jala bergetar, tetapi itu bukanlah sebuah gol. Ratusan pendukung Iran yang hadir langsung di Kazan Arena pun seakan tidak percaya dengan apa yang mereka lihat. Mungkin dikiranya Iran sudah memecah kebuntuan, tetapi faktanya bola hasil sepakan Ansarifard masih melenceng tipis dari target.

Sekitar 60 detik berselang, justru malah Spanyol yang berhasil memecah kebuntuan. Menerima umpan dari Andres Iniesta, Diego Costa coba mengontrol bola di dalam kotak penalti lawan. Terdapat dua pemain Iran yang hendak merebut bola. Memang bek Iran Ramin Rezaeian berhasil menghalau bola, tetapi sayang sekali bola yang ditendang Razeian malah membentur kaki Costa. Alhasil bola memantul dan masuk ke gawang Iran tanpa perlu repot-repot Costa tendang.

Gol yang ditunggu-tunggu Spanyol mungkin lahir dari proses yang absurd. Namun gol itu tetaplah sah. Gol itu juga menjadi gol kedelapan yang sudah Costa cetak dalam tujuh penampilan terakhir berkostum tim nasional.

Sejak kebobolan, Iran mulai berani melakukan serangan. Strategi bertahan yang begitu terlihat di babak pertama, mulai ditanggalkan. Hal itu dilakukan demi menyamakan kedudukan.

Upaya Iran terbukti ampuh. Berawal dari tendangan bebas, Saeid Ezatolahi berhasil menjebol gawang David De Gea pada menit ke-62. Pemain bernomor punggung 6 itu pun larut dalam euforia. Dia melakukan selebrasi di pojok lapangan bersama para pemain Iran yang datang menyerbu dari bench. Namun situasi berbeda tersaji di tengah lapangan.

Wasit Andres Cunha yang memimpin jalannya pertandingan menyatakan gol itu tidak sah karena Ezatolahi dianggap berada dalam posisi offside. Dalam tayangan ulang, asisten wasit memang sudah mengangkat bendera ketika Ezatolahi menerima bola yang datang dari umpan lambung. Namun agar keputusannya lebih valid, wasit asal Uruguay itu pun melalukan kontak dengan asisten wasit lainnya yang bertugas di ruangan VAR.

Saat sang pengadil melakukan kontak melalui mikrofon yang menempel di pipinya, tampak jelas raut muka para pemain Iran yang tegang bukan kepalang. Mereka tentu berharap agar Cunha mengesahkan gol tersebut, tetapi Cunha punya keputusan yang sama sekali bertentangan. Dia tetap pada keputusan awal: gol tidak sah karena ada pemain Iran yang lebih dulu berada dalam posisi offside. Pertandingan pun dilanjutkan kembali tanpa mengubah papan skor. Spanyol masih unggul 1-0.

Sampai kemudian Cunha meniup peluit panjang tanda berakhirnya pertandingan, skor masih sama. Gol Costa memang jadi pembeda dalam laga itu. Namun ada momen penting yang tersaji dalam laga itu, yakni ketika wasit menggunakan teknologi untuk memperkuat keputusannya. Tidak bisa tidak, keputusan itu juga jadi faktor pembeda dalam laga tersebut.

Lewat hasil ini, Spanyol makin diunggulkan untuk lolos dari Grup B. Pasalnya di laga terakhir, Spanyol tinggal berhadapan dengan Maroko yang sudah dipastikan tidak lolos. Sementara itu, Iran masih harus berjumpa dengan Portugal yang sedang dalam tren positif berkat penampilan apik Cristiano Ronaldo.

Komentar