FIFA Berencana Kembali Ubah Aturan Soal Kewarganegaraan

Berita

by Sandy Firdaus

Sandy Firdaus

Penulis merangkap pewarta. Yang kita tahu sebenarnya adalah kita tidak tahu apa-apa (Noel Gallagher)

FIFA Berencana Kembali Ubah Aturan Soal Kewarganegaraan

Selama ini, aturan mengenai kewarganegaraan dalam dunia sepakbola internasional kerap menjadi sesuatu yang menarik untuk diperbincangkan. Sekarang, FIFA berencana untuk kembali mengubah aturan perihal kewarganegaraan menjadi sedikit lebih lunak lagi.

Soal kewarganegaraan ini, FIFA sebenarnya sudah beberapa kali melakukan perubahan. Dahulu, ada nama Alfredo Di Stefano yang bisa membela banyak timnas meski secara ius soli (kewarganegaraan berdasarkan tempat lahir) ia adalah warga Argentina. Ada juga beberapa pemain yang sebenarnya lahir di sebuah negara, namun akhirnya ia membela timnas negara lain. Aturan ini sudah diubah oleh FIFA.

Cukup rumitnya isu mengenai kewarganegaraan ini membuat FIFA, di dalam statuta yang mereka buat, mengatur secara khusus perihal kewarganegaraan pemain. Di dalam statuta FIFA disebutkan bahwa jika seorang pemain pernah membela sebuah timnas level senior setidaknya satu kali, maka pemain tersebut tidak dapat membela timnas level senior yang lain.

Di dalam artikel 17 statuta FIFA, juga disebutkan bagaimana caranya seorang pemain yang tidak pernah membela timnas sebelumnya dapat membela timnas. Artikel tersebut menjabarkan bahwa:

"Setiap pemain yang ingin membela timnas level senior dan tidak pernah membela timnas level senior manapun sebelumnya, dapat membela sebuah timnas jika ia memenuhi beberapa kategori tersebut: 1) Dilahirkan di negara yang bersangkutan, 2) Setidaknya sudah tinggal minimal lima tahun berturut-turut di negara yang bersangkutan terhitung sejak usia 18 tahun, 3) Pernah membela timnas negara yang bersangkutan di level junior"

Lewat aturan ini, maka jarang kembali terjadi kasus pemain yang gonta-ganti timnas dengan mudahnya seperti di masa lampau. Setiap pemain diwajibkan untuk memilih timnas level senior mana yang akan mereka bela, jika pemain yang bersangkutan memiliki dua kewarganegaraan. Aturan ini juga yang membuat banyak terjadi kakak-adik yang pada akhirnya membela timnas level senior yang berbeda, seperti terjadi dalam kasus Xhaka bersaudara dan Boateng bersaudara.

Namun ternyata, aturan ini dianggap masih terlalu memberatkan, dan FIFA sebagai otoritas tertinggi sepakbola dunia, masih terbuka untuk perubahan mengenai aturan kewarganegaraan ini.

Rencana FIFA untuk mengubah aturan soal kewarganegaraan

Berkembangnya isu mengenai kewarganegaraan, di tengah masalah-masalah yang terjadi di dunia ini seperti perang sipil atau orang-orang yang mencari suaka ke negara lain, membuat FIFA memikirkan kembali soal aturan kewarganegaraan yang sudah mereka tetapkan di dalam statuta yang mereka buat. Hal ini diungkapkan oleh Victor Montagliani, salah satu anggota Dewan FIFA, yang juga merupakan Presiden dari konfederasi CONCACAF.

"Sudah banyak isu yang mengemuka mengenai kewarganegaraan beberapa waktu ke belakang ini, yang terjadi karena adanya perubahan signifikan di dunia, termasuk masalah mengenai imigrasi. Isu mengenai kewarganegaraan ini menjadi isu yang harus dipertimbangkan, karena beberapa konfederasi di dunia seperti Afrika (CAF), AFC (Asia), dan CONCACAF sendiri mengalaminya," ujar Montagliani disitat dari Reuters.

"Harus segera ditemukan solusi dan pemecahan mengenai isu kewarganegaraan pemain sepakbola ini, tanpa harus menurunkan integritas dari permainan sepakbola itu sendiri," tambahnya.

Pembahasan mengenai isu kewarganegaraan ini, dilansir dari BBC, pertama kali mulai digemakan oleh federasi sepakbola Cape Verde. Mereka menyebut bahwa harus ada keringanan bagi para pemain sepakbola yang baru sekali atau dua kali membela timnas, tapi tidak pernah kembali mendapatkan panggilan kembali dari timnas yang bersangkutan. Apalagi jika sang pemain punya dua kewarganegaraan dan memiliki kesempatan lebih besar untuk membela timnas yang lain.

Pada 2004 silam, federasi sepakbola Aljazair juga berhasil menekan FIFA untuk mengizinkan Antar Yahia, pemain yang sebelumnya membela timnas U18 Prancis agar bisa membela Aljazair di level senior karena ia memiliki darah Aljazair dari orang tuanya dan Yahia sulit masuk timnas Prancis. Dahulu, aturan FIFA tidak memperbolehkan pemain yang pernah membela timnas di level junior sebuah negara untuk membela timnas level senior di negara lain.

Sekarang, aturan itu sudah diperlunak dan pada akhirnya Yahia menjadi pemain pertama yang bisa membela timnas level senior setelah membela timnas level junior negara lain. Di masa depan, aturan mengenai kewarganegaraan ini bisa saja kembali diperlunak oleh FIFA, mengingat cukup banyaknya migrasi yang terjadi di dunia karena konflik-konflik berkepanjangan yang terjadi di sebuah negara.

Komentar