Minimnya Improvisasi Buat Indonesia Ditahan Imbang Fiji

Berita

by Sandy Firdaus

Sandy Firdaus

Penulis merangkap pewarta. Yang kita tahu sebenarnya adalah kita tidak tahu apa-apa (Noel Gallagher)

Minimnya Improvisasi Buat Indonesia Ditahan Imbang Fiji

Indonesia meraih hasil imbang dalam laga uji tanding yang mereka jalani di Stadion Patriot Chandrabhaga, Bekasi. Menjamu Fiji, tim "Merah Putih" hanya mampu meraih hasil 0-0. Indonesia tampak sulit menembus gawang Fiji sepanjang pertandingan.

Pada pertandingan kali ini, Indonesia menurunkan susunan starting XI yang rata-rata adalah para pemain yang membela Indonesia dalam ajang Piala AFF 2016 silam. Ada nama Benny Wahyudi, Fachruddin Aryanto, Andik Vermansyah, Boaz Salossa, Stefano Lilipaly, serta Bayu Pradana di dalamnya. Namun selain mereka yang pernah main di Piala AFF 2016, ada juga nama Adam Alis, Irfan Bachdim, serta Satria Tama yang dimasukkan dalam skuat.

Sedangkan Fiji menurunkan skuat yang juga bertanding dalam ajang kualifikasi Piala Dunia 2018 zona Oseania. Nama sang kapten, Roy Krishna menjadi nama yang cukup menarik perhatian dalam pertandingan ini. Apalagi sebelum pertandingan ia sempat berujar bahwa para pemain Fiji adalah pemain semiprofesional yang juga merangkap memiliki pekerjaan lain selain menjadi pesepakbola.

Meski berstatus pemain semiprofesional, nyatanya Fiji dapat memberikan perlawanan yang sengit bagi timnas Indonesia, sehingga membuat pertandingan berakhir imbang 0-0.

Serangan Indonesia yang butuh improvisasi

Menggunakan formasi dasar 4-3-3 yang bisa berubah menjadi 4-2-3-1, serangan Indonesia bertumpu pada dua pemain yang menjadi winger dalam pertandingan ini, yaitu Irfan Bachdim dan Andik Vermansyah. Boaz Salossa yang ditempatkan di depan kerap berperan sebagai pemantul bola, mengandalkan Stefano Lilipaly yang diandalkan untuk muncul dari second line.

Namun skema ini sempat tidak berjalan di 15 menit babak pertama. Belum padunya permainan mereka, meski pernah sama-sama bermain dalam ajang Piala AFF 2016, menjadi sebab tidak berjalannya serangan Indonesia. Baru memasuki menit ke-20, serangan Indonesia bisa berjalan lebih cair, dengan pertukaran posisi Bachdim-Andik di sayap, serta Boaz dan Lilipaly yang mulai bisa saling mengisi.

Meski sudah cair, nyatanya pola serangan ini tetap mampu dihentikan oleh para pemain timnas Fiji. Pemain-pemain timnas Fiji yang lebih memilih untuk menumpuk para pemainnya di lini pertahanan, memadatkan area sepertiga akhir dan di dalam kotak penalti, membuat para pemain Indonesia sulit untuk menembus pertahanan Fiji. Hal ini ditambah dengan serangan Indonesia yang monoton, terlalu berporos pada Andik, Bachdim (babak kedua masuk Rizky Pora), dan Boaz.

Hasilnya? Lebih banyak tendangan luar kotak penalti yang dilesakkan oleh para pemain Indonesia.

Waspada lini pertahanan yang masih menyisakan banyak lubang

Lini pertahanan Indonesia dalam laga ini diisi oleh pemain-pemain yang tidak jauh beda dengan ajang Piala AFF 2016. Bedanya, ada nama Ahmad Jufriyanto dan Abdul Rahman di dalamnya. Lalu di posisi gelandang bertahan, hanya ada nama I Gede Sukadana yang terbilang baru. Bayu Pradana adalah tulang punggung lini tengah timnas Indonesia di ajang Piala AFF 2016 silam.

Walau pernah bermain bersama, nyatanya lini pertahanan Indonesia tetaplah mengkhawatirkan. Menghadapi para pemain Fiji yang kebanyakan mengandalkan serangan balik, lewat kecepatan-kecepatan yang mereka miliki, justru lini pertahanan Indonesia tampak mengkhawatirkan. Beberapa kali Fachruddin harus melanggar pemain Fiji karena ia terlewati oleh pemain tersebut.

Secara duel udara, keberadaan Ahmad Jufriyanto membuat lini pertahanan Indonesia lebih aman. Namun, ketika menghadapi para pemain yang mengandalkan kecepatan, nyatanya Indonesia masih cukup kerepotan. Salah satu peluang emas Fiji di babak kedua lahir karena ruang kosong di belakang empat bek sejajar yang berhasil dieksploitasi.

Indonesia memang tidak kebobolan meski mendapatkan beberapa serangan berbahaya. Walau begitu ini menjadi pelajaran bahwa melawan tim seperti Fiji yang berisikan pemain semiprofesional saja Indonesia kesulitan untuk menang dan beberapa kali kewalahan. Hasil imbang ini juga membuktikan bahwa Indonesia (peringkat 175 FIFA) masih berada di level yang sama dengan Fiji (peringkat 181 FIFA).

Komentar