Mourinho: "Judas" Masih Menjadi Nomor Satu

Berita

by Sandy Firdaus

Sandy Firdaus

Penulis merangkap pewarta. Yang kita tahu sebenarnya adalah kita tidak tahu apa-apa (Noel Gallagher)

Mourinho: "Judas" Masih Menjadi Nomor Satu

Label "Judas" disematkan pada diri manajer Manchester United, Jose Mourinho, kala United bertanding dengan Chelsea pada babak delapan besar Piala FA yang berlangsung di Stamford Bridge, Selasa (14/3/2017) dini hari. Apakah Mourinho membalas label "Judas" yang diberikan padanya? Tentu saja.

Sebutan "Judas" ini diterima oleh Mou ketika ia memprotes keputusan wasit Michael Oliver yang memberikan kartu kuning kedua untuk Ander Herrera dalam pertandingan tersebut. Suporter The Blues yang berada di tribun East Stand pun langsung meneriaki Mourinho. Mereka berkata macam-macam, ada yang menyebutnya "tidak spesial lagi", menyalahkan Mou atas buruknya penampilan Chelsea musim 2015/2016, sampai akhirnya mereka melabeli Mou dengan sebutan "Judas", alias pengkhianat.

Lalu, apa reaksi Mou?

Ia pun melakukan sesuatu yang cukup unik, mengesalkan, sekaligus kontroversial. Usai berselisih, ia mengacungkan tiga jarinya kepada tribun East Stand. Tiga jari yang dianggap sebagai sebuah acuan atas tiga gelar Liga Primer yang sudah manajer asal Portugal tersebut persembahkan untuk The Blues. Setelah pertandingan, ia pun mengungkapkan maksud dari tiga jari yang ia acungkan dalam pertandingan tersebut.

"Sampai ketika mereka (Chelsea) menemukan manajer yang bisa mempersembahkan mereka empat gelar Liga Primer, saya masih menjadi manajer nomor satu di Chelsea. Si "Judas" yang mereka sebutkan, sampai sekarang masih menjadi manajer nomor satu di sini (Stamford Bridge)," ujar Mou seperti dikutip BBC.

"Mereka semua bebas menyebutku dengan sebutan apapun. Saya adalah seorang profesional, dan saya akan membela klub tempat saya bekerja sekarang. Saya bangga akan pemain saya, dan saya bangga kepada suporter Manchester United," tambahnya.

Selain berseteru dengan para suporter, ESPN FC juga melansir bahwa Mou juga berseteru dengan manajer Chelsea, Antonio Conte. Bahkan, ketika akhir pertandingan pun, keduanya memilih untuk tidak berjabat tangan, walau akhirnya Conte dan Mou juga berjabat tangan di terowongan stadion. Mou mengaku bahwa ia tidak bersalaman dengan Conte karena ia tidak melihatnya.

"Jika saya melihatnya (Conte) saya akan berjabat tangan dengannya. Saya juga tidak bersalaman dengannya karena saya memilih untuk langsung menghampiri pemain-pemain saya, seperti itu. Saya menjamin kalau saya melihatnya saya akan berjabat tangan dengannya, karena sebenarnya saya tidak bermusuhan dengannya sama sekali," ujar Mou.

Kontroversi yang Mou ciptakan ini tak lepas dari kartu merah (dari dua kartu kuning) yang diterima oleh Ander Herrera. Kartu merah itulah yang ia nilai mengubah jalannya pertandingan, sehingga membuat permainan timnya menjadi tidak maksimal.

"Permainan sebenarnya berada di bawah kendali kami (sebelum kartu merah terjadi). Saya mengatakan kepada pemain saya bahwa jika kita bermain rapat serta menjaga dengan baik kedua wing back mereka, mereka tidak akan bisa apa-apa. Keadaan pun mulai berubah ketika (Ander) Herrera mendapatkan kartu merah," ujarnya.

"Terkhusus untuk tuan (Michael) Oliver, Anda adalah wasit dengan potensi yang fantastis. Sekarang, Anda bisa segera pulang ke rumah dan melakukan analisisnya sendiri terhadap pertandingan ini, karena saya sama sekali tidak mau menganalisis kinerjanya di lapangan dalam pertandingan tersebut (Chelsea vs United)," tutupnya.

Sumber lain: ESPN FC, manutd.com

Komentar