Skenario Indonesia di Peraturan Gol Tandang Piala AFF 2016

Berita

by redaksi 47303

Skenario Indonesia di Peraturan Gol Tandang Piala AFF 2016

Pertandingan leg pertama semi-final Piala AFF 2016 sudah berakhir semalam (04/12). Tuan rumah Indonesia berhasil mengalahkan Vietnam dengan skor 2-1, sementara tuan rumah Myanmar dikalahkan Thailand dengan skor 0-2.

Keempat kesebelasan masih akan menjalani leg kedua pada tengah pekan ini, dengan Indonesia yang akan bertandang ke Vietnam, ke Stadion My Dinh, Hanoi (07/12); serta Thailand yang akan menjamu Myanmar di Stadion Rajamangala, Bangkok (08/12).

Tim nasional Indonesia sendiri untuk sementara unggul agregat 2-1 atas Vietnam. Pada pertandingan yang dilangsungkan Sabtu (03/12) di Stadion Pakansari, Cibinong, Kabupaten Bogor, tersebut, Indonesia berhasil mencetak gol melalui Hansamu Yama dan sepakan penalti Boaz Solossa. Namun, Vietnam sempat menyamakan kedudukan melalui sepakan penalti yang kontroversial yang diberikan oleh wasit asal Australia, Jared Gillet.

Untuk yang belum mengetahui, babak semi-final dan final di Piala AFF 2016 menerapkan sistem agregat dengan gol tandang (away goal), dengan regulasi resminya sebagai berikut:

  1. Jika kedua kesebelasan memiliki jumlah gol yang sama dalam dua leg, maka pemenang yang lolos ke final ditentukan dengan siapa yang lebih banyak mencetak gol tandang.
  2. Jika prosedur di atas menghasilkan kedudukan yang masih sama kuat, maka pertandingan semi-final leg kedua dilanjutkan dengan perpanjangan waktu (extra time) 2x15 menit. Ketika perpanjangan waktu terjadi gol oleh kesebelasan tamu maupun kesebelasan tuan rumah dengan hasil seri, maka gol kesebelasan tamu dihitung sebagai keuntungan gol tandang (away goal advantage) dan berhak lolos ke final.
  3. Jika agregat skor sama, termasuk gol tandang yang dibuat hingga perpanjangan waktu berakhir, pemenang akan ditentukan lewat babak adu penalti.

Format di atas sudah digunakan sejak gelaran Piala AFF 2010. Pada edisi Piala AFF sebelumnya, terutama sejak 2004 sampai 2008, babak semi-final dan final tidak mengenal adanya away goal.

Jika kita merefleksikannya kepada kompetisi sepakbola yang lebih besar, format yang digunakan oleh Piala AFF ini sama dengan yang dipakai di Liga Champions dan Liga Europa UEFA, serta babak play-off kualifikasi Piala Dunia FIFA.

Beberapa skenario yang bisa terjadi

Di sini lah sepakbola memiliki inti yang bukan menang atau kalah, melainkan imbang juga. Hasil imbang, terutama secara agregat, nyatanya bisa memenangkan Indonesia maupun Vietnam.

Berkat keuntungan gol tandang, sebenarnya Vietnam hanya membutuhkan menang 1-0 (agregat akan menjadi 2-2) untuk lolos ke final. Sementara jika pertandingan berakhir imbang, berapapun skor imbangnya, maka secara agregat Indonesia-lah yang berhak lolos ke final.

Babak perpanjangan waktu akan dimainkan hanya jika pertandingan selama 90 menit berakhir dengan skor 2-1 untuk kemenangan Vietnam.

Sedangkan pada babak perpanjangan waktu, keuntungan gol tandang akan kembali diaplikasikan, yang mana hal ini sebenarnya menguntungkan kesebelasan tandang (Indonesia), karena setiap gol yang Indonesia cetak akan membuat gol tersebut lebih berharga dibandingkan gol yang dicetak oleh Vietnam.

Misalnya, pertandingan berakhir dengan skor 2-1 untuk Vietnam setelah 90 menit, tapi pada extra time Indonesia dan Vietnam sama-sama berhasil mencetak satu gol. Maka skor akhir adalah, 3-2, dengan agregat 4-4. Dengan hasil ini, Indonesia berhak lolos karena berhasil mencetak gol lebih banyak dibandingkan Vietnam di kandang lawannya (Indonesia 3 gol, Vietnam hanya 2).

Hal berbeda akan terjadi lagi jika skor adalah 3-2, 4-3, 5-4, atau seterusnya (masing-masing ditambah satu gol) untuk kemenangan Vietnam di waktu normal; maka Indonesia yang berhak lolos ke final. Hal itu juga berlaku jika terjadi di akhir extra time.

Indonesia sebaiknya cetak gol terlebih dahulu

Pada skenario-skenario di atas, kita bisa menilai jika Alfred Riedl tidak boleh membiarkan kesebelasannya bermain santai. Meskipun skor 0-0 saja sudah cukup untuk membuat Indonesia ke final, namun hal tersebut akan sangat berisiko andai saja Vietnam bisa mencetak gol di menit akhir.

Oleh karena itu, Indonesia harus bermain “panas” di awal, dengan mengincar untuk mencetak gol terlebih dahulu. Satu gol saja sudah cukup untuk membuat Indonesia bisa agak bersantai, yang tentunya bersantai ini bisa bermanfaat untuk fisik dan mental para pemain.

Asalkan tidak kemudian kebobolan tiga gol, dengan unggul satu gol, Indonesia masih boleh kebobolan satu gol; dan masih aman juga (bukannya boleh tapi, ya) jika kebobolan satu gol lagi karena napas pertandingan akan dipanjangkan ke extra time.

Hal yang lebih baik akan terjadi jika Indonesia bisa mencetak lebih dari satu gol terlebih dahulu. Tapi jika Indonesia kebobolan duluan, hal ini yang berpotensi merusak mental pemain, apalagi jika Vietnam kemudian menerapkan permainan bertahan.

Thailand bisa bersantai

Hal-hal di atas membuat kita sadar jika kebobolan di kandang sendiri adalah sesuatu yang patut disesalkan jika babak gugur (knock-out) menerapkan format gol tandang, terlebih karena satu gol yang Vietnam berhasil cetak di Bogor berasal dari insiden penalti yang kontroversial.

Sementara itu di pertandingan semi-final lainnya, Thailand bisa agak bersantai karena mereka sudah memiliki keuntungan dua gol tandang. Kalah 1-0 atau 2-1 pun tidak masalah untuk Teerasil Dangda dkk, asalkan Myanmar tidak menang 3-0, 3-1, 4-0, 4-1, 4-2, dan seterusnya.

Pertandingan leg pertama yang digelar di Stadion Thuwunna (Myanmar 0-2 Thailand) sesungguhnya menunjukkan jika Thailand adalah kesebelasan sudah hampir dipastikan lolos ke final.

Kemudian kembali ke timnas Indonesia, kita bisa belajar banyak dari away goal ini. Tidak perlulah kita merasakan sakitnya tersingkir karena gol tandang (misalnya nanti kalah 1-0 di leg kedua). Semoga ini bisa membuat Rizky Pora dkk menyadari jika sebaiknya Indonesia bisa mencetak gol terlebih dahulu di Hanoi Rabu (07/12) nanti.

Foto: Randy Prasatya

(dex)

Komentar