Ancaman Pembunuhan dan Kekerasan Seksual Hantui Eva Carneiro

Berita

by Sandy Firdaus

Sandy Firdaus

Penulis merangkap pewarta. Yang kita tahu sebenarnya adalah kita tidak tahu apa-apa (Noel Gallagher)

Ancaman Pembunuhan dan Kekerasan Seksual Hantui Eva Carneiro

Setelah berhenti sebagai dokter tim Chelsea, Eva Carneiro ternyata belum lepas dari masalah. Baru-baru ini ia mengakui kalau dirinya kerap menerima ancaman pembunuhan dari orang tidak dikenal. Bukan hanya ancaman pembunuhan, tapi ia juga kerap menerima ancaman kekerasan seksual.

Nama Eva sempat mencuat ke publik setelah pada awal musim 2015/2016 ia bersitegang dengan manajer Chelsea, Jose Mourinho. Dokter berusia 43 tahun itu kena marah Mou karena mengobati Eden Hazard di tengah lapangan saat pertandingan Chelsea melawan Swansea City pada Agustus 2015 silam.

Setelah bersitegang dengan Mou, Eva memutuskan untuk meninggalkan posisi sebagai dokter tim Chelsea pada September 2015, tidak lama setelah pertandingan melawan Swansea. Ia juga sudah menyelesaikan masalahnya dengan Mou dan pihak klub Chelsea dalam pengadilan yang digelar pada musim panas 2016 ini. Namun ternyata masalah tidak hanya berhenti sampai situ saja.

Selepas ia meninggalkan posisinya sebagai dokter tim Chelsea dan bekerja di kliniknya sendiri di daerah Harley Street, London, ia kerap menerima banyak ancaman dari orang yang tak dikenal. Ancaman-ancaman itu beragam jenisnya, tapi yang paling kentara adalah ancaman pembunuhan dan kekerasan seksual.

"Meski saya tidak begitu aktif di media sosial, entah kenapa ada beberapa ancaman pembunuhan dan kekerasan seksual yang saya terima di media sosial saya. Mereka (orang-orang yang mengirimkan ancaman) adalah para penakut yang ingin mengancam saya, dan seharusnya mereka sudah diproses secara hukum oleh aparat setempat," ujar Eva seperti dilansir Metro.

Melihat banyaknya kasus kekerasan seksual dan juga diskriminasi di lapangan sepakbola, seperti yang pernah Eva alami, dokter yang pernah mengenyam pendidikan di University of Nottingham dan Queen Mary University of London ini menyebut bahwa penanganan terhadap kasus rasisme dan diskriminasi dalam olahraga, khususnya sepakbola, belum teguh dijalankan oleh aparat keamanan.

"Saya kira kasus diskriminasi di dunia olahraga masih sering terjadi. Seksisme adalah salah satu bentuk dari diskriminasi tersebut. Meski orang-orang sekarang mulai mengatakan bahwa "diskriminasi harus segera diakhiri", tapi kita tidak tahu apa yang terjadi di belakang mereka semua," ujar Eva seperti dilansir The Guardian.

"Secara luas, sepakbola belum lepas dari masalah diskriminasi ini. Saya merasakannya. Harusnya masalah diskriminasi ini segera diselesaikan, karena apapun yang diraih oleh manusia dalam hidupnya, itu bukan karena ia laki-laki atau perempuan, tapi atas apa yang telah ia usahakan. Percakapan tentang diskriminasi ini hanya cocok dibicarakan di era 1950an," tutupnya.

foto: Wikimedia

Komentar