Lagi, Diskriminasi untuk Tim Sepakbola Perempuan

Berita

by Abrar Firdiansyah

Abrar Firdiansyah

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Lagi, Diskriminasi untuk Tim Sepakbola Perempuan

Jika dibandingkan, sepakbola perempuan dan pria ibarat bumi dan langit. Kesebelasan sepakbola perempuan jelas kalah segala-galanya dibandingkan dengan kesebelasan sepakbola pria.

Perbedaan yang cukup jauh juga dialami oleh kesebelasan sepakbola perempuan milik kesebelasan-kesebelasan besar Eropa. Meski berada dalam satu manajemen yang sama, namun kesebelasan perempuan tampil bak sosok figuran dalam sebuah pementasan.

Perasaan tersebut rupanya dirasakan oleh tim perempuan salah satu kesebelasan Liga Primer, West Ham United. Meski menyandang status tim perempuan West Ham United, keberadaan mereka tak lebih dari sekadar anak tiri manajemen The Hammers.

Persoalan ini menyeruak saat petinggi tim sepakbola perempuan West Ham United, Stephen Hunt, mengadukan secara resmi persoalan mereka ke federasi sepakbola Inggris, Football Association (FA).

Dalam surat yang ia kirim, Hunt berkata bahwa tim sepakbola perempuan West Ham United tampak seperti dianaktirikan oleh manajemen kesebelasan ini. Hunt menyebut, dana yang mereka dapatkan begitu kecil.

Dana tersebut disebut tak cukup untuk membiayai keperluan mendasar sebuah kesebelasan sepakbola. Seperti pakaian, transportasi, dan proses penyembuhan pemain yang mengalami cedera dalam pertandingan.

Tidak hanya itu, Hunt juga membeberkan fakta bahwa tim ini bahkan sempat harus berjalan kaki dari asrama ke tempat berlatih karena jalan yang biasanya mereka lalui ditutup.

“Tim ini telah bekerja keras selama beberapa tahun untuk membawa nama West Ham United,” ucap Hunt seperti dilansir The Guardian. “Atas apa yang terjadi saat ini kami begitu kecewa. Namun demikian, kami akan mencoba melakukan yang terbaik.”

“Kami melakukan ini semua karena ingin menjaga skuat perempuan West Ham United. Kami berupaya untuk melakukan semua hal demi mereka. Karena kami yakin, skuat saat ini lebih baik ke depannya.”

“Atas semua diskriminasi yang kami terima, kami meminta Football Association untuk menghapuskan segala hal yang berbau diskriminasi kepada kami.”

Pernyataan Hunt disetujui oleh salah satu oleh eks pemain West Ham United, Julian Dicks, yang juga pernah menjabat sebagai manajer tim sepakbola perempuan West Ham. “Saya yakin manajemen West Ham United tidak berupaya mengatur administrasi tim ini dengan baik,” ucap Dicks.

“Mereka telah bekerja keras dan layak mendapatkan hal yang lebih baik. Namun sayang, apresiasi tersebut tidak terjadi karena tim ini tidak dikelola oleh manajemen secara serius.”

Bukan kali ini saja mereka melayangkan protes. Di tahun 2014, mereka pernah mengajukan protes ke FA dan mengadakan penggalangan dana karena tim perempuan West Ham United tidak mampu membeli kostum untuk bermain serta membayar kebutuhan lapangan.

Tidak hanya West Ham United yang merasakan diskriminasi. Salah satu tim sepakbola perempuan Chelsea, juga mengajukan keberatan ke FA akibat upaya mereka di Liga Champions perempuan tidak disetujui manajemen klub dalam laga melawan Wolfsburg, Rabu (5/10) waktu setempat.

Meski diizinkan menggunakan Stadion Stamford Bridge sebagai kandang, namun tim sepakbola perempuan Chelsea hanya diperbolehkan membuka pintu tribun timur untuk masuk penonton. Yang akibatnya membuat jumlah penonton mereka lebih sedikit ketimbang laga kandang biasanya di Wheatsheaf Park.

Feature Image: West Ham United Ladies

Komentar