Belgia Akui Kalah Kelas dari Italia

Berita

by Sandy Firdaus

Sandy Firdaus

Penulis merangkap pewarta. Yang kita tahu sebenarnya adalah kita tidak tahu apa-apa (Noel Gallagher)

Belgia Akui Kalah Kelas dari Italia

Belgia benar-benar diberkati dengan sebuah karunia sekarang ini. Mereka memiliki banyak pemain yang bermain di liga-liga top Eropa. Tak terbayangkan jika pemain-pemain top macam Eden Hazard, Thibaut Courtois, Jan Vertonghen, Kevin de Bruyne, Axel Witsel, Romelu Lukaku dan Divock Origi bermain bersama dalam satu tim.

Maka, wajar saja kalau banyak orang yang menyematkan gelar kepada tim Belgia sekarang ini sebagai "Generasi Emas". Generasi timnas Belgia ini jugalah yang mampu mengharumkan nama Belgia dalam ajang Piala Dunia 2014, dengan mengantarkan Belgia melaju sampai babak delapan besar sebelum ditumbangkan oleh timnas Argentina 0-1.

Dalam ajang Piala Eropa 2016 pun, "Generasi Emas" ini diunggulkan untuk mampu berbicara banyak setelah apa yang mereka torehkan dalam Piala Dunia 2014. Namun, dalam pertandingan pembuka grup E Piala Eropa 2016, Belgia ini seolah diajarkan bahwa dalam kompetisi seketat Piala Eropa 2016, ada modal lain yang harus mereka punyai. Dan, tim yang mengajarkan mereka hal itu adalah juara dunia empat kali, Italia.

Belgia digebuk oleh Italia dengan skor 0-2. Gol-gol dari Emanuele Giaccherini dan Graziano Pelle mengantarkan Italia menjadi pemuncak grup E dengan poin tiga, unggul atas Irlandia dan Swedia yang bermain imbang 1-1.

Menyikapi soal kekalahan ini, kiper timnas Belgia yang semalam melakukan banyak penyelamatan karena timnya beberapa kali mendapatkan serangan berbahaya, Thibaut Courtois, berujar bahwa Italia unggul segala-galanya atas Belgia, baik itu dari segi teknik, organisasi permainan, dan juga secara taktikal.

"Kami benar-benar kalah dari semua aspek. Organisasi permainan, teknik, juga taktikal. Kami kalah dari Italia," ujar Courtois seperti dilansir oleh ESPN FC.

"Jujur, kami cukup kecewa dengan hasil ini, karena pertandingan pertama itu sangatlah penting. Namun, kami masih memiliki peluang untuk lolos asalkan menang dalam dua laga selanjutnya," tambahnya.

Sementara itu, pelatih Belgia, Marc Wilmots, sedikit menyindir Italia bahwa mereka tidak memainkan "sepakbola yang sebenarnya" dan juga mengatakan bahwa Italia terlalu mengandalkan serangan balik. Namun, pada akhirnya ia juga memuji kerapatan dan kesatuan para pemain Italia.

"Italia benar-benar mengandalkan serangan balik dalam pertandingan tersebut. Mereka tidak memainkan sepakbola yang sebenarnya. Saat satu tim menumpuk semua pemainnya di belakang, saat itulah tim yang lain akan kesulitan mencetak gol," ujar Wilmots.

"Saat kami tertinggal, sulit bagi kami untuk mengembalikan keadaan. Italia memiliki pengalaman yang lebih banyak. Meski sempat bermain lebih baik di babak kedua, sulit bagi kami untuk menembus tiga bek Juventus (Barzagli-Bonucci-Chiellini) yang mengawal pertahanan Italia," tambahnya.

Apapun alasan yang dikemukakan oleh "Generasi Emas" atas kekalahannya ini, setidaknya, dengan kekalahan ini, "Generasi Emas" juga akan menyadari bahwa ada banyak buah pengalaman yang bisa mereka petik dari "Generasi Tua" timnas Italia yang ternyata masih mampu menunjukkan taji mereka di turnamen sebesar Piala Eropa.

foto: flickr.com

ed: fva

Komentar