Tentang Keamanan Piala Eropa, Teroris, dan Prancis yang Belum Siap

Berita

by Frasetya Vady Aditya

Frasetya Vady Aditya

Penyunting. Jangan terkekang; sepakbola cuma cangkang. Kontak: vady.aditya@gmail.com

Tentang Keamanan Piala Eropa, Teroris, dan Prancis yang Belum Siap

Piala Eropa 2016 akan segera dihelat. Namun, beragam permasalahan keamanan masih belum terpecahkan. Salah satunya adalah pertandingan final French Cup pada Sabtu (21/5) lalu.

Pemerintah Prancis pun menyatakan bahwa terdapat kegagalan dalam pengamanan final French Cup. Mereka akan mencari penyelesaiannya dalam tiga pekan ke depan.

Keamanan jelang Piala Eropa 2016 menjadi sorotan setelah tragedi Teror Paris pada November tahun lalu, yang salah satunya menargetkan Stade de France. Masalah keamanan kembali mencuat setelah terjadinya gesekan antara suporter Paris Saint-Germain dan Olympique Marseille. Sejumlah suporter melemparkan mercon dan suar di dalam maupun di luar stadion. Bahkan ditemukan sejumlah benda yang dilarang masuk ke stadion. Padahal, telah dilakukan pemeriksaan ketat.

“Sistemnya sedikit retak. Ada titik lemah yang tidak bisa diterima. Kami harus membetulkan sistem yang tak berfungsi,” ucap Philippe Galli, pejabat kepolisian di Seine St. Denis, yang bertanggung jawab atas keamanan di Stade de France.

Senin (23/5) kemarin, Federasi Sepakbola Prancis, FFF, serta UEFA bertemu untuk membicarakan soal keamanan dan apa yang mesti diselesaikan. Usai pertemuan, Menteri Dalam Negeri Prancis, Bernard Cazeneuve, menyatakan sejumlah tindakan akan dilakukan dalam beberapa hari ke depan.

“Telah diputuskan secara cepat untuk membetulkan kegagalan dalam aliran suporter di titik masuk menuju stadion, untuk membuat pengecekan keamanan dilakukan oleh perusahaan keamanan swasta terpercaya dan untuk membuat titik keluar untuk keamanan suporter,” ucap Cazeneuve.

Tanpa Penonton

Ilustrasi stadion sepi. Foto: Sandy Firdaus

Piala Eropa dihelat dalam waktu satu bulan mulai 10 Juni 2016. Sebanyak 2,5 juta orang diperkirakan akan menghadiri 51 pertandingan yang menghadirkan 24 kesebelasan negara di 10 stadion di Prancis. Akan ada pula “fan zones” yang ditempatkan di sejumlah kota-kota besar.

UEFA sebagai penyelenggara Piala Eropa, telah menyusun sekitar 10 ribu sampai 15 ribu staf keamanan untuk lebih dari 110 tempat, termasuk stadion, hotel tim, dan tempat lain yang berhubungan dengan turnamen. Mereka pun menyiapkan peralatan berteknologi tinggi untuk memonitor pergerakan kerumunan massa.

Pada 23 Maret silam, Wakil Presiden Komite Eksekutif UEFA, Giancarlo Abete, menyatakan kalau Piala Eropa 2016 mungkin saja digelar tanpa penonton. Alasannya, karena ajang itu tidak bisa ditunda.

“Kami tidak bisa mengeluarkan kemungkinan dengan bermain tanpa penonton sebagaimana kami tak bisa mengeluarkan adanya potensi terorisme. Kalau kita bicara soal pertandingan yang dibatalkan seperti pertandingan persahabatan yang dipindahkan ke tanggal lain, secara jelas hal semacam itu tak bisa terjadi di Piala Eropa,” tutur Abete kepada Radio 24.

Selang beberapa waktu kemudian, UEFA mengeluarkan pernyataan bahwa mereka tak punya rencana menggelar Piala Eropa 2016 tanpa penonton.

“Kami percaya diri bahwa tindakan keamanan akan tepat untuk keamanan Piala Eropa dan tidak ada rencana untuk bertanding tanpa penonton,” tutur pernyataan resmi UEFA.

Pernyataan tersebut keluar karena UEFA telah memilah sejumlah rencana dalam kemungkinan terjadinya skenario-skenario ancaman keamanan.

Teroris Targetkan Piala Eropa 2016

Peneror yang menjadi otak serangan Tragedi Paris, tertangkap di Brussels. Berdasarkan hasil investigasi, ternyata mereka menargetkan Piala Eropa 2016 sebagai aksi teror selanjutnya.

Berdasarkan koran Prancis, Liberation, Mohamed Abrini yang ditangkap pada April silam mengaku bahwa ia sama sekali tak menargetkan Brussels, kota tempat persembunyiannya. Sebagai gantinya, ia dan sejumlah lainnya akan melancarkan serangan di Prancis.

“Berdasarkan informasi kami, Mohamed Abrini telah menjelaskan niat awal grup teroris ini adalah turnamen Piala Eropa,” tulis Liberation pada April silam.

Klaim tersebut tak mengagetkan buat Kepolisian Prancis. “Pihak keamanan selalu memeriksa kemungkinan skenario serangan dan tahu bagaimana caranya merespons,” tutur petugas kepolisian kepada Liberation.

Soal serangan di Bandara Brussels, hal tersebut tak lain sebagai respons panik dari para teroris saat mengetahui bahwa satu-satunya penyerang Paris yang masih hidup, Salah Abdeslam, ditangkap polisi. Mereka takut aksi mereka selanjutnya ketahuan, sehingga mereka mengubah target dan mulai menyerang Bandara Brussels serta sistem kereta bawah tanah Brussels yang mengakibatkan 32 orang tewas.

Tim investigasi melihat adanya hubungan yang jelas antara serangan di Brussels maupun di Paris yang keduanya diklaim oleh ISIS. Abrini sendiri merupakan kunci dari dua serangan di dua kota tersebut. Ia adalah bomber ketiga di Bandara Airport sebelum akhirnya menyerah di tangan kepolisian. Abrini pun terlibat dalam serangan di Paris sebagai pengendara mobil yang digunakan para pria bersenjata.

Dari hasil investigasi terungkap kalau para teroris ternyata mempunyai hubungan persaudaraan atau pertemanan. Hal ini membuat situasi keamanan di Eropa menjadi tidak kondusif karena ancaman serangan kian nyata.

Hal senada pun terjadi bagi penyelenggara Piala Eropa. Di tengah tidak kondusifnya keamanan karena teroris, mereka pun mesti berhadapan dengan sistem keamanan yang tidak maksimal menyusul buruknya pengamanan penyelenggaraan final French Cup.

Apakah ini menjadi sinyal kalau Prancis tidak siap menggelar hajatan besar di sepakbola Eropa?

Disadur dari The Guardian

foto: la-times.com

Komentar