Dilecehkan, Wasit Gay Pilih Pensiun

Berita

by Billi Pasha

Billi Pasha

Selalu menganggap sepakbola dan musik adalah dua hal paling indah di dunia

Dilecehkan, Wasit Gay Pilih Pensiun

Pelecehan terhadap wasit seolah menjadi hal yang biasa. Pasalnya, wasit mengemban tugas sebagai pengadil yang tanggung jawabnya begitu besar, serupa dengan risiko besar yang menaunginya pula. Dalam beberapa kasus, wasit acapkali menjadi kambing hitam atas keputusan-keputusan yang dianggap merugikan dan mengakibatkan kekalahan bagi sebuah klub.

Namun kasus yang berbeda dialami oleh Jesús Tomillero yang merupakan seorang wasit di Spanyol. Berbeda dari wasit pada umumnya, Tomillero telah mengakui dirinya sebagai gay dan menjadi wasit pertama yang mengumumkan dirinya sebagai penyuka sesama jenis. Perbedaan orientasi seksual tersebut menjadi sasaran empuk bagi oknum yang tak setuju dengan keputusannya saat berada di lapangan.

Tomillero mendalami profesi sebagai wasit ketika umurnya masih 11 tahun dan telah berkecimpung di Liga Regional Andalusia. Sebuah prestasi yang patut diapresiasi, akan tetapi kenyataan berkata lain. Ia telah mengalami pelecehan kala memimpin pertandingan yang mempertemukan Portuense dan San Fernando Isleño.

Kejadian bermula sewaktu ia mengambil keputusan untuk memberikan tendangan penalti pada laga yang digelar pada Sabtu lalu tersebut. Tak lama setelah itu, ia mendengar ungkapan kasar yang bernada melecehkan dari sisi penonton yang tak terima atas keputusannya tersebut.

Hal itu semakin menyakitkan baginya ketika semua orang tertawa setelah mendengar ejekan tersebut. Aksi tak mengenakan tersebut bukanlah yang pertama kali dialaminya. Sebelumnya ia juga telah mendapatkan perlakuan serupa oleh seorang kitman Peña Madridista Linense yang bermain di U-19 Liga Andalusia. Dengan aksinya tersebut, tersangka hanya dihukum larangan turut serta dalam sembilan pertandingan.

Ia mengatakan kepada surat kabar El Español bahwa dirinya telah mendapatkan pelecehan tersebut pada akhir Maret lalu dan kejadian yang terjadi kali ini semakin membuatnya merasa tak dihargai. Dukungan telah datang dari para wasit divisi pertama dan juga partai politik lokal di daerah La Línea. Akan tetapi hal tersebut tidak menyurutkan niatnya untuk mengundurkan diri sebagai wasit. Keputusannya telah bulat untuk meninggalkan dunia sepakbola.

Meski kasus tersebut terjadi di level bawah, namun sepakbola tetaplah sepakbola. Sebagai bagian dari elemen sepakbola adalah wajib hukumnya untuk menjunjung tinggi tentang rasa saling menghormati, baik itu terkait masalah LGBT ataupun SARA yang masih menjadi momok bagi segenap pelaku sepakbola. Karena FIFA punya jargon “Respect” yang mestinya bukan cuma ditempel di pinggir lapangan, tetapi juga diterapkan.

Kasus Tomillero adalah sebuah pelajaran bahwa sepakbola masih belum bisa terlepas dari stigma negatif yang melekat kepada pelaku sepakbola. Padahal, FIFA telah menggembar-gemborkan jargon "Respect" yang sepertinya tak ubahnya tempelan di kostum pemain maupun adboard di pinggir lapangan belaka.

Foto: pixabay, wikipedia

ed: fva

Komentar