CEO München Minta Pengundian Liga Champions Ditransformasi

Berita

by Abrar Firdiansyah

Abrar Firdiansyah

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

CEO München Minta Pengundian Liga Champions Ditransformasi

Duel panas yang mempertemukan tim-tim tangguh di babak 16 besar Liga Champions, seperti Paris Saint-Germain vs Chelsea, Barcelona vs Arsenal, dan Bayern Muenchen vs Juventus, membuat banyak pecinta sepakbola kecewa. Bagaimana tidak? Banyak orang yang lebih berharap duel sengit tersebut terjadi di perempatfinal atau pun semifinal agar kompetisi berakhir klimaks.

Kekecewaan atas bertemunya dua tim tangguh di fase awal knock-out Liga Champions, tidak hanya dirasakan oleh kalangan pecinta sepakbola. CEO Bayern Muenchen, Karl Heinz Rumenigge, pun merasakan hal yang sama. Eks pemain Internazionale Milan ini mengaku format Liga Champions, terutama pada drawing di fase knock out serta pembagian pot membuat kompetisi ini tak menarik. Ia mengatakan bahwa proses drawing saat ini membuat banyak tim kuat harus tersingkir di babak yang seharusnya dapat mereka lewati.

“Format drawing yang ada sekarang sama sekali tidak menguntungkan. Juventus dapat menjadi contoh, bagaimana tim yang tahun lalu bermain hingga babak final, tahun ini harus tersingkir di babak 16 besar,” ungkapnya kepada ESPNFC, Kamis (198/3) WIB.

“UEFA harus mulai mempertimbangkan mengenai sistem drawing yang mereka gunakan. Sebab, hal ini berpengaruh langsung ke kualitas kompetisi,” ujar Rumenigge. “Di kompetisi ini, banyak hal yang jadi pertimbangan. Di antaranya adalah pandangan orang terhadap kompetisi, keistimewaan yang dimiliki kompetisi, hingga uang yang dapat dihasilkan.”

Masalah pengundian memang menjadi sisi buruk kompetisi ini. Bagaimana tidak, pengundian yang dilakukan sejak fase kualifikasi pertama, kerap menimbulkan kontroversi. Babak grup yang biasanya dimulai pada pertengahan september, menjadi fase yang paling banyak mengundang kontroversi.

Kontroversi pada pengundian di babak grup sendiri tak bisa dilepaskan dari pembagian pot untuk masing-masing grup. Pembagian tim untuk masuk empat pot yang tersedia di babak ini, kerap mengundang kitik lantaran penentuan tim yang masuk pot bergantung pada keofisien klub dan prestasi masing-masing tim di Liga Champions.

Hal tersebut kadang membuat adanya grup neraka dan grup yang mudah. Pada Liga Champions 2014/2015, Manajer Manchester City, Manuel Pellegrini, sempat murka kepada UEFA lantaran hasil drawing yang diterima City sangat tidak menguntungkan. Pasalnya, City yang musim sebelumnya menjuarai Liga Primer Inggris harus menghadapi Bayern Muenchen, AS Roma, dan BATE Borisov. Sementara Arsenal yang musim sebelumnya berada di peringkat empat, hanya menghadapi Borussia Dortmund, Galatasaray, dan Anderlecht.

ed: fva

Komentar